<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Cakradyant&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://cakradyant.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cakradyant.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 11 Apr 2010 10:14:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='cakradyant.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/618ab7b6a0180d2390e542e25334cb92?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Cakradyant&#039;s Blog</title>
		<link>http://cakradyant.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://cakradyant.wordpress.com/osd.xml" title="Cakradyant&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://cakradyant.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Hachiko &#8220;Anjing setia dari jepang&#8221;</title>
		<link>http://cakradyant.wordpress.com/2010/04/11/hachiko-anjing-setia-dari-jepang/</link>
		<comments>http://cakradyant.wordpress.com/2010/04/11/hachiko-anjing-setia-dari-jepang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Apr 2010 10:14:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakradyant</dc:creator>
				<category><![CDATA[knowledge]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakradyant.wordpress.com/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[PATUNG HACHIKO Sejarah manusia akrab dengan penghianatan. Penghianatan baik terhadap sesama manusia , teman , sahabat , kekasih , keluarga , saudara , bangsa dan negaranya. Akechi Mitsuhide adalah Brutus-nya Jepang. Dia membokong sang majikan , Oda Nobunaga , dan merubah jalan sejarah Jepang untuk ke depannya. Wu San Gui “mempersilahkan” pasukan Manchu menjajah bangsanya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakradyant.wordpress.com&amp;blog=11845722&amp;post=66&amp;subd=cakradyant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;"><strong>PATUNG HACHIKO</strong></span><br />
<a href="http://2.bp.blogspot.com/_zyIENtX46fo/S7CTx1jADAI/AAAAAAAAAFo/3_a0oY6lGc4/s1600/hachikostatue.jpg"><img src="http://2.bp.blogspot.com/_zyIENtX46fo/S7CTx1jADAI/AAAAAAAAAFo/3_a0oY6lGc4/s320/hachikostatue.jpg" border="0" alt="" /></a></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#0000ff;">Sejarah manusia akrab dengan penghianatan. Penghianatan baik terhadap  sesama manusia , teman , sahabat , kekasih , keluarga , saudara , bangsa  dan negaranya.</p>
<p><span style="color:#ff0000;">Akechi Mitsuhide</span> adalah Brutus-nya Jepang. Dia  membokong sang majikan , Oda Nobunaga , dan merubah jalan sejarah Jepang  untuk ke depannya. Wu San Gui “mempersilahkan” pasukan Manchu menjajah  bangsanya. Berbagai kolaburator muncul di masa Perang Dunia II. Prancis  Vichy , Quisling di Norwegia . Judas Iskariot adalah contoh alkitabiah  bagaimana seorang guru di hianati murid.</p>
<p>Seiring peradaban  manusia yang melangkah maju seakan terjadi dekadensi moral . Saya  menyebutnya melangkah maju tapi mundur kebelakang  – moon walking. Tidak  saja penghianatan terjadi dalam konteks kebangsaan , keagamaan tapi  juga , fairya tale selebritis , sampai ke elemen terkecil dalam  masyarakat. Dimana nilai persahabatan tidak lagi yang terutama , dan  sudah terpolitisasi dengan nilai politik . Tidak ada kawan yang abadi  yang ada hanya kepentingan yang abadi.Baru saja terjadi di Indonesia .  Seorang mahasiswi di kampus ternama di Jakarta ,  di tusuk bertubi-tubi  oleh temannya .<br />
“Et Tu Brute” – Julius Caesar</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#0000ff;"></p>
<p><span id="more-66"></span>Seiring  peradaban manusia yang melangkah maju seakan terjadi dekadensi moral .  Saya menyebutnya melangkah maju tapi mundur kebelakang  – moon walking.  Tidak saja penghianatan terjadi dalam konteks kebangsaan , keagamaan  tapi juga , fairya tale selebritis , sampai ke elemen terkecil dalam  masyarakat. Dimana nilai persahabatan tidak lagi yang terutama , dan  sudah terpolitisasi dengan nilai politik . Tidak ada kawan yang abadi  yang ada hanya kepentingan yang abadi.Baru saja terjadi di Indonesia .  Seorang mahasiswi di kampus ternama di Jakarta ,  di tusuk bertubi-tubi  oleh temannya .</p>
<p>Manusia sudah mencapai puncak evolusinya sambil  moon walking. Dari wajah lugu Hominid , menjadi Homo Erectus , menjadi  Homo Sapiens , dan akhirnya ultimate primata , Homo Homini Lupus.</p>
<p>Akhirnya  segelintir manusia lebih takut kepada sesama manusia daripada setan  sekalipun. Beberapa lebih aman sembunyi dalam rumah , dalam kamar ,  membangun parit-parit perlindungan , membangun tembok berlin yang  membatasi dirinya dan sisa dunia. Suatu ketakutan yang wajar di kala  manusia sudah semakin beringas.</p>
<p>Suatu ketika bahkan mantan boss  saya berani menghardik salah seorang pegawainya.</p>
<p>” Aku lebih  baik bersahabat dengan seekor Anjing. Anjing akan setia pada siapa yang  merawat dan memberi makan.”</p>
<p><strong> <span style="color:#ff0000;"> Hachiko Monogatari</span></strong></p>
<p><a href="http://1.bp.blogspot.com/_zyIENtX46fo/S7CUvntM1uI/AAAAAAAAAFw/DHNN831lfm0/s1600/hachiko.jpg"><img class="aligncenter" src="http://1.bp.blogspot.com/_zyIENtX46fo/S7CUvntM1uI/AAAAAAAAAFw/DHNN831lfm0/s320/hachiko.jpg" border="0" alt="" /></a></span><span style="color:#0000ff;"></p>
<p>Hachiko  Monogatari adalah kisah kesetiaan seekor Anjing. Harian terkenal  menyebutnya sebagai “remarkable loyalty”. Hachiko ini menjadi mendunia  sejak puluhan tahun kematiannya. Seekor anjing yang protagonis ketimbang  antagonisnya para penghuni kuil Yasukuni. Holywood sampai memandang  perlu melakukan remake ulang film Hachiko.</p>
<p>Hachiko adalah seekor  anjing jantan dari ras Akita Inu. Dia lahir di bulan Oktober tahun 1923.  Pemiliknya adalah seorang Professor Agrikultur di Universitas Tokyo ,  Hidesaburo Ueno. Kegiatan sehari-hari Hachiko adalah menunggu kedatangan  majikannya pulang dan memberi salam.</p>
<p>Suatu hari di tahun 1925 ,  majikannya tidak pernah kembali lagi. Hachiko sempat berpindah-pindah ke  tempat yang bersedia menampungnya. Hachiko yang terbiasa menunggu  majikannya mulai resah dan mencari di stasiun kereta Shibuya , tempat di  mana Hachiko sering di ajak majikannya. Dan itu di lakukan setiap hari  selama sembilan tahun hingga akhir hayatnya.Para penumpang kereta juga  terbiasa melihat Hachiko dan sering memberi makan selama Hachiko  menunggu majikannya dengan sia-sia.</p>
<p>Hachiko Monogatari ini  menjadi terkenal sejak seorang bekas anak didik profesor mempublikasikan  artikel-artikel mengenai Hachiko. Dan salah satu artikelnya di muat di  harian terbesar di Jepang pada masa itu, Asahi Shimbun. Segera Hachiko  menjadi pusat perhatian nasional. Nama Hachi resmi menjadi Hachiko  (tambahan “ko”).</p>
<p>Di tahun 1937. Kisah Hachiko, “On o wasureruna”   juga menjadi bacaan wajib bagi sekolah sekolah dasar di Jepang.  Menanamkan nilai -nilai kesetiaan pada pelajar sejak dini. Kisah Hachiko  juga menjadi simbol kesetiaan bagi bangsa Jepang.</p>
<p>Di tahun 1934.  Seorang master seni , membuatkan patung untuk Hachiko di kawasan  Shibuya . Hachiko sendiri turut menyaksikan bersama 300 orang lainnya.   Dan Patung itu kini menjadi pusat perayaan setiap tanggal 8 Maret ,  sebuah perayaan untuk devosi terhadap Hachiko. Hachiko sekarang berada  di Museum Nasional Jepang di Ueno.</p>
<p>Saat Holywood memfilmkan  Hachiko dan di bintangi oleh Richard Gere. Japan Times menyebutnya  sebagai “Hollywood the latest to fall for tale of Hachiko” , sebagai  bukti bahwa Hachiko Monogatari sudah mendunia dan juga menginspirasi  dunia.</p>
<p>“Hollywood the latest to fall for tale of Hachiko” –  Japan Times 2009</p>
<p>Dan Richard Gere menangis saat membaca pertama  kali kisah Hachiko ini.Dia menangis seperti bayi dan terus menangis saat  membacanya kembali. Gere menggambarkannya sebagai “love story” terlepas  dari urusan gender dan spesies</p>
<p>“I cried like a baby” when  reading the script, Gere said. “I wasn’t sure if it was just a very  sensitive reaction I had that day, so I read it again a few days later  and had the same reaction.”This is a love story,” said Gere, who plays  the professor. “It has nothing to do with gender or species.” – CBS News</p>
<p>Hachiko  Monogatari seakan menghardik manusia tentang kemanusiaan. Bagaimana  seekor anjing bisa mengalahkan manusia dalam soal esensi kemanusiaan ,  yaitu persahabatan. Bagaimana persahabatan menjadi langka di saat  manusia menjadi semakin beringas.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakradyant.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakradyant.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakradyant.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakradyant.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cakradyant.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cakradyant.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cakradyant.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cakradyant.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakradyant.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakradyant.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakradyant.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakradyant.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakradyant.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakradyant.wordpress.com/66/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakradyant.wordpress.com&amp;blog=11845722&amp;post=66&amp;subd=cakradyant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakradyant.wordpress.com/2010/04/11/hachiko-anjing-setia-dari-jepang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fd55fedb4577ed5e006373db13073443?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cakradyant</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://2.bp.blogspot.com/_zyIENtX46fo/S7CTx1jADAI/AAAAAAAAAFo/3_a0oY6lGc4/s320/hachikostatue.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://1.bp.blogspot.com/_zyIENtX46fo/S7CUvntM1uI/AAAAAAAAAFw/DHNN831lfm0/s320/hachiko.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Hal pembatal keIslaman</title>
		<link>http://cakradyant.wordpress.com/2010/04/03/hal-pembatal-keislaman/</link>
		<comments>http://cakradyant.wordpress.com/2010/04/03/hal-pembatal-keislaman/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Apr 2010 08:41:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakradyant</dc:creator>
				<category><![CDATA[knowledge]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakradyant.wordpress.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Hal- Hal Yang Dapat Membatalkan Keislaman Segala puji bagi Allah (Subhanahu wa Ta’ala) , Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada nabi yang terahir Muhammad (Shalallahu ‘alaihi Wassalam), para keluarga dan para Sahabat beliau, serta kepada orang- orang yang setia mengikuti petunjuk beliau. Selanjutnya : ketahuilah, wahai saudaraku kaum muslimin, bahwa Allah (Subhanahu wa Ta’ala) telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakradyant.wordpress.com&amp;blog=11845722&amp;post=63&amp;subd=cakradyant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Hal- Hal Yang Dapat Membatalkan Keislaman</strong></span></p>
<p>Segala  puji bagi Allah (Subhanahu wa Ta’ala) , Shalawat dan salam semoga  dilimpahkan kepada nabi yang terahir Muhammad (Shalallahu ‘alaihi  Wassalam), para keluarga dan para Sahabat beliau, serta kepada orang-  orang yang setia mengikuti petunjuk beliau.</p>
<p>Selanjutnya :  ketahuilah, wahai saudaraku kaum muslimin, bahwa Allah (Subhanahu wa  Ta’ala) telah mewajibkan kepada seluruh hamba – hambaNya untuk masuk ke  dalam agama Islam dan berpegang teguh denganya serta berhati –hati untuk  tidak menyimpang darinya.</p>
<p>Allah juga telah mengutus NabiNya  Muhammad (Shalallahu ‘alaihi Wassalam) untuk berdakwah ke dalam hal ini,  dan memberitahukan bahwa barangsiapa bersedia mengikutinya akan  mendapatkan petunjuk dan barangsiapa yang menolaknya akan sesat.</p>
<p>Allah  juga mengingatkan dalam banyak ayat- ayat Al-Qur’an untuk menghindari  sebab- sebab kemurtadan, segala macam kemusyrikan dan kekafiran.</p>
<p>Para  ulama rahimahumullah telah menyebutkan dalam bab hukum kemurtadan,  bahwa seorang muslim bisa di anggap murtad ( keluar dari agama Islam)  dengan berbagai macam hal yang membatalkan keislaman, yang menyebabkan  halal darah dan hartanya dan di anggap keluar dari agama Islam.</p>
<p>Yang  paling berbahaya dan yang paling banyak terjadi ada sepuluh hal, yang  di sebutkan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para ulama lainnya,  dan kami sebutkan secara ringkas, dengan sedikit tambahan penjelasan  untuk anda, agar anda dan orang – orang selain anda berhati hati dari  hal ini, dengan harapan dapat selamat dan terbebas darinya.</p>
<p><span style="color:#ff00ff;"><span style="text-decoration:underline;"><strong><span id="more-63"></span><!--more-->Pertama:</strong></span></span></p>
<p>Diantara  sepuluh hal yang membatalkan keislaman tersebut adalah mempersekutukan  Allah (Subhanahu wa Ta’ala) ( syirik ) dalam beribadah.</p>
<p>Allah  (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman:</p>
<p>إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر  ما دون ذلك لمن يشاء[ سورة النساء، الآية : 116</p>
<p>“ Sesungguhnya  Allah (Subhanahu wa Ta’ala) tidak mengampuni dosa syirik(menyekutukan )  kepadaNya, tetapi mengampuni dosa selain itu, kepada orang – orang yang  dikehendakinya “.( Annisa’ ayat : 116)</p>
<p>Allah (Subhanahu wa  Ta’ala) berfirman:</p>
<p>إنه من يشرك بالله فقد حرم الله عليه الجنة  ومأواه النار وما للظالمين من أنصار[ سورة المائدة : 72.</p>
<p>“  sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, niscaya Allah akan  mengharamkan surga baginya, dan tempat tinggalnya (kelak) adalah neraka,  dan tiada seorang penolong pun bagi orang – orang zhalim” .( Al- Maidah  : 72).</p>
<p>Dan di antara perbuatan kemusyrikan tersebut adalah ;  meminta do’a dan pertolongan kepada orang- orang yang telah mati,  bernadzar dan menyembelih korban untuk mereka.</p>
<p><span style="color:#ff00ff;">Kedua:</span></p>
<p>Menjadikan  sesuatu sebagai perantara antara dirinya dengan Allah (Subhanahu wa  Ta’ala), meminta do’a dan syafaat serta bertawakkal ( berserah diri )  kepada perantara tersebut.</p>
<p>Orang yang melakukan hal itu, menurut  ijma’ ulama ( kesepakatan) para ulama, adalah kafir.</p>
<p><span style="color:#ff00ff;">Ketiga :</span></p>
<p>Tidak  menganggap kafir orang- orang musyrik, atau ragu atas kekafiran mereka,  atau membenarkan konsep mereka. Orang yang demikian ini adalah kafir.<br />
<span style="color:#ff00ff;"><br />
Keempat:</span></p>
<p>Berkeyakinan  bahwa tuntunan selain tuntunan Nabi Muhammad (Shalallahu ‘alaihi  Wassalam) lebih sempurna, atau berkeyakinan bahwa hukum selain dari  beliau lebih baik, seperti ; mereka yang mengutamakan aturan – aturan  thaghut (aturan aturan manusia yang melampaui batas serta menyimpang  dari hukum Allah ), dan mengesampingkan hukum Rasulullah (Shalallahu  ‘alaihi Wassalam) , maka orang yang berkeyakinan demikian adalah kafir.</p>
<p><span style="color:#ff00ff;">Kelima  :</span></p>
<p>Membenci sesuatu yang telah ditetapkan oleh Rasulullah  (Shalallahu ‘alaihi Wassalam) , meskipun ia sendiri mengamalkannya.  Orang yang sedemikian ini adalah kafir. Karena Allah (Subhanahu wa  Ta’ala) telah berfirman :</p>
<p>ذلك بأنهم كرهوا ما أنزل الله فأحبط  أعمالهم [ سورة محمد, الآية : 9.</p>
<p>Demikian itu adalah dikarenakan  mereka benci terhadap apa yang di turunkan oleh Allah (Subhanahu wa  Ta’ala), maka Allah (Subhanahu wa Ta’ala) menghapuskan (pahala ) segala  amal perbuatan mereka”. ( Muhammad : 9).</p>
<p><span style="color:#ff00ff;">Keenam:</span></p>
<p>Memperolok–olok  sesuatu dari ajaran Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi Wassalam), atau  memperolok – olok pahala maupun siksaan yang telah menjadi ketetapan  agama Allah (Subhanahu wa Ta’ala), maka orang yang demikian menjadi  kafir, karena Allah (Subhanahu wa Ta’ala) telah berfirman :</p>
<p>قل  أبالله وآياته ورسوله كنتم تستهزئون لا تعتذروا قد كفرتم بعد إيمانكم [  سورة التوبة، الآية : 65-66.</p>
<p>“ katakanlah ( wahai Muhammad )  terhadap Allah kah dan ayat – ayat Nya serta RasulNya kalian memperolok –  olok ? tiada arti kalian meminta maaf, karena kamutelah kafir setelah  beriman “ . (At- Taubah : 65- 66).</p>
<p><span style="color:#ff00ff;">Ketujuh :</span></p>
<p>Sihir di  antaranya adalah ilmu guna-guna yang merobah kecintaan seorang suami  terhadap istrinya menjadi kebencian, atau yang menjadikan seseorang  mencintai orang lain, atau sesuatu yang di bencinya dengan cara  syaitani.dan orang yang melakukan hal itu adalah kafir, karena Allah  (Subhanahu wa Ta’ala) telah berfirman :</p>
<p>وما يعلمان من أحد حتى  يقولا إنما نحن فتنة فلا تكفر[ سورة البقرة، الآية : 102.</p>
<p>” Sedang  kedua malaikat itu tidak mengajarkan (suatu sihir) kepada seorangpun,  sebelum mengatakan: sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu, sebab itu  janganlah kamu kafir “.( Al-Baqarah : 102.)</p>
<p><span style="color:#ff00ff;">Kedelapan:</span></p>
<p>Membantu  dan menolong orang-orang musyrik untuk memusuhi kaum muslimin. Allah  (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman:</p>
<p>ومن يتولّهم منكم فإنه منهم إن  الله لا يهدي القوم الظالمين [ سورة المائة، الآية : 51.</p>
<p>“ Dan  barang siapa diantara kamu mengambil mereka (Yahudi dan Nasrani )  menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang tersebut termasuk golongan  mereka. sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang – orang  yang zhalim” .( Al- Maidah: 51).<br />
<span style="color:#ff00ff;"><br />
Kesembilan:</span></p>
<p>Berkeyakinan  bahwa sebagian manusia diperbolehkan tidak mengikuti syari’at Nabi  Muhammad (Shalallahu ‘alaihi Wassalam) , maka yang berkeyakinan seperti  ini adalah kafir. Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman :</p>
<p>ومن  يبتغ غير الإسلام دينا فلن يقبل منه وهو في الآخرة من الخاسرين [ سورة آل  عمران: 85.</p>
<p>“Barang siapa menghendaki suatu agama selain Islam,  maka tidak akan diterima agama itu dari padanya, dan ia di akhirat  tergolong orang- orang yang merugi”.( Ali- Imran: 85).</p>
<p><span style="color:#ff00ff;">Kesepuluh :</span></p>
<p>Berpaling  dari ِِAgama Allah (Subhanahu wa Ta’ala); dengan tanpa mempelajari dan  tanpa melaksanakan ajarannya. Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman :</p>
<p>(  ومن أظلم ممن ذكر بآيات ربه ثم أعرض عنها إنَّا من المجرمين منتقمون[ سورة  السجدة : 22.</p>
<p>“ Tiada yang lebih zhalim dari pada orang yang  telah mendapatkan peringatan melalui ayat – ayat Tuhannya, kemudian ia  berpaling dari padanya. Sesungguhnya kami minimpakan pembalasan kepada  orang yang berdosa “. ( As- Sajadah : 22).</p>
<p>Dalam hal- hal yang  membatalkan keislaman ini , tak ada perbedaan hukum antara yang  main-main, yang sungguh- sungguh ( yang sengaja melanggar ) ataupun yang  takut, kecuali orang yang di paksa. Semua itu merupakan hal- hal yang  paling berbahaya dan paling sering terjadi. Maka setiap muslim hendaknya  menghindari dan takut darinya. Kita berlindung kepada Allah (Subhanahu  wa Ta’ala) dari hal- hal yang mendatangkan kemurkaan Nya dan kepedihan  siksaanNya. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada makhluk Nya  yang terbaik, para keluarga dan para sahabat beliau. Dengan ini maka  habis dan selesai kata-katanya. Rahimahullah.</p>
<p>Kami mohon  kepada Allah (Subhanahu wa Ta’ala) agar memberi taufiq kepada kita semua  untuk setiap hal yang di ridhai Nya, dan memberi petunjuk kepada kita  dan kepada seluruh umat Islam jalannya yang lurus. Sesungguhnya Allah  (Subhanahu wa Ta’ala) adalah Maha Mendengar dan maha Dekat. Shalawat dan  salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad (Shalallahu ‘alaihi  Wassalam), kepada para keluarga dan para shahabat beliau.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakradyant.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakradyant.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakradyant.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakradyant.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cakradyant.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cakradyant.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cakradyant.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cakradyant.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakradyant.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakradyant.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakradyant.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakradyant.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakradyant.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakradyant.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakradyant.wordpress.com&amp;blog=11845722&amp;post=63&amp;subd=cakradyant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakradyant.wordpress.com/2010/04/03/hal-pembatal-keislaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fd55fedb4577ed5e006373db13073443?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cakradyant</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Asal Mula Hacker</title>
		<link>http://cakradyant.wordpress.com/2010/04/03/asal-mula-hacker/</link>
		<comments>http://cakradyant.wordpress.com/2010/04/03/asal-mula-hacker/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Apr 2010 08:32:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakradyant</dc:creator>
				<category><![CDATA[knowledge]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakradyant.wordpress.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Hacker muncul pada awal tahun 1960-an diantara para anggota organisasi mahasiswa Tech Model Railroad Club di Laboratorium Kecerdasan Artifisial Massachusetts Institute of Technology (MIT). Kelompok mahasiswa tersebut merupakan salah satu perintis perkembangan teknologi komputer dan mereka beroperasi dengan sejumlah komputer mainframe. Kata hacker pertama kali muncul dengan arti positif untuk menyebut seorang anggota yang memiliki [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakradyant.wordpress.com&amp;blog=11845722&amp;post=60&amp;subd=cakradyant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff00ff;"><img src="/DOCUME%7E1/yy/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-19.png" alt="" /><img src="/DOCUME%7E1/yy/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-20.png" alt="" /><img src="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:CQgiVnjQFgFEjM::api.ning.com/files/6DjVVX286rRkoOCFtoy7FAIGEkxWQrfbilqk-lczY536JxdaJGLTuUN3OzfTlL-cFbevX2A5WRizxHhe59qeRhmWW0fX0Ayr/241180672_704377ffc2.jpg&amp;t=1&amp;h=250&amp;w=202&amp;usg=__o_X390OSjnKgNFqVHcpwvL_ZhuQ=" alt="" width="313" height="389" /></span></p>
<p><span style="color:#ff00ff;">Hacker muncul pada awal tahun  1960-an diantara para anggota organisasi mahasiswa Tech Model Railroad  Club di Laboratorium Kecerdasan Artifisial Massachusetts Institute of  Technology (MIT). Kelompok mahasiswa tersebut merupakan salah satu  perintis perkembangan teknologi komputer dan mereka beroperasi dengan  sejumlah komputer mainframe. Kata hacker pertama kali muncul dengan  arti positif untuk menyebut  seorang anggota yang memiliki keahlian dalam bidang komputer dan mampu  membuat program komputer yang lebih baik dari yang telah dirancang  bersama. Kemudian pada tahun 1983, analogi hacker semakin berkembang  untuk menyebut seseorang yang memiliki obsesi untuk memahami dan  menguasai sistem komputer. Pasalnya, pada tahun tersebut untuk pertama  kalinya FBI menangkap kelompok kriminal komputer The 414s yang berbasis  di Milwaukee AS. 414 merupakan kode area lokal mereka. Kelompok yang  kemudian disebut hacker tersebut dinyatakan bersalah atas pembobolan 60  buah komputer, dari komputer milik Pusat Kanker Memorial Sloan-Kettering  hingga komputer milik Laboratorium Nasional Los Alamos. Salah seorang  dari antara pelaku tersebut mendapatkan kekebalan karena testimonialnya,  sedangkan 5 pelaku lainnya mendapatkan hukuman masa percobaan.</span></p>
<p><span style="color:#ff00ff;"><span id="more-60"></span></span></p>
<p><span style="color:#ff00ff;">Kemudian pada perkembangan selanjutnya muncul  kelompok lain yang menyebut-nyebut diri hacker, padahal bukan. Mereka  ini (terutama para pria dewasa) yang mendapat kepuasan lewat membobol  komputer dan mengakali telepon (phreaking). Hacker sejati menyebut  orang-orang ini ‘cracker’ dan tidak suka bergaul dengan mereka. Hacker  sejati memandang cracker sebagai orang malas, tidak<br />
bertanggung jawab, dan tidak terlalu cerdas. Hacker sejati tidak setuju  jika dikatakan bahwa dengan menerobos keamanan seseorang telah menjadi  hacker.</span></p>
<p><span style="color:#ff00ff;">Para hacker mengadakan pertemuan setiap setahun  sekali yaitu diadakan setiap pertengahan bulan Juli di Las Vegas. Ajang  pertemuan hacker terbesar di dunia tersebut dinamakan Def Con. Acara Def  Con tersebut lebih kepada ajang pertukaran informasi dan teknologi yang  berkaitan dengan aktivitas hacking.</span></p>
<p><span style="color:#ff00ff;">Hacker adalah sebutan untuk mereka yang memberikan  sumbangan yang bermanfaat kepada jaringan komputer, membuat program  kecil dan membagikannya dengan orang-orang di Internet. Sebagai contoh :  digigumi (Grup Digital) adalah sebuah kelompok yang mengkhususkan diri  bergerak dalam bidang game dan komputer. Digigumi ini menggunakan teknik  teknik hexadecimal untuk mengubah teks yang terdapat di dalam game.  Contohnya, game Chrono Trigger berbahasa Inggris dapat diubah menjadi  bahasa Indonesia. Oleh karena itu, status Digigumi adalah hacker, namun  bukan sebagai perusak. Hacker disini artinya, mencari, mempelajari dan  mengubah sesuatu untuk keperluan hobi dan pengembangan dengan mengikuti  legalitas yang telah ditentukan oleh developer game. Para hacker  biasanya melakukan penyusupan-penyusupan dengan maksud memuaskan  pengetahuan dan teknik. Rata – rata perusahaan yang bergerak di dunia  jaringan global (internet) juga memiliki hacker. Tugasnya yaitu untuk  menjaga jaringan dari kemungkinan perusakan pihak luar “cracker”,  menguji jaringan dari kemungkinan lobang yang menjadi peluang para  cracker mengobrak – abrik jaringannya, sebagai contoh : perusahaan  asuransi dan auditing “Price Waterhouse”. Ia memiliki team hacker yang  disebut dengan Tiger Team. Mereka bekerja untuk menguji sistem sekuriti  client mereka.</span></p>
<p><span style="color:#ff00ff;">Cracker adalah sebutan untuk mereka yang masuk ke  sistem orang lain dan cracker lebih bersifat destruktif, biasanya di  jaringan komputer, mem-bypass password atau lisensi program komputer,  secara sengaja melawan keamanan komputer, men-deface (merubah halaman  muka web) milik orang lain bahkan hingga men-delete data orang lain,  mencuri data dan umumnya melakukan cracking untuk keuntungan sendiri,  maksud jahat, atau karena sebab lainnya karena ada tantangan. Beberapa  proses pembobolan dilakukan untuk menunjukan kelemahan keamanan sistem.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakradyant.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakradyant.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakradyant.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakradyant.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cakradyant.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cakradyant.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cakradyant.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cakradyant.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakradyant.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakradyant.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakradyant.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakradyant.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakradyant.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakradyant.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakradyant.wordpress.com&amp;blog=11845722&amp;post=60&amp;subd=cakradyant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakradyant.wordpress.com/2010/04/03/asal-mula-hacker/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fd55fedb4577ed5e006373db13073443?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cakradyant</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME%7E1/yy/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-19.png" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME%7E1/yy/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-20.png" medium="image" />

		<media:content url="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:CQgiVnjQFgFEjM::api.ning.com/files/6DjVVX286rRkoOCFtoy7FAIGEkxWQrfbilqk-lczY536JxdaJGLTuUN3OzfTlL-cFbevX2A5WRizxHhe59qeRhmWW0fX0Ayr/241180672_704377ffc2.jpg&#38;t=1&#38;h=250&#38;w=202&#38;usg=__o_X390OSjnKgNFqVHcpwvL_ZhuQ=" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Oprah Winfrey</title>
		<link>http://cakradyant.wordpress.com/2010/04/01/oprah-winfrey/</link>
		<comments>http://cakradyant.wordpress.com/2010/04/01/oprah-winfrey/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Apr 2010 15:16:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakradyant</dc:creator>
				<category><![CDATA[knowledge]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakradyant.wordpress.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Oprah Gail Winfrey (lahir di Kosciusko, Mississippi, Amerika Serikat, 29 Januari 1954; umur 56 tahun) adalah seorang selebriti dan pengusaha Amerika Serikat yang namanya melambung setelah membawakan sebuah acara bincang-bincang yang sangat populer, The Oprah Winfrey Show. Dengan kekayaan sekitar 1,3 milyar dolar AS, ia masuk dalam daftar milyarder di dunia. Orangtuanya Oprah Winfrey bermaksud [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakradyant.wordpress.com&amp;blog=11845722&amp;post=57&amp;subd=cakradyant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img src="http://4.bp.blogspot.com/_PkX3AmvDeJc/SWtTx0ZLxNI/AAAAAAAAAnU/VQb9TYG2-1g/s400/oprah-winfrey.jpg" alt="" width="280" height="400" /></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Oprah Gail Winfrey</strong> (lahir di <a title="Kosciusko, Mississippi (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kosciusko,_Mississippi&amp;action=edit&amp;redlink=1">Kosciusko</a>, <a title="Mississippi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mississippi">Mississippi</a>, Amerika Serikat, <a title="29 Januari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/29_Januari">29 Januari</a> <a title="1954" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1954">1954</a>; umur 56 tahun) adalah seorang <a title="Selebriti" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Selebriti">selebriti</a> dan pengusaha <a title="Amerika Serikat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Serikat">Amerika Serikat</a> yang namanya melambung setelah membawakan sebuah acara bincang-bincang yang sangat populer, <em><a title="The Oprah Winfrey Show" href="http://id.wikipedia.org/wiki/The_Oprah_Winfrey_Show">The Oprah Winfrey Show</a></em>.</p>
<p style="text-align:center;">Dengan kekayaan sekitar 1,3 milyar <a title="Dolar AS" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dolar_AS">dolar AS</a>, ia masuk dalam <a title="Daftar milyarder" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_milyarder">daftar milyarder</a> di dunia.</p>
<p style="text-align:center;">Orangtuanya Oprah Winfrey bermaksud menamainya Orpah, seperti yang terdapat di dalam Alkitab, tetapi sang bidan yang mencatat kelahiran itu tidak dapat mengeja dengan baik, sehingga namanya menjadi Oprah Winfrey.</p>
<p style="text-align:center;"><span id="more-57"></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Masa Kecil Oprah </strong></span></p>
<p style="text-align:center;">Oprah lahir pada tanggal <a title="29 Januari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/29_Januari">29 Januari</a> <a title="1954" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1954">1954</a> di <a title="Kosciusko, Mississippi (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kosciusko,_Mississippi&amp;action=edit&amp;redlink=1">Kosciusko, Mississippi</a>, ia dibesarkan di sebuah perternakan oleh neneknya yang keras (Hattie Mae) selama enam tahun.</p>
<p style="text-align:center;">Ketika berusia enam tahun, ibunya, Vernita, mendapatkan pekerjaan sebagai <a title="Pembantu rumah tangga" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pembantu_rumah_tangga">pembantu</a> di <a title="Milwaukee" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Milwaukee">Milwaukee</a>, <a title="Wisconsin" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wisconsin">Wisconsin</a> dan akhirnya mengambil Oprah kembali dari neneknya. Di Milwaukee, ia harus tinggal dalam satu kamar bersama ibu dan dua saudara tiri, laki – laki dan perempuan. Setiap hari Vernita meninggalkan anak-anak itu pagi-pagi sekali dan baru pulang pada malam hari, sehingga ia tidak punya waktu untuk keluarganya.</p>
<p style="text-align:center;">Agar ibunya memperhatikannya, Oprah sering kabur dari rumah. Pada usianya yang ke-9, ia mengalami <a title="Pelecehan seksual" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pelecehan_seksual">pelecehan seksual</a> oleh sepupunya yang berusia 19 tahun yang sedang bertugas menjaganya. Oprah yakin itu kesalahannya dan tidak menceritakan apa yang ia alami kepada siapapun.</p>
<p style="text-align:center;">Menginjak usia 14 tahun, Oprah <a title="Hamil" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hamil">hamil</a> dan bayinya meninggal tidak lama setelah dilahirkan. Ketika Oprah melarikan diri selama satu minggu, ibunya memutuskan untuk mengirim Oprah hidup bersama ayahnya di <a title="Nashville (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Nashville&amp;action=edit&amp;redlink=1">Nashville</a>. Oprah yang benar–benar takut dengan ayahnya, kalau sampai ia sanggup tinggal bersama ayahnya, ia akan merubah hidupnya, ia akan menunjukan siapa dia yang sebenarnya.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Masa Remaja</strong></span></p>
<p style="text-align:center;">Pada umur 14 tahun, Oprah tinggal bersama ayahnya (<a title="Vernon Winfrey (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Vernon_Winfrey&amp;action=edit&amp;redlink=1">Vernon Winfrey</a>) dan ibu tiri nya (<a title="Zelma (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Zelma&amp;action=edit&amp;redlink=1">Zelma</a>) yang merupakan anggota terhormat masyarakat <a title="Tennessee" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tennessee">Tennessee</a>.</p>
<p style="text-align:center;">Ayah Oprah tidak bisa mentoleransi sikap negatif Oprah atau nilai sekolahnya yang buruk. Oprah memperoleh nilai – nilai C di Milwaukee, tetapi hanya nilai A yang bisa diterima oleh ayahnya.</p>
<p style="text-align:center;">Awalnya, Oprah benci pada aturan tegas dan harapan tinggi mereka. Tapi, ternyata justru itulah yang ia perlukan, orangtua yang membuat peraturan dan menerapkannya dengan tegas, tapi juga memberikan cinta dan perhatian yang diinginkannya. Oprah pun bangkit.</p>
<p style="text-align:center;">Tidak saja nilai sekolahnya yang meroket, Oprah juga jadi lebih ramah dan <a title="Populer (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Populer&amp;action=edit&amp;redlink=1">populer</a> daripada sebelumnya.</p>
<p style="text-align:center;">Pada usia 16 tahun, Oprah menempuh perjalanan ke <a title="Los Angeles" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Los_Angeles">Los Angeles</a> untuk menjadi pembicara di suatu <a title="Gereja" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gereja">gereja</a>.</p>
<p style="text-align:center;">Pada usia 17 tahun, dia memperoleh pekerjaan pertamanya di dunia pertunjukan sebagai <a title="Penyiar berita" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Penyiar_berita">penyiar berita</a> di <a title="Stasiun radio" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_radio">stasiun radio</a> lokal. Mereka bahkan membayarnya $100 per minggu, yang terhitung besar buat siswa sekolah menengah pada tahun 1970-an.Pada usianya yang ke-19, ia ditemukan oleh sebuah stasiun televisi di <a title="Nashille (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Nashille&amp;action=edit&amp;redlink=1">Nashille</a> untuk dipekerjakan sebagi wartawan dan penyiar berita.</p>
<h3 style="text-align:center;"><span style="text-decoration:underline;">The Oprah Winfrey Show</span></h3>
<p style="text-align:center;">Pada <a title="1976" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1976">1976</a>, Oprah menjadi pembawa acara TV di <a title="Baltimore" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Baltimore">Baltimore</a> dan kemudian dipromosikan sebagai pendamping pemandu acara bincang-bincang pagi (<em>talk show</em>) yang bernama <em>People Are Talking</em> (Orang–orang Mulai Berbicara).</p>
<p style="text-align:center;">Pada <a title="1984" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1984">1984</a>, Oprah mendapatkan terobosan besar. Dia diminta menjadi pemandu acaranya sendiri disebuah Chicago. Acara A. M. Chicago mengudara pada waktu yang sama dengan acara <a title="Phill Donahue Show (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Phill_Donahue_Show&amp;action=edit&amp;redlink=1">Phill Donahue Show</a> yang populer.tetapi tidak butuh waktu lama bagi Oprah untuk menurunkan Phill dan takhtanya. Dalam waktu singkat dia menjadi bintang di 120 kota besar di seluruh Amerika.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>The Oprah Winfrey Show</strong> membuat debut nasional pertamanya pada tahun <a title="1986" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1986">1986</a>, dan meraih sukses dengan cepat dengan menjadi pertunjukan yang paling populer di televisi, menjadikannya wanita kulit hitam yang bangkit dari kemiskinan dan menjadi bintang dengan bayaran tertinggi.</p>
<p style="text-align:center;">The Oprah Winfrey Show menjadi talk show nomer satu saat itu,Acara ini di tonton oleh 48 juta pemirsa setiap minggunya di Amerika dan disiarkan secara internasional di 126 negara.</p>
<h3 style="text-align:center;"><span style="text-decoration:underline;">Pendiri Majalah dan Direktur Editorial</span></h3>
<p style="text-align:center;">Pada bulan April tahun <a title="2000" href="http://id.wikipedia.org/wiki/2000">2000</a>, Oprah dan Majalah Hearts memperkenalkan <strong>O</strong>, <em>The Oprah Magazine</em>,Majalah tersebut menjadi majalah yang sukses dalam sejarah penerbitan dengan sirkulasi 2,3 juta pembaca setiap bulannya.</p>
<p style="text-align:center;">Di April <a title="2002" href="http://id.wikipedia.org/wiki/2002">2002</a>, Oprah meluncurkan edisi pertama internasional dari O, <em>The Oprah Magazine</em> di <a title="Afrika Selatan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Afrika_Selatan">Afrika Selatan</a>.</p>
<h3 style="text-align:center;"><span style="text-decoration:underline;">Aktris dan Produser</span></h3>
<p style="text-align:center;">Oprah merealisasikan impian masa kanak-kanaknya untuk menjadi seorang bintang film, dengan berakting dalam drama milik beberapa penulis brilian, melalui perusahaan filmnya, Harpo Productions:</p>
<ul style="text-align:center;">
<li>The Color Purple (1985)</li>
<li>Native Son, The Women of Brewster Place (1989)</li>
<li>Before Women Had Wings(1997)</li>
<li>Beloved (1998)</li>
</ul>
<p style="text-align:center;">Oprah juga menjadi Produser Broadway theatre <em>&#8220;The Color Purple&#8221;</em>, membuat situsnya sendiri (oprah.com), dan memiliki radio satelit <em>Oprah and Friends</em>.</p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Penghargaan</span></strong></p>
<ul style="text-align:center;">
<li><a title="2006" href="http://id.wikipedia.org/wiki/2006">2006</a></li>
</ul>
<dl>
<dd>Majalah Time — 100 Orang yang Paling Berpengaruh di Seluruh Dunia.</dd>
<dd>Library Lion 2006 dari Perpustakaan Publik New York (<em>The New York Public Library</em>).</dd>
</dl>
<ul style="text-align:center;">
<li><a title="2005" href="http://id.wikipedia.org/wiki/2005">2005</a></li>
</ul>
<dl>
<dd>2005 National Freedom Award dari Musium Hak-hak Sipil Nasional (<em>National Civil Rights Museum</em>)</dd>
<dd>National Association for the Advancement of Colored People — Hall of Fame</dd>
<dd>Majalah Time — 100 Orang yang Paling Berpengaruh di Seluruh Dunia.</dd>
<dd>2005 International Emmy Founders Award dari International Academy of Television Arts &amp; Sciences.</dd>
</dl>
<ul style="text-align:center;">
<li><a title="2004" href="http://id.wikipedia.org/wiki/2004">2004</a></li>
</ul>
<dl>
<dd>Penghargaan Global Aksi-aksi Kemanusiaan (<em>Global Humanitarian Action Award</em> ) dari Asosiasi <a title="PBB" href="http://id.wikipedia.org/wiki/PBB">PBB</a> Amerika (<em>United Nations Association of the United States of America</em>)</dd>
<dd>Penghargaan atas Jasa Terhormat (<em>Distinguished Service Award</em>) dari Asosiasi Penyiaran Nasional (<em>National Association of Broadcasters</em>)</dd>
<dd>Majalah Time — 100 Orang yang Paling Berpengaruh di Seluruh Dunia.</dd>
</dl>
<ul style="text-align:center;">
<li><a title="2003" href="http://id.wikipedia.org/wiki/2003">2003</a></li>
</ul>
<dl>
<dd>Association of American Publishers – AAP Honors Award</dd>
</dl>
<ul style="text-align:center;">
<li><a title="2002" href="http://id.wikipedia.org/wiki/2002">2002</a></li>
</ul>
<dl>
<dd>54th Annual Primetime Emmy Awards® – Bob Hope Humanitarian Award</dd>
<dd>Broadcasting &amp; Cable – Hall of Fame</dd>
</dl>
<ul style="text-align:center;">
<li><a title="1999" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1999">1999</a></li>
</ul>
<dl>
<dd>National Book Foundation – 50th Anniversary Gold Medal</dd>
</dl>
<ul style="text-align:center;">
<li><a title="1998" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1998">1998</a></li>
</ul>
<dl>
<dd>National Academy of Television Arts &amp; Sciences® – Lifetime Achievement Award</dd>
<dd>Majalah Time — 100 Orang yang Paling Berpengaruh di abad ke 20th.</dd>
</dl>
<ul style="text-align:center;">
<li><a title="1997" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1997">1997</a></li>
</ul>
<dl>
<dd>Newsweek – Most Important Person in Books and Media</dd>
<dd>TV Guide – Television Performer of the Year</dd>
</dl>
<ul style="text-align:center;">
<li><a title="1996" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1996">1996</a></li>
</ul>
<dl>
<dd>International Radio &amp; Television Society Foundation – Gold Medal Award</dd>
<dd>George Foster Peabody Awards – 1995</dd>
<dd>Individual Achievement Award</dd>
</dl>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakradyant.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakradyant.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakradyant.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakradyant.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cakradyant.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cakradyant.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cakradyant.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cakradyant.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakradyant.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakradyant.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakradyant.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakradyant.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakradyant.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakradyant.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakradyant.wordpress.com&amp;blog=11845722&amp;post=57&amp;subd=cakradyant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakradyant.wordpress.com/2010/04/01/oprah-winfrey/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fd55fedb4577ed5e006373db13073443?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cakradyant</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://4.bp.blogspot.com/_PkX3AmvDeJc/SWtTx0ZLxNI/AAAAAAAAAnU/VQb9TYG2-1g/s400/oprah-winfrey.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Nabi Ismail AS</title>
		<link>http://cakradyant.wordpress.com/2010/03/06/kisah-nabi-ismail-as/</link>
		<comments>http://cakradyant.wordpress.com/2010/03/06/kisah-nabi-ismail-as/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 13:16:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakradyant</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Nabi dan Rasul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakradyant.wordpress.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Ismail berusia belia ketika memulai perjalanannya menuju Allah SWT. Ibunya membawanya dan menidurkannya di atas tanah, yaitu tempat yang sekarang kita kenal dengan nama sumur zamzam dalam Ka&#8217;bah. Saat itu tempat yang dihuninya sangat tandus dan belum terdapat sumur yang memancar dari bawah kakinya. Tidak ada di sana setetes air pun. Nabi Ibrahim meninggalkan istrinya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakradyant.wordpress.com&amp;blog=11845722&amp;post=53&amp;subd=cakradyant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ismail berusia belia ketika memulai perjalanannya menuju Allah SWT.  Ibunya membawanya dan menidurkannya di atas tanah, yaitu tempat yang  sekarang kita kenal dengan nama sumur zamzam dalam Ka&#8217;bah. Saat itu  tempat yang dihuninya sangat tandus dan belum terdapat sumur yang  memancar dari bawah kakinya. Tidak ada di sana setetes air pun. Nabi  Ibrahim meninggalkan istrinya, Hajar, bersama anaknya yang kecil. &#8220;Wahai  Ibrahim kemana engkau hendak pergi dan membiarkan kami di lembah yang  kering ini?&#8221; Kata Hajar. &#8220;Wahai Ibrahim di mana engkau akan pergi dan  membiarkan kami? Wahai Ibrahim ke mana engkau akan pergi?&#8221; Si ibu  mengulang-ulang apa yang dikatakannya. Sedangkan Nabi Ibrahim diam dan  tidak menjawab. Kita tidak mengetahui secara pasti bagaimana perasaan  Nabi Ibrahim saat meninggalkan mereka berdua di suatu lembah yang tidak  ada di alamnya tumbuh-tumbuhan dan minuman. Namun Allah SWT telah  memerintahkannya untuk tinggal di lembah itu. Dengan lapang dada Nabi  Ibrahim melaksanakan perintah Allah SWT.</p>
<p><span id="more-53"></span></p>
<p>Dalam kisah-kisah israiliyat (kisah-kisah palsu yang  dibuat oleh Bani Israil) disebutkan bahwa istri pertamanya, Sarah,  tampak cemburu pada Hajar, istri keduanya, sehingga karenanya Nabi  Ibrahim harus menjauhkannya beserta anaknya. Kami percaya bahwa kisah  ini palsu dan penuh dengan kebohongan. Jika kita mengamati kepribadian  Nabi Ibrahim, maka kita mengetahui bahwa beliau tidak akan mendapat  perintah dari seorang pun selain Allah SWT.</p>
<p>Kami tidak meyakini bahwa beliau terperangkap dalam  perasaan kecemburuan feminisme dan kami juga tidak percaya bahwa beliau  sengaja membangkitkan perasaan ini. Kami tidak mengira bahwa pribadi  Sarah yang mulia akan terpedaya dengan sikap egoisme. Bukankah ia  sendiri yang menikahkan Nabi Ibrahim dengan Hajar, pembantunya agar ia  mendapatkan keturunan? Ia menyadari bahwa dirinya wanita tua dan mandul.  Ia sendiri yang menikahkannya dan membantu pelaksanaannya. Ia telah  memberikan dan mengabdikan dirinya kepada seorang lelaki yang hatinya  tiada dipenuhi dengan cinta kepada siapa pun kecuali cinta kepada  Penciptanya.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Allah SWT  berfirman tentang Sarah  dan Hajar:</p>
<p>&#8220;Rahmat Allah dan keberkatan-Nya dicurahkan atas kamu,  hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah. (QS.  Hud: 73)</p>
<p>Jadi,  masalahnya adalah bukan masalah kecemburuan antara sesama wanita, namun  ia adalah tugas yang diperintahkan oleh Allah SWT yang di dalamnya  tersembunyi hikmah-Nya. Barangkali Sarah lebih heran daripada Hajar  ketika Nabi Ibrahim memerintahkannya untuk membawa anaknya Ismail dan  mengikutinya. &#8220;Ke mana engkau hai Ibrahim pergi?&#8221; Mungkin pertama-tama  Hajar yang bertanya kepadanya dan mungkin juga Sarah yang bertanya. Nabi  Ibrahim hanya terdiam dan akhirnya kedua wanita itu pun juga terdiam.</p>
<p>Di sana terdapat hikmah yang  tersembunyi di mana Nabi Ibrahim tidak mengetahuinya dan Allah SWT tidak  menjelaskan kepadanya. la tidak mengetahui hai itu sebagaimana mereka  berdua juga tidak mengetahuinya. Jadi kedua-duanya hanya terdiam sebagai  bentuk akhlak dari istri-istri nabi. Inilah Hajar yang sendirian  bersama anaknya di lembah yang terasing dan tandus, di mana ia tidak  mengetahui rahasia di balik tempat itu. Inilah Ismail yang memulai  perjalanannya menuju Allah SWT saat masih menyusui. Ia mengalami ujian  saat masih kecil dan juga ujian bagi ayahnya, di mana ia mendapatkan  seorang anak saat sudah tua. Nabi Ibrahim menyadari bahwa manusia tidak  memiliki sesuatu pun dalam dirinya. Dan seseorang yang cinta kepada  Allah SWT akan memberikan dirinya kepada Allah SWT dan akan memberikan  apa yang disukai oleh dirinya kepada Allah SWT tanpa harus diminta. Itu  adalah hukum cinta yang dalam. Kami tidak percaya bahwa Nabi Ibrahim  mengetahui mengapa ia harus meninggalkan Ismail dan ibunya di tempat  itu. Kami tidak mengira bahwa Allah SWT telah memberitahunya. Allah SWT  hanya menurunkan perintah dan Ibrahim hanya menaatinya. Di sinilah  tampak kerasnya ujian dan kesulitannya. Di sinilah cinta yang paling  dalam diungkapkan, dan di sinilah cinta yang murni dituangkan.</p>
<p>Allah SWT menguji kekasih-Nya  Ibrahim dengan suatu ujian yang sangat keras, di mana umumnya para orang  tua berat sekali melakukannya. Bukan berarti bahwa cinta Allah SWT  kepada Ibrahim dan cinta Ibrahim kepada-Nya menjadikan Ibrahim tidak  memiliki perasaan kemanusiaan. Kekuatan cintanya pada Allah SWT justru  menjadikan sebagai lautan dari perasaan kemanusiaan, bahkan lautan yang  tidak bertepi. Perasaan beliau terhadap Ismail lebih besar, lebih  lembut, dan lebih sayang dari perasaan ayah mana pun terhadap anaknya.  Meskipun demikian, beliau rela meninggalkannya di tempat yang tandus  karena Allah SWT memerintahkan hal tersebut. Terjadilah pergulatan dalam  dirinya namun ia mampu melewati ujiannya dan beliau memilih cinta Allah  SWT daripada cinta anaknya.</p>
<p>Ketika Nabi Ibrahim menampakkan kecintaan yang luar  biasa dari yang seharusnya kepada anaknya, maka Allah SWT  memerintahkannya untuk menyembelihnya. Allah SWT agar hanya Dia yang  menjadi pusat cinta para nabi-Nya. Barangsiapa yang mencintai Allah SWT,  maka ia pun harus mencintai kebenaran dan orang yang mencintai  kebenaran adalah orang memenuhi hatinya dengan cinta kepada Penciptanya  semata. Ismail mewarisi kesabaran ayahnya. Nabi Ibrahim berdoa kepada  Allah SWT sebelumnya:</p>
<p>&#8220;Ya  Tuhanku, anugerahkanlah  kepadaku (seorang anak) yang termasuk  orang-orang yang saleh&#8221; (QS. ash-Shaffat:  100)</p>
<p>Allah SWT menjawab:</p>
<p>&#8220;Maka Kami beri dia kabar gembira  dengan seorang anak   yang amat sabar.&#8221; (QS. ash-Shaffat: 101)</p>
<p>Kesabaran yang sama yang terdapat pada ayahnya,  kebaikan yang sama, ketakwaan yang sama, dan adab kenabian yang sama  pula. Ismail mendapatkan ujian yang pertama saat beliau kecil dan ujian  itu berakhir saat Allah SWT memancarkan zamzam dari kedua kakinya  sehingga darinya ibunya minum dan menyusuinya. Kemudian Ismail  mendapatkan ujian yang kedua dalam hidupnya saat ia menginjak masa muda:</p>
<p>&#8220;Maka tatkala anak itu sampai  (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai  anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.  Maka pikirkanlah apa pendapatmu!&#8217; Ia menjawab: &#8216;Hai bapakku, kerjakanlah  apa yang diperintahkan kepadamu: Insya Allah kamu akan mendapatiku  termasuk orang-orang yang sabar.&#8217;&#8221; (QS. ash-Shaffat: 102)</p>
<p>Apa yang Anda kira terhadap  jawaban si anak? Ia tidak bertanya tentang sifat dari mimpi itu, dan ia  tidak berdebat dengan ayahnya tentang kebenaran mimpi itu, tetapi yang  dikatakannya: &#8220;Wahai ayahku laksanakanlah apa yang diperintahkan.  &#8220;Janganlah engkau gelisah karena aku dan janganlah engkau menampakkan  kesedihan dan keluh-kesah. &#8220;Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang  yang sabar.&#8221; Demikianlah jawaban seorang anak yang saleh terha­dap  ayahnya yang saleh. Itulah puncak dari kesabaran dari seorang anak dan  tentu orang tuanya lebih harus bersabar. Itu bagaikan perlombaan di  antara keduanya untuk menguji siapa di antara mereka yang paling sabar.  Perlombaan yang tujuannya adalah meraih cinta Allah SWT.</p>
<p>Allah SWT berfirman:</p>
<p>&#8220;Dan ceritakanlah (hai  Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur&#8217;an.  Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah  seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh keluarganya untuk bersembahyang  dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi  Tuhannya.&#8221; (QS. Maryam: 54-55)</p>
<p>Baitullah</p>
<p>Ismail hidup di semenanjung Arab sesuai dengan kehendak  Al­lah SWT. Ismail memelihara kuda dan terhibur dengannya serta  memanfaatkannya untuk keperluannya. Sedangkan air zamzam sangat membantu  orang-orang yang tinggal di daerah itu. Kemudian sebagian kafilah  menetap di situ dan sebagian kabilah tinggal di tempat itu. Nabi Ismail  tumbuh menjadi dewasa dan menikah. Lalu ayahnya, Nabi Ibrahim,  mengunjunginya dan tidak menemukannya dalam rumah namun ia hanya  mendapati istrinya. Nabi Ibrahim bertanya kepadanya tentang kehidupan  mereka dan keadaan mereka. Istrinya mengadukan padanya tentang  kesempitan hidup dan kesulitannya. Nabi Ibrahim berkata padanya: &#8220;Jika  datang suamimu, maka perintahkan padanya untuk mengubah gerbang  pintunya.&#8221;</p>
<p>Ketika Nabi  Ismail datang, dan istrinya menceritakan padanya perihal kedatangan  seorang lelaki, Ismail berkata: &#8220;Itu adalah ayahku dan ia memerintahkan  aku untuk meninggalkanmu, maka kembalilah engkau pada keluargamu.&#8221;  Kemudian Nabi Ismail menikahi wanita yang kedua. Nabi Ibrahim  mengunjungi istri keduanya dan bertanya kepadanya tentang keadaannya.  Lalu ia menceritakan pada­nya bahwa mereka dalam keadaan baik-baik dan  dikaruniai nikmat. Nabi Ibrahim puas terhadap istri ini dan memang ia  cocok dengan anaknya. Barangkali Nabi Ibrahim menggunakan kemampuan  spiritualnya dan cahaya yang mampu menyingkap kegaiban yang dimilikinya.  Nabi Ibrahim menyiapkan Ismail untuk mengemban tugas yang besar. Yaitu  tugas yang membutuhkan kerja keras kemanusiaan seluruhnya dan waktunya  seluruhnya serta kenyamanannya seluruhnya.</p>
<p>Ismail menjadi besar dan mencapai kekuatannya. Nabi  Ibrahim mendatanginya. Tibalah saat yang tepat untuk menjelaskan hikmah  Allah SWT yang telah terjadi dari perkara-perkara yang samar. Nabi  Ibrahim berkata kepada Ismail: &#8220;Wahai Ismail, sesungguhnya Allah SWT  memerintahkan padaku suatu perintah&#8221; ketika datang perintah pada Nabi  Ibrahim untuk menyembelihnya, beliau menjelaskan kepadanya persoalan itu  dengan gamblang. Dan sekarang ia hendak mengemukakan perintah lain yang  sama agar ia mendapatkan keyakinan bahwa Ismail akan membantunya. Kita  di hadapan perintah yang lebih penting daripada penyembelihan. Perintah  yang tidak berkenaan dengan pribadi nabi tetapi berkenaan dengan  makhluk.</p>
<p>Ismail  berkata: &#8220;Laksanakanlah apa yang diperintahkan Tuhanmu padamu.&#8221; Nabi  Ibrahim berkata: &#8220;Apakah engkau akan membantuku?&#8221; Ismail menjawab: &#8220;Ya,  aku akan membantumu.&#8221; Nabi Ibrahim berkata: &#8220;Sesungguhnya Allah SWT  memerintahkan aku untuk membangun rumah di sini.&#8221; Nabi Ibrahim  mengisyaratkan dengan tangannya dan menunjuk suatu bukit yang tinggi di  sana.</p>
<p>Selesailah  pekerjaan itu. Perintah itu telah dilaksanakan dengan berdirinya  Baitullah yang suci. Itu adalah rumah yang pertama kali dibangun untuk  menusia di bumi. Ia adalah rumah pertama yang di dalamnya manusia  menyembah Tuhannya. Dan karena Nabi Adam adalah manusia yang pertama  turun ke bumi, maka keutamaan pembangunannya kembali padanya. Para ulama  berkata: &#8220;Sesungguhnya Nabi Adam membangunnya dan ia melakukan thawaf  di sekelilingnya seperti para malaikat yang tawaf di sekitar arsy Allah  SWT.</p>
<p>Nabi Adam  membangun suatu kemah yang di dalamnya ia menyembah Allah SWT. Adalah  hal yang biasa bagi Nabi Adam— sebagai seorang Nabi—untuk membangun  sebuah rumah untuk menyembah Allah SWT. Tempat itu dipenuhi dengan  rahmat. Kemudian Nabi Adam meninggal dan berlalulah abad demi abad  sehingga rumah itu hilang dan tersembunyi tempatnya. Maka Nabi Ibrahim  mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk membangun kedua kalinya agar  rumah itu tetap berdiri sampai hari kiamat dengan izin Allah SWT. Nabi  Ibrahim mulai membangun Ka&#8217;bah. Ka&#8217;bah adalah sekumpulan batu yang tidak  membahayakan dan tidak memberikan manfaat. Ia tidak lebih dari sekadar  batu. Meskipun demikian, ia merupakan simbol tauhid Islam dan tempat  penyucian kepada Allah SWT. Nabi Adam memiliki tauhid yang tinggi dan  Islam yang mutlak. Nabi Ibrahim pun termasuk seorang Muslim yang tulus  dan ia bukan termasuk seorang musyrik.</p>
<p>Batu-batu rumah itu telah dibangun dari ketenteraman  hati Nabi Adam dan kedamaian Nabi Ibrahim serta cintanya dan kesabaran  Nabi Ismail serta ketulusannya. Oleh karena itu, ketika Anda memasuki  Masjidil Haram Anda akan merasakan suatu gelombang kedamaian yang sangat  dalam. Terkadang pada kali yang pertama engkau melihat dirimu dan tidak  melihat rumah dan pemeliharanya. Dan barangkali engkau melihat rumah  pada kali yang kedua namun engkau tidak melihat dirimu dan Tuhanmu.  Ketika engkau pergi ke haji engkau tidak akan melihat dirimu dan rumah  itu yang engkau lihat hanya pemelihara rumah itu. Ini adalah haji yang  hakiki. Inilah hikmah yang pertama dari pembangunan Ka&#8217;bah.</p>
<p>Allah SWT berfirman:</p>
<p>&#8220;Dan (ingatlah), ketika  Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar baitullah bersama Ismail  (seraya berdoa): &#8216;Ya Tuhan kami terimalah dari kami (amalan kami),  sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya  Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk dan patuh kepada  Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh  kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat  ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau­lah  Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah  untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan  kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab  (al-Qur&#8217;an) dan al-Hikmah (as-Sunnah) serta menyucikan mereka.  Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. &#8221; (QS.  al-Baqarah: 127-129)</p>
<p>Ka&#8217;bah  terdiri dari batu-batuan yang ada di bumi di mana ia dijadikan pondasi  oleh Nabi Ibrahim dan Ismail. Sejarah menceritakan bahwa ia pernah  dihancurkan lebih dari sekali sehingga ia pun beberapa kali dibangun  kembali. Ia tetap berdiri sejak masa Nabi Ibrahim sampai hari ini. Dan  ketika Rasulullah saw diutus —sebagai bukti pengkabulan doa Nabi  Ibrahim—beliau mendapad Ka&#8217;bah dibangun terakhir kalinya, dan tenaga  yang dicurahkan oleh orang-orang yang membangunnya sangat terbatas di  mana mereka tidak menggali dasarnya sebagaimana Nabi Ibrahim  menggalinya. Dari sini kita memahami bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail  mencurahkan tenaga keras yang tidak dapat ditandingi oleh ribuan  laki-laki. Rasullah saw telah menegaskan bahwa kalau bukan karena  kedekatan kaum dengan masa jahiliyah dan kekhawatiran orang-orang akan  menuduhnya dengan berbagai tuduhan jika beliau menghancurkannya dan  membangunkannya kembali, niscaya beliau ingin merobohkannya dan  mengembalikannya ke pondasi Nabi Ibrahim.</p>
<p>Sungguh kedua nabi yang mulia itu telah mencurahkan  tenaga keras dalam membangunnya. Mereka berdua menggali pondasi karena  dalamnya tanah yang di bumi. Mereka memecahkan batu-batuan dari gunung  yang cukup jauh dan dekat, lalu setelah itu memindahkannya dan  meratakannya serta membangunnya. Tentu hal itu memerlukan tenaga keras  dari beberapa pria tetapi mereka berdua membangunnya bersama-sama. Kita  tidak mengetahui berapa banyak waktu yang digunakan untuk membangun  Ka&#8217;bah sebagaimana kita tidak mengetahui waktu yang digunakan untuk  membuat perahu Nabi Nuh. Yang penting adalah, bahwa perahu Nabi Nuh dan  Ka&#8217;bah sama-sama sebagai tempat perlindungan manusia dan tempat yang  membawa keamanan dan kedamaian. Ka&#8217;bah adalah perahu Nabi Nuh yang tetap  di atas bumi selama-lamanya. Ia selalu menunggu orang-orang yang  menginginkan keselamatan dari kedahsyatan angin topan yang selalu  mengancam setiap saat.</p>
<p>Allah  SWT tidak menceritakan kepada kita tentang waktu pembangunan Ka&#8217;bah.  Allah SWT hanya menceritakan perkara yang lebih penting dan lebih  bermanfaat. Dia menceritakan tentang kesucian jiwa orang-orang yang  membangunnya dan doa mereka saat membangunnya:</p>
<p>&#8220;Tuhan kami, terimalah dari hand (amalan kami),  sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. &#8221; (QS.  al-Baqarah: 127)</p>
<p>Itulah  puncak keikhlasan orang-orang yang ikhlas, ketaatan orang-orang yang  taat, ketakutan orang-orang yang takut, dan kecintaan orang-orang yang  mencintai:</p>
<p>&#8220;Ya Tuhan  kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan  (jadikanlah) di antara cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau.&#8221;  (QS. al-Baqarah: 128)</p>
<p>Sesungguhnya  kaum Muslim yang paling agung di muka bumi saat itu, mereka berdoa  kepada Allah SWT agar menjadikan mereka termasuk orang-orang yang  berserah diri pada-Nya. Mereka mengetahui bahwa hati manusia terletak  sangat dekat dengan ar-Rahman (Allah SWT). Mereka tidak akan mampu  menghindari tipu daya Allah SWT. Olah karena itu, mereka menampakkan  kemurnian ibadah hanya kepada Allah SWT, dan mereka membangun rumah  Allah SWT serta meminta pada-Nya agar menerima pekerjaan mereka.</p>
<p>Selanjutnya, mereka meminta  Islam (penyerahan diri) pada-Nya dan rahmat yang turun pada mereka di  mana mereka memohon kepada Allah SWT agar memberi mereka keturunan dari  umat Islam. Mereka ingin agar jumlah orang-orang yang beribadah dan  orang-orang yang sujud dan rukuk semakin banyak. Sesungguhnya doa Nabi  Ibrahim dan Nabi Ismail menyingkap isi had seorang mukmin. Mereka  membangun rumah Allah SWT dan pada saat yang sama mereka disibukkan  dengan urusan akidah (keyakinan). Itu mengisyaratkan bahwa rumah itu  sebagai simbol dari akidah.</p>
<p>&#8220;Dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan  tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya  Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. &#8221; (QS.  al-Baqarah: 128)</p>
<p>Perlihatkanlah  kepada kami cara ibadah yang Engkau sukai. Perlihatkanlah kepada kami  bagaimana kami menyembah-Mu di bumi. Dan terimalah taubat kami.  Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang. Setelah  itu, kepedulian mereka melampaui masa yang mereka hidup di dalamnya.  Mereka berdoa kepada Allah SWT:</p>
<p>&#8220;Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari  kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau,  dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur&#8217;an) dan al-Hikmah  (as-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha  Perkasa lagi Maha Bijaksana. &#8221; (QS. al-Baqarah: 129)</p>
<p>Akhirnya, doa tersebut  terkabul ketika Allah SWT mengutus Muhammad bin Abdillah saw. Doa  tersebut terwujud setelah melalui masa demi masa. Selesailah pembangunan  Ka&#8217;bah dan Nabi Ibrahim menginginkan batu yang istimewa yang akan  menjadi tanda khusus di mana tawaf di sekitar Ka&#8217;bah akan dimulai  darinya. Ismail telah mencurahkan tenaga di atas kemampuan manusia  biasa. Beliau bekerja dengan sangat antusias sebagai wujud ketaatan  terhadap perintah ayahnya. Ketika beliau kembali, Nabi Ibrahim telah  meletakkan Hajar Aswad di tempatnya. &#8220;Siapakah yang mendatangkannya  (batu) padamu wahai ayahku?&#8221; Nabi Ibrahim berkata: &#8220;Jibril as yang  mendatangkannya.&#8221; Selesailah pembangunan Ka&#8217;bah dan orang- orang yang  mengesakan Allah SWT serta orang-orang Muslim mulai bertawaf di  sekitarnya. Nabi Ibrahim berdiri dalam keadaan berdoa kepada Tuhannya  sama dengan doa yang dibacanya sebelumnya, yaitu agar Allah SWT  menjadikan had manusia cenderung pada tempat itu:</p>
<p>&#8220;Maka jadikanlah hati sebagian   manusia cenderung kepada mereka. &#8220;(QS. Ibrahim: 37)</p>
<p>Karena pengaruh doa tersebut,  kaum Muslim merasakan kecintaan yang dalam untuk mengunjungi Baitul  Haram. Setiap orang yang mengunjungi Masjidil Haram dan kembali ke  negerinya ia akan merasakan kerinduan pada tempat itu. Semakin jauh ia,  semakin meningkat kerinduannya padanya. Kemudian, datanglah musim haji  pada setiap tahun, maka hati yang penuh dengan cinta pada Baitullah akan  segera melihatnya dan rasa hausnya terhadap sumur zamzam akan segera  terpuaskan. Dan yang lebih penting dari semua itu adalah cinta yang  dalam terhadap Tuhan, Baitullah dan sumur zamzam yaitu, Tuhan alam  semesta. Allah SWT berfirman berkenaan dengan orang-orang yang mendebat  Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail:</p>
<p>&#8220;Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang  Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri  (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan  orang-orang musyrik. &#8221; (QS. Ali &#8216;Imran: 67)</p>
<p>Allah SWT mengabulkan doa Nabi Ibrahim dan beliau yang  pertama kali menamakan kita sebagai orang-orang Muslim. Allah SWT  berfirman:</p>
<p>&#8220;Dan Dia  sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.  (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia telah menamai kamu sekalian  orang-orang Muslim dan dahulu. &#8221; (QS. al-Hajj: 78).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakradyant.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakradyant.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakradyant.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakradyant.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cakradyant.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cakradyant.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cakradyant.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cakradyant.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakradyant.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakradyant.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakradyant.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakradyant.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakradyant.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakradyant.wordpress.com/53/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakradyant.wordpress.com&amp;blog=11845722&amp;post=53&amp;subd=cakradyant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakradyant.wordpress.com/2010/03/06/kisah-nabi-ismail-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fd55fedb4577ed5e006373db13073443?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cakradyant</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Nabi Luth AS</title>
		<link>http://cakradyant.wordpress.com/2010/03/06/kisah-nabi-luth-as/</link>
		<comments>http://cakradyant.wordpress.com/2010/03/06/kisah-nabi-luth-as/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 13:08:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakradyant</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakradyant.wordpress.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Allah SWT berfirman: &#8220;Kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul. Ketika saudara mereka Luth, berkata kepada mereka: Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.&#8221; (QS. asy-Syu&#8217;ara: 160-163) Dengan kelembutan dan kasih sayang semacam ini, Nabi Luth berdakwah kepada kaumnya. Beliau mengajak mereka untuk hanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakradyant.wordpress.com&amp;blog=11845722&amp;post=51&amp;subd=cakradyant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Allah SWT berfirman:</p>
<p>&#8220;Kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul. Ketika  saudara mereka Luth, berkata kepada mereka: Mengapa kamu tidak bertakwa?  Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus)  kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.&#8221; (QS.  asy-Syu&#8217;ara: 160-163)</p>
<p>Dengan  kelembutan dan kasih sayang semacam ini, Nabi Luth berdakwah kepada  kaumnya. Beliau mengajak mereka untuk hanya menyembah kepada Allah SWT  yang tiada sekutu bagi-Nya. Dan melarang mereka untuk melakukan  kejahatan dan kekejian. Namun dakwah beliau berhadapan dengan hati yang  keras dan jiwa yang sakit serta penolakan yang berasal dari kesombongan.</p>
<p>Kaum Nabi Luth melakukan  berbagai kejahatan yang tidak biasa dilakukan oleh penjahat manapun.  Mereka merampok dan berkhianat kepada sesama teman serta berwasiat dalam  kemungkaran. Bahkan catatan kejahatan mereka ditambah dengan keja­hatan  baru yang belum pernah terjadi di muka bumi. Mereka memadamkan potensi  kemanusiaan mereka dan daya kreatifitas yang ada dalam diri mereka.  Yaitu kejahatan yang belum pernah dilakukan seseorang pun sebelum mereka  di mana mereka berhubungan seks dengan sesama kaum pria (homo seks).</p>
<p><span id="more-51"></span></p>
<p>Allah SWT berfirman:</p>
<p>&#8220;Dan (ingatlah kisah) Luth,  ketika ia berkata kepada kaumnya: &#8220;Mengapa kamu mengerjakan perbuatan  keji itu sedang kamu melihat(nya). Mengapa kamu mendatangi laki-laki  untuk (memenuhi) nafsu(mu), bukan mendatangi wanita? Sebenarnya kamu  adalah kaum yang tidak dapat mengetahui (akibat perbuatanmu).&#8221; (QS.  an-Naml: 54-55)</p>
<p>Nabi  Luth menyampaikan dakwah  kepada mereka dengan penuh ketulusan dan  kejujuran, namun apa gerangan jawaban  dari kaumnya:</p>
<p>&#8220;Maka tidak lain jawaban  kaumnya melainkan mengatakan: &#8216;Usirlah Luth beserta keluarganya dari  negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (mendakwahkan  dirinya) bersih.&#8217;&#8221; (QS. an-Naml: 56)</p>
<p>Mengapa mereka menjadikan sesuatu yang patut dipuji  menjadi sesuatu yang tercela yang kemudian harus diusir dan dikeluarkan.  Tampak bahwa jiwa kaum Nabi Luth benar-benar sakit dan mereka justru  menganiaya diri mereka sendiri serta bersikap angkuh terhadap kebenaran.  Akhirnya, kaum pria cenderung kepada sesama jenis mereka, bukan malah  cenderung kepada wanita. Sungguh aneh ketika mereka menganggap kesucian  dan kebersihan sebagai kejahatan yang harus disirnakan. Mereka  orang-orang yang sakit yang justru menolak obat dan memeranginya.  Tindakan kaum Nabi Luth membuat had beliau bersedih. Mereka melakukan  kejahatan secara terang-terangan di tempat-tempat mereka. Ketika mereka  melihat seorang asing atau seorang musafir atau seorang tamu yang  memasuki kota, maka mereka menangkapnya. Mereka berkata kepada Nabi  Luth, &#8220;sambutlah tamu-tamu perempuan dan tinggalkanlah untuk kami kaum  pria.&#8221; Mulailah perilaku mereka yang keji itu terkenal.</p>
<p>Nabi Luth memerangi mereka  dalam jihad yang besar. Nabi Luth mengemukakan argumentasi. Hari demi  hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun berlalu, dan Nabi Luth  terus berdakwah. Namun tak seorang pun yang mengikutinya dan tiada yang  beriman kepadanya kecuali keluarganya, bahkan keluarganya pun tidak  beriman semuanya. Istri Nabi Luth kafir seperti istri Nabi Nuh:</p>
<p>&#8220;Allah membuat istri Nuh dan  istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah  pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu  kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya  itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan  dikatakan (kepada keduanya): &#8216;Masuklah ke neraka bersama orang-orang  yang masuk neraka.&#8217;&#8221; (QS. at-Tahrim: 10)</p>
<p>Jika rumah adalah tempat istirahat yang di dalamnya  seseorang mendapatkan ketenangan, maka Nabi Luth tersiksa, baik di luar  rumah maupun di dalamnya. Kehidupan Nabi Luth dipenuhi dengan mata  rantai penderitaan yang keras namun beliau tetap sabar atas kaumnya.  Berlalulah tahun demi tahun tetapi tak seorang pun yang beriman  kepadanya, bahkan mereka mulai mengejek ajarannya dan mengatakan apa  saja yang ingin mereka katakan:</p>
<p>&#8220;Datangkanlah kepada kami azab  Allah, jika kamu  termasuk orang-arang yang benar.&#8221; (QS. al-&#8217;Ankabut: 29)</p>
<p>Ketika terjadi hal tersebut,  Nabi Luth berputus asa kepada mereka dan ia berdoa kepada Allah SWT agar  menolongnya dan menghancurkan orang-orang yang membuat kerusakan.  Akhirnya, para malaikat keluar dari tempat Nabi Ibrahim menuju desa Nabi  Luth. Mereka sampai saat Ashar. Mereka mencapai pagar-pagar Sudum.  Sungai mengalir di tengah-tengah tanah yang penuh dengan tanaman yang  hijau.</p>
<p>Sementara itu,  anak perempuan Nabi Luth berdiri sedang memenuhi tempat airnya dari air  sungai itu. Ia mengangkat wajahnya sehingga menyaksikan mereka. Ia  tampak keheranan melihat kaum pria yang memiliki ketampanan yang  mengagumkan. Salah seorang malaikat bertanya kepada anak kecil itu:  &#8220;Wahai anak perempuan, apakah ada rumah di sini?&#8221; Ia berkata (saat itu  ia mengingat kaum­nya), &#8220;Hendaklah kalian tetap di situ sehingga aku  memberitahu ayahku dan kemudian akan kembali pada kalian.&#8221; Ia  meninggalkan wadah airnya di sisi sungai dan segera menuju ayahnya.</p>
<p>&#8220;Ayahku, ada pemuda-pemuda  yang ingin menemuimu di pintu kota. Aku belum pernah melihat wajah-wajah  seperti mereka,&#8221; kata anak itu dengan nada gugup. Nabi Luth berkata  kepada dirinya sendiri: Ini adalah hari yang dahsyat. Beliau segera  berlari menuju tamu-tamunya. Ketika Nabi Luth melihat mereka, beliau  merasakan keheranan yang luar biasa. Beliau berkata: &#8220;Ini adalah hari  yang dahsyat.&#8221; Beliau bertanya kepada mereka: &#8220;Dari mana mereka datang  dan apa tujuan mereka?&#8221; Mereka malah terdiam dan justru memintanya untuk  menjamu mereka.&#8221; Nabi Luth tampak malu di hadapan mereka, kemudian  beliau berjalan di depan mereka sedikit lalu beliau berhenti sambil  menoleh kepada mereka dan berkata: &#8220;Saya belum mengetahui kaum yang  lebih keji di muka bumi ini selain penduduk negeri ini.&#8221; Beliau  mengatakan demikian dengan maksud agar mereka mengurungkan niat mereka  untuk bermalam di negerinya. Namun mereka tidak peduli dengan ucapan  Nabi Luth dan mereka tidak memberikan komentar atasnya.</p>
<p>Nabi Luth kembali berjalan  bersama mereka dan beliau selalu berusaha untuk mengalihkan pembicaraan  tentang kaumnya. Nabi Luth memberitahu mereka bahwa penduduk desanya  sangat jahat dan menghinakan tamu-tamu mereka. Di samping itu, mereka  juga membuat kerusakan di muka bumi dan seringkali terjadi pertentangan  di dalam desanya. Pemberitahuan tersebut dimaksudkan agar para tamunya  membatalkan niat mereka untuk bermalam di desanya tanpa harus melukai  perasaan mereka dan tanpa menghilangkan penghormatan pada tamu. Nabi  Luth berusaha dan mengisyaratkan kepada mereka untuk melanjutkan  perjalanannya tanpa harus mampir di negerinya. Namun tamu-tamu itu  sangat mengherankan. Mereka tetap berjalan dalam keadaan diam. Ketika  Nabi Luth melihat tekad mereka untuk tetap bermalam di kota, beliau  meminta kepada mereka untuk tinggal di suatu kebun sehingga datang waktu  Maghrib dan kegelapan menyelimuti segala penjuru kota. Nabi Luth sangat  bersedih dan dadanya menjadi sempit. Karena rasa takutnya dan  penderitaanya sehingga ia lupa untuk memberi mereka makanan. Kegelapan  mulai menyelimuti kota. Nabi Luth menemani tiga tamunya itu berjalan  menuju rumahnya. Tak seorang pun dari penduduk kota yang melihat mereka.  Namun istrinya melihat mereka sehingga ia keluar menuju kaumnya dan  memberitahu mereka kejadian yang dilihatnya. Kemudian tersebarlah berita  dengan begitu cepat dan selanjutnya kaum Nabi Luth menemuinya. Allah  SWT berfirman:</p>
<p>&#8220;Dan  tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia  merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia  berkata: &#8216;Ini adalah hari yang amat sulit.&#8217; Dan datanglah kepadanya  kaumnya dengan bergesa-gesa. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan  perbuatan-perbuatan yang keji.&#8221; (QS. Hud: 77-78)</p>
<p>Mulailah terjadi hari yang sangat keras. Kaum  Nabi Luth bergegas menuju padanya. Nabi Luth bertanya pada dirinya  sendiri: &#8220;Siapa gerangan yang memberitahu mereka?&#8221; Kemudian ia menoleh  ke kanan dan ke kiri untuk mencari istrinya namun ia tidak menemuinya.  Maka bertambahlah kesedihan Nabi Luth.</p>
<p>Kaum Nabi Luth berdiri di depan pintu rumah. Nabi Luth  keluar kepada mereka dengan penuh harap, bagaimana seandainya mereka  diajak berpikir secara sehat? Bagaimana seandainya mereka diajak  menggunakan fitrah yang sehat? Bagaimana seandainya mereka tergugah  dengan kecenderungan yang sehat terhadap jenis lain yang Allah SWT  ciptakan untuk mereka? Bukankah di dalam rumah mereka terdapat kaum  wanita? Seharusnya wanitalah yang menjadi kecenderungan mereka, bukan  malah mereka cenderung kepada sesama pria.</p>
<p>&#8220;Dia berkata: &#8216;Hai kaumku, inilah putri-putri  (negeriku) mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan  janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di  antaramu seorang yang berakal.&#8221; (QS. Hud: 78)</p>
<p>&#8220;Inilah putri-putri (negeriku).&#8221; Apa yang dimaksud  dengan pernyataan tersebut? Nabi Luth ingin berkata kepada mereka: &#8220;Di  hadapan kalian terdapat wanita-wanita di bumi. Mereka lebih suci bagi  kalian dalam bentuk kesucian jiwa dan fisik. Ketika kalian cen­derung  kepada mereka, maka kecenderungan itu merupakan pelaksanaan dari fitrah  yang sehat.&#8221; &#8220;Maka bertakwalah kalian kepada Allah.&#8221; Nabi Luth berusaha  menjamah jiwa mereka dari sisi takwa setelah menjamahnya dari sisi  fitrah. Bertakwalah kepada Allah SWT dan ingatlah bahwa Allah SWT  mendengar dan melihat serta akan murka dan menyiksa orang-orang yang  durhaka. Seharusnya orang yang berakal sehat menghindari murka-Nya.</p>
<p>&#8220;Dan janganlah kalian  mencemarkan namaku terhadap tamuku ini.&#8221; Ini adalah usaha gagal dari  beliau yang mencoba menggugah kemuliaan dan tradisi mereka sebagai orang  badui yang harus menghormati tamu, bukan malah menghinakannya. &#8220;Tidak  adakah di antaramu seorang yang berakal?&#8221; Tidakkah di antara kalian  terdapat orang yang mempunyai pikiran yang sehat? Tidakkah di antara  kalian terdapat laki-laki yang berakal? Apa yang kalian inginkan jika  memang terwujud, maka itu hakikat kegilaan. Akal adalah sarana yang  tepat bagi kalian untuk mengetahui kebenaran. Sesungguhnya perkara  tersebut sangat jelas kebenarannya jika kalian memperhatikan fitrah,  agama, dan harga diri.&#8221; Kaumnya menunggu hingga beliau selesai dari  nasihatnya yang singkat lalu mereka tertawa terbahak-bahak. Kalimat Nabi  Luth yang suci itu tidak mampu mengubah pendirian jiwa yang sakit, hati  yang beku, dan pikiran yang bodoh:</p>
<p>&#8220;Mereka menjawab: &#8216;Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa  kami tidak mempunyai keinginan terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya  kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.&#8217;&#8221; (QS. Hud:  79)</p>
<p>Demikianlah tampak  dengan jelas bahwa kebenaran tersembunyi di balik pengkaburan, suatu  hal yang diketahui oleh dunia semuanya. Mereka tidak mengatakan  kepadanya apa yang mereka inginkan karena dunia mengetahuinya dan  selanjutnya ia juga mengetahui, yakni isyarat yang buruk pada perbuatan  yang buruk.</p>
<p>Nabi Luth  merasakan kesedihan dan kelemahannya di tengah-tengah kaumnya. Dengan  marah Nabi Luth memasuki rumahnya dan menutup pintu rumahnya. Ia berdiri  mendengarkan tertawa dan celaan serta pukulan terhadap pintu rumahnya.  Sementara itu, orang-orang asing yang dijamu oleh Nabi Luth tampak duduk  dalam keadaan tenang dan terpaku. Nabi Luth merasakan keheranan dalam  dirinya ketika melihat ketenangan mereka. Dan pukulan-pukulan yang  ditujukan pada pintu semakin kencang. Mulailah kayu-kayu pintu itu  tampak rusak dan lemah, lalu Nabi Luth berteriak dalam keadaan kesal:</p>
<p>&#8220;Luth berkata: &#8216;Seandainya  aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung  kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).&#8217;&#8221; (QS. Hud: 80)</p>
<p>Nabi Luth berharap akan  mendapatkan kekuatan sehingga dapat melindungi para tamunya. Beliau  mengharapkan seandainya terdapat benteng yang kuat yang dapat  melindunginya, yaitu benteng Allah SWT yang di dalamnya para nabi dan  kekasih-kekasih-Nya dilindungi. Berkenaan dengan hal itu, Rasulullah  berkata saat membaca ayat tersebut: &#8220;Allah SWT menurunkan rahmat atas  Nabi Luth. Ia berlindung pada benteng yang kokoh.&#8221; Ketika penderitaan  mencapai puncaknya dan Nabi Luth mengucapkan kata-katanya yang terbang  laksana burung yang putus asa, para tamunya bergerak dan tiba-tiba  bangkit. Mereka memberitahunya bahwa ia benar-benar akan terlindung di  bawah benteng yang kuat:</p>
<p>&#8220;Para utusan (malaikat) berkata: &#8216;Hai Luth sesungguhnya  kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-sekali mereka tidak akan dapat  mengganggu kamu.&#8221; (QS. Hud: 81)</p>
<p>Jangan berkeluh kesah wahai Luth dan jangan takut. Kami  adalah para malaikat, dan kaum itu tidak akan mampu menyentuhmu.  Tiba-tiba pintu terbelah. Jibril bangkit dan ia menunjuk dengan  tangannya secara cepat sehingga kaum itu kehilangan matanya. Lalu mereka  tampak serampangan di dalam dinding dan mereka keluar dari rumah dan  mereka mengira bahwa mereka memasukinya. Jibril as menghilangkan mata  mereka.</p>
<p>Allah SWT  berfirman:</p>
<p>&#8220;Dan  sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada  mereka), lalu kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan  ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa  azab yang kekal.&#8221; (QS. al-Qamar: 37-38)</p>
<p>Para malaikat menoleh kepada Nabi Luth dan  memerintahkan kepadanya untuk membawa keluarganya di tengah malam dan  keluar. Mereka mendengar suara yang sangat mengerikan dan akan  menggoncangkan gunung. Siksa apa ini? Ini adalah siksa dari bentuk yang  aneh. Para malaikat memberitahunya bahwa istrinya termasuk orang-orang  yang menentangnya. Istrinya adalah seorang kafir seperti mereka,  sehingga jika turun azab kepada mereka, maka ia pun akan menerimanya.</p>
<p>Keluarlah wahai Luth karena  keputusan Tuhanmu telah ditetapkan. Nabi Luth bertanya kepada malaikat:  &#8220;Apakah sekarang akan turun azab kepada mereka?&#8221; Para malaikat  memberitahunya bahwa mereka akan terkena azab pada waktu Subuh. Bukankah  waktu Subuh itu sangat dekat?</p>
<p>Allah berfirman SWT:</p>
<p>&#8220;Pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut  kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang pun di antara kalian yang  tertinggal, kecuali istrimu Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang  menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka  adalah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?&#8221; (QS. Hud: 81)</p>
<p>Nabi Luth keluar bersama  anak-anak perempuannya dan istrinya. Mereka keluar di waktu malam. Dan  tibalah waktu Subuh. Kemudian datanglah perintah Allah SWT:</p>
<p>&#8220;Maka tatkala datang azab  Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami  balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar  dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu  tiadalah jauh dari orang-orang yang lalim. &#8221; (QS. Hud: 82-83)</p>
<p>Para ulama berkata: &#8220;Jibril  menghancurkan dengan ujung sayapnya tujuh kota mereka. Jibril mengangkat  semuanya ke langit sehingga para malaikat mendengar suara ayam-ayam  mereka dan gonggongan anjing mereka. Jibril membalikkan tujuh kota itu  dan menumpahkannya ke bumi. Saat terjadi kehancuran, langit menghujani  mereka dengan batu-batu dari neraka Jahim. Yaitu batu-batu yang keras  dan kuat yang datang silih berganti. Neraka Jahim terus menghujani  mereka sehingga kaum Nabi Luth musnah semuanya. Tiada seorang pun di  sana. Semua kota-kota hancur dan ditelan bumi sehingga terpancarlah air  dari bumi. Hancurlah kaum Nabi Luth dan hilanglah kota-kota mereka. Nabi  Luth mendengar suara-suara yang mengerikan. Istrinya melihat sumber  suara dan dia pun musnah.&#8221;</p>
<p>Allah SWT berfirman tentang  kota-kota Luth:</p>
<p>&#8220;Lalu Kami keluarkan  orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami  tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang  yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi  orang-orang yang takut kepada siksa yangpedih. &#8221; (QS. adz-Dzariyat:  35-37)</p>
<p>&#8220;Dan  sesungguhnya kota itu  benar-benar terletak dijalan yang masih tetap  (dilalui manusia).&#8221; (QS. al-Hijr:  76)</p>
<p>&#8220;Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Mekah) benar-benar  akan melalui (behas-bekas) mereka di waktu pagi, dan diwaktu malam.  Maka apakah kamu tidak memikirkannya.&#8221; (QS. ash-Shaffat: 137-138)</p>
<p>Yakni ia adalah bukti  kekuasaan Allah SWT yang zahir. Para ulama berkata: &#8220;Bahwa kota-kota  yang tujuh menjadi danau yang aneh di mana airnya asin dan deras airnya  lebih besar dari derasnya air laut yang asin. Dan di dalam danau ini  terdapat batu-batu tarnbang yang mencair. Ini mengisyaratkan bahwa  batu-batu yang ditimpakan pada kaum Nabi Luth menyerupai butiran-butiran  api yang menyala. Ada yang mengatakan bahwa danau yang sekarang bernama  al-Bahrul Mayit yang terletak di Palestina adalah kota-kota kaum Nabi  Luth.&#8221;</p>
<p>Tamatlah  riwayat kaum Nabi Luth dari bumi. Akhirnya, Nabi Luth menemui Nabi  Ibrahim. Beliau menceritakan berita tentang kaumnya. Beliau heran ketika  mendengar bahwa Nabi Ibrahim juga mengetahuinya. Nabi Luth terus  melanjutkan misi dakwahnya di jalan Allah SWT seperti Nabi Ibrahim.  Mereka berdua tetap menyebarkan Islam di muka bumi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakradyant.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakradyant.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakradyant.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakradyant.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cakradyant.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cakradyant.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cakradyant.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cakradyant.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakradyant.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakradyant.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakradyant.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakradyant.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakradyant.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakradyant.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakradyant.wordpress.com&amp;blog=11845722&amp;post=51&amp;subd=cakradyant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakradyant.wordpress.com/2010/03/06/kisah-nabi-luth-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fd55fedb4577ed5e006373db13073443?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cakradyant</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Nabi Ibrahim AS</title>
		<link>http://cakradyant.wordpress.com/2010/03/06/kisah-nabi-ibrahim-as/</link>
		<comments>http://cakradyant.wordpress.com/2010/03/06/kisah-nabi-ibrahim-as/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 12:56:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakradyant</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakradyant.wordpress.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Nabi Ibrahim as mendapatkan tempat khusus di sisi Allah SWT. Ibrahim termasuk salah satu nabi ulul azmi di antara lima nabi di mana Allah SWT mengambil dari mereka satu perjanjian yang berat. Kelima nabi itu adalah Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad saw—sesuai dengan urutan diutusnya mereka. Ibrahim adalah seorang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakradyant.wordpress.com&amp;blog=11845722&amp;post=48&amp;subd=cakradyant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nabi Ibrahim as mendapatkan tempat khusus di sisi Allah SWT. Ibrahim termasuk salah satu nabi ulul azmi di antara lima nabi di mana Allah SWT mengambil dari mereka satu perjanjian yang berat. Kelima nabi itu adalah Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad saw—sesuai dengan urutan diutusnya mereka. Ibrahim adalah seorang nabi yang diuji oleh Allah SWT dengan ujian yang jelas. Yaitu ujian di atas kemampuan manusia biasa. Meskipun menghadapi ujian dan tantangan yang berat, Nabi Ibrahim tetap menunjukkan sebagai seorang hamba yang menepati janjinya dan selalu menunjukan sikap terpuji. Allah SWT berfirman:</p>
<p>&#8220;Dan Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji. &#8221; (QS. an-Najm: 37)</p>
<p>Allah SWT menghormati Ibrahim dengan penghormatan yang khusus. Allah SWT menjadikan agamanya sebagai agama tauhid yang murni dan suci dari berbagai kotoran, dan Dia menjadikan akal sebagai alat penting dalam menilai kebenaran bagi orang-orang yang mengikuti agama-Nya. Allah SWT berfirman:</p>
<p>&#8220;Dan tidak ada yang bend kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya Dia di akhirat benar-benar ter­masuk orang yang saleh.&#8221; (QS. al-Baqarah: 130)</p>
<p>Allah SWT memuji Ibrahim dalam flrman-Nya:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan). &#8221; (QS. an-Nahl: 120)</p>
<p>Termasuk keutamaan Allah SWT yang diberikan-Nya kepada Ibrahim adalah, Dia menjadikannya sebagai imam bagi manusia dan menganugrahkan pada keturunannya kenabian dan penerimaan kitab (wahyu). Oleh karena itu, kita dapati bahwa setiap nabi setelah Nabi Ibrahim as adalah anak-anak dan cucu-cucunya. Ini semua merupakan bukti janji Allah SWT kepadanya, di mana Dia tidak mengutus seorang nabi kecuali datang dari keturunannya. Demikian juga kedatangan nabi yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw, adalah sebagai wujud dari terkabulnya doa Nabi Ibrahim yang diucapkannya kepada Allah SWT di mana ia meminta agar diutus di tengah-tengah kaum yang umi seorang rasul dari mereka. Ketika kita membahas keutamaan Nabi Ibrahim dan penghormatan yang Allah SWT berikan kepadanya, niscaya kita akan mendapatkan hal-hal yang menakjubkan.</p>
<p><span id="more-48"></span></p>
<p>Kita di hadapan seorang manusia dengan hati yang suci. Manusia yang ketika diperintahkan untuk menyerahkan diri ia pun segera berkata, bahwa aku telah menyerahkan diriku kepada Pengatur alam semesta. Ia adalah seorang Nabi yang pertama kali menama kan kita sebagai al-Muslimin (orang-orang yang menyerahkan diri). Seorang Nabi yang doanya terkabul dengan diutusnya Muhammad bin Abdillah saw. la adalah seorang Nabi yang merupakan kakek dan ayah dari pada nabi yang datang setelahnya. Ia seorang Nabi yang lembut yang penuh cinta kasih kepada manusia dan selalu kembali kepada jalan kebenaran. Allah SWT berfirman:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah.&#8221; (QS. Hud: 75)</p>
<p>&#8220;(Yaitu): Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.&#8221; (QS. as-Shaffat: 109)</p>
<p>Demikianlah Allah SWT sebagai Pencipta memperkenalkan hamba-Nya Ibrahim. Tidak kita temukan dalam kitab Allah SWT penyebutan seorang nabi yang Allah SWT angkat sebagai kekasih-Nya kecuali Ibrahim. Hanya ia yang Allah SWT khususkan dengan firman-Nya:</p>
<p>&#8220;Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.&#8221; (QS. an-Nisa&#8217;: 125)</p>
<p>Para ulama berkata bahwa al-Hullah adalah rasa cinta yang sangat. Demikianlah pengertian dari ayat tersebut. Allah SWT mengangkat Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Ini merupakan suatu kedudukan yang mulia dan sangat tinggi. Di hadapan kedudukan yang tinggi ini, Ibrahim duduk dan merenung: aku telah memperoleh dan apa yang aku peroleh. Hati apakah yang ada di dalam diri Nabi Ibrahim, rahmat apa yang diciptakan, dan kemuliaan apa yang dibentuk, dan cinta apa yang diberikan. Sesungguhnya puncak harapan para pejalan rohani dan tujuan akhir para sufi adalah &#8220;merebut&#8221; cinta Allah SWT. Bukankah setiap orang membayangkan dan mengangan-angankan untuk mendapatkan cinta dari Allah SWT? Demikianlah harapan setiap manusia.</p>
<p>Nabi Ibrahim adalah seorang harnba Allah SWT yang berhak diangkat-Nya menjadi al-Khalil (kekasih Allah SWT). Itu adalah derajat dari derajat-derajat kenabian yang kita tidak mengetahui nilainya. Kita juga tidak mengetahui bagaimana kita menyifatinya. Berapa banyak pernyataan-pernyataan manusia berkaitan dengan hal tersebut, namun rasa-rasanya ia laksana penjara yang justru menggelapkannya. Kita di hadapan karunia Ilahi yang besar yang terpancar dari cahaya langit dan bumi. Adalah hal yang sangat mengagumkan bahwa setiap kali Nabi Ibrahim mendapatkan ujian dan kepedihan, beliau justru menciptakan permata. Adalah hal yang sangat mengherankan bahwa hati yang suci ini justru menjadi matang sejak usia dini.</p>
<p>Al-Qur&#8217;an al-Karim tidak menceritakan tentang proses kelahirannya dan masa kecilnya. Kita mengetahui bahwa di masa Nabi Ibrahim manusia terbagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama menyembah patung-patung yang terbuat dari kayu dan batu. Kelompok kedua menyembah bintang dan bulan dan kelompok ketiga menyembah raja-raja atau penguasa. Cahaya akal saat itu padam sehingga kegelapan memenuhi segala penjuru bumi. Akhirnya, kehausan bumi untuk mendapatkan rahmat dan kelaparannya terhadap kebenaran pun semakin meningkat. Dalam suasana yang demikianlah Nabi Ibrahim dilahirkan. Ia dilahirkan dari keluarga yang mempunyai keahlian membuat patung atau berhala. Disebutkan bahwa ayahnya meninggal sebelum ia dilahirkan kemudian ia diasuh oleh pamannya di mana pamannya itu menduduki kedu­dukan ayahnya. Nabi Ibrahim pun memanggil dengan sebutan-sebutan yang biasa ditujukan kepada seorang ayah. Ada juga ada yang mengatakan bahwa ayahnya tidak meninggal dan Azar adalah benar-benar ayahnya. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa Azar adalah nama salah satu patung yang cukup terkenal yang dibuat oleh ayahnya. Alhasil, Ibrahim berasal dari keluarga semacam ini.</p>
<p>Kepala keluarga Ibrahim adalah salah seorang seniman yang terbiasa memahat patung-patung sehingga profesi si ayah mendapatkan kedudukan istimewa di tengah-tengah kaumnya. Keluarga Nabi Ibrahim sangat dihormati. Dalam bahasa kita saat ini bisa saja ia disebut dengan keluarga aristokrat. Dari keluarga semacam ini lahir seorang anak yang mampu menentang penyimpangan dari keluarganya sendiri, dan menentang sistem masyarakat yang rusak serta melawan berbagai macam ramalan para dukun, dan menentang penyembahan berhala dan bintang, serta segala bentuk kesyirikan. Akhirnya, beliau mendapatkan ujian berat saat beliau dimasukkan ke dalam api dalam keadaan hidup-hidup. Kita tidak ingin mendahului peristiwa tersebut. Kami ingin memulai kisah Nabi Ibrahim sejak masa kecilnya. Nabi Ibrahim adalah seseorang yang akalnya cemerlang sejak beliau berusia muda. Allah SWT menghidupkan hatinya dan akalnya dan memberinya hikmah sejak masa kecilnya.</p>
<p>Nabi Ibrahim mengetahui saat beliau masih kecil bahwa ayahnya seseorang yang membuat patung-patung yang unik.[1] Pada suatu hari, ia bertanya terhadap ciptaan ayahnya kemudian ayahnya memberitahunya bahwa itu adalah patung-patung dari tuhan-tuhan. Nabi Ibrahim sangat keheranan melihat hal tersebut, kemudian timbul dalam dirinya—melalui akal sehatnya—penolakan terhadapnya. Uniknya, Nabi Ibrahim justru bermain-main dengan patung itu saat ia masih kecil, bahkan terkadang ia menunggangi pung­gung patung-patung itu seperti orang-orang yang biasa menung­gang keledai dan binatang tunggangan lainya. Pada suatu hari, ayahnya melihatnya saat menunggang punggung patung yang bernama Mardukh. Saat itu juga ayahnya marah dan memerintahkan anaknya agar tidak bermain-main dengan patung itu lagi.</p>
<p>Ibrahim bertanya: &#8220;Patung apakah ini wahai ayahku? Kedua telinganya besar, lebih besar dari telinga kita.&#8221; Ayahnya menjawab: &#8220;Itu adalah Mardukh, tuhan para tuhan wahai anakku, dan kedua telinga yang besar itu sebagai simbol dari kecerdasan yang luar biasa.&#8221; Ibrahim tampak tertawa dalam dirinya padahal saat itu beliau baru menginjak usia tujuh tahun.</p>
<p>Injil Barnabas melalui lisan Nabi Isa menceritakan kepada kita, bahwa Nabi Ibrahim mengejek ayahnya saat beliau masih kecil. Suatu hari, Ibrahim bertanya kepada ayahnya: &#8220;Siapa yang menciptakan manusia wahai ayahku?&#8221; Si ayah menjawab: &#8220;Manusia, karena akulah yang membuatmu dan ayahku yang membuat aku.&#8221; Ibrahim justru menjawab: &#8220;Tidak demikian wahai ayahku, karena aku pernah mendengar seseorang yang sudah tua yang berkata: &#8220;Wahai Tuhanku mengapa Engkau tidak memberi aku anak.&#8221;</p>
<p>Si ayah berkata: &#8220;Benar wahai anakku, Allah yang membantu manusia untuk membuat manusia namun Dia tidak meletakkan tangan-Nya di dalamnya. Oleh karena itu, manusia harus menunjukkan kerendahan di hadapan Tuhannya dan memberikan kurban untuk-Nya.&#8221; Kemudian Ibrahim bertanya lagi: &#8220;Berapa banyak tuhan-tuhan itu wahai ayahku?&#8221; Si ayah menjawab: &#8220;Tidak ada jumlahnya wahai anakku.&#8221; Ibrahim berkata: &#8220;Apa yang aku lakukan wahai ayahku jika aku mengabdi pada satu tuhan lalu tuhan yang lain membenciku karena aku tidak mengabdi pada-Nya? Bagaimana terjadi persaingan dan pertentangan di antara tuhan? Bagaimana seandainya tuhan yang membenciku itu membunuh tuhanku? Boleh jadi ia membunuhku juga.&#8221;</p>
<p>Si ayah menjawab dengan tertawa: &#8220;Kamu tidak perlu takut wahai anakku, karena tidak ada permusuhan di antara sesama tuhan. Di dalam tempat penyembahan yang besar terdapat ribuan tuhan dan sampai sekarang telah berlangsung tujuh puluh tahun. Meskipun demikian, belum pernah kita mendengar satu tuhan memukul tuhan yang lain.&#8221; Ibrahim berkata: &#8220;Kalau begitu terdapat suasana harmonis dan kedamaian di antara mereka.&#8221;Si ayah menjawab: &#8220;Benar.&#8221;</p>
<p>Ibrahim bertanya lagi: &#8220;Dari apa tuhan-tuhan itu diciptakan? Orang tua itu menjawab: &#8220;Ini dari kayu-kayu pelepah kurma, itu dari zaitun, dan berhala kecil itu dari gading. Lihatlah alangkah indahnya. Hanya saja, ia tidak memiliki nafas.&#8221; Ibrahim berkata: &#8220;Jika para tuhan tidak memiliki nafas, maka bagaimana mereka dapat memberikan nafas? Bila mereka tidak memiliki kehidupan bagiamana mereka memberikan kehidupan? Wahai ayahku, pasti mereka bukan Allah.&#8221; Mendengar ucapan Ibrahim itu, sang ayah menjadi berang dan marah sambil berkata: &#8220;Seandainya engkau sudah dewasa niscaya aku pukul dengan kapak ini.&#8221;</p>
<p>Ibrahim berkata: &#8220;Wahai ayahku, jika para tuhan mambantu dalam penciptaan manusia, maka bagaimana mungkin manusia menciptakan tuhan? Jika para tuhan diciptakan dari kayu, maka membakar kayu merupakan kesalahan besar, tetapi katakanlah wahai ayahku, bagaimana engkau menciptakan tuhan-tuhan dan membuat baginya tuhan yang cukup baik, namun bagaimana tuhan-tuhan membantumu untuk membuat anak-anak yang cukup banyak sehingga engkau menjadi orang yang paling kuat di dunia?&#8221;</p>
<p>Selesailah dialog antara Ibrahim dan ayahnya dengan terjadinya pemukulan oleh si ayah terhadap Ibrahim. Kemudian berlalulah hari demi hari dan Ibrahim menjadi besar. Sejak usia anak-anak, hati Ibrahim menanam rasa benci terhadap patung-patung yang dibuat oleh ayahnya sendiri. Ibrahim tidak habis mengerti, bagaimana manusia yang berakal membuat patung-patung dengan tangannya sendiri kemudian setelah itu ia sujud dan menyembah terhadap apa yang dibuatnya.</p>
<p>Ibrahim memperhatikan bahwa patung-patung tersebut tidak makan dan minum dan tidak mampu berbicara, bahkan seandainya ada seseorang yang membaliknya ia tidak mampu bangkit dan berdiri sebagaimana asalnya. Bagaimana manusia membayangkan bahwa patung-patung tersebut dapat mendatangkan bahaya dan memberikan manfaat? Pemikiran ini banyak merisaukan Ibrahim dalam tempo yang lama. Apakah mungkin semua kaumnya bersalah sementara hanya ia yang benar? Bukankah yang demikian ini sangat mengherankan?</p>
<p>Kaum Nabi Ibrahim mempunyai tempat penyembahan yang besar yang dipenuhi berbagai macam berhala. Di tengah-tengah tempat penyembahan itu terdapat mihrab yang diletakkan di dalamnya patung-patung yang paling besar. Ibrahim mengunjungi tempat itu bersama ayahnya saat ia masih kecil. Ibrahim memandang berhala-berhala yang terbuat dari batu-batuan dan kayu itu dengan pandangan yang menghinakan. Hal ini sangat mengheran­kan masyarakat pada saat itu karena saat memasuki tempat penyem­bahan itu, mereka menampakkan ketundukan dan kehormatan di hadapan patung-patung. Bahkan mereka mengangis dan memohon berbagai macam hal. Seakan-akan patung-patung itu mendengar apa yang mereka keluhkan dan bicarakan.</p>
<p>Mula-mula pemandangan tersebut membuat Ibrahim tertawa kemudian lama-lama Ibrahim marah. Hal yang mengherankan baginya bahwa manusia-manusia itu semuanya tertipu, dan yang semakin memperumit masalah adalah, ayah Ibrahim ingin agar Ibrahim menjadi dukun saat ia besar. Ayah Ibrahim tidak menginginkan apa-apa kecuali agar Ibrahim memberikan penghormatan kepada patung-patuung itu, namun ia selalu mendapati Ibrahim menentang dan meremehkan patung-patung itu.</p>
<p>Pada suatu hari Ibrahim bersama ayahnya masuk di tempat penyembahan itu. Saat itu terjadi suatu pesta dan perayaan di hadapan patung-patung, dan di tengah-tengah perayaan tersebut terdapat seorang tokoh dukun yang memberikan pengarahan tentang kehebatan tuhan berhala yang paling besar. Dengan suara yang penuh penghayatan, dukun itu memohon kepada patung agar menyayangi kaumnya dan memberi mereka rezeki. Tiba-tiba keheningan saat itu dipecah oleh suara Ibrahim yang ditujukan kepada tokoh dukun itu: &#8220;Hai tukang dukun, ia tidak akan pernah mendengarmu. Apakah engkau meyakini bahwa ia mendengar?&#8221; Saat itu manusia mulai kaget. Mereka mencari dari mana asal suara itu. Ternyata mereka mendapati bahwa suara itu suara Ibrahim. Lalu tokoh dukun itu mulai menampakkan kerisauan dan kemarahannya. Tiba-tiba si ayah berusaha menenangkan keadaan dan mengatakan bahwa anaknya sakit dan tidak mengetahui apa yang dikatakan.</p>
<p>Lalu keduanya keluar dari tempat penyembahan itu. Si ayah menemani Ibrahim menuju tempat tidurnya dan berusaha menidurkannya dan meninggalkannya setelah itu. Namun, Ibrahim tidak begitu saja mau tidur ketika beliau melihat kesesatan yang menimpa manusia. Beliau pun segera bangkit dari tempat tidurnya. Beliau bukan seorang yang sakit. Beliau merasa dihadapkan pada peristiwa yang besar. Beliau menganggap mustahil bahwa patung-patung yang terbuat dari kayu-kayu dan batu-batuan itu menjadi tuhan bagi kaumnya. Ibrahim keluar dari rumahnya menuju ke gunung. Beliau berjalan sendirian di tengah kegelapan. Beliau memilih salah satu gua di gunung, lalu beliau rnenyandarkan punggungnya dalam keadaan duduk termenung. Beliau memperhatikan langit. Beliau mulai bosan memandang bumi yang dipenuhi dengan suasana jahiliyah yang bersandarkan kepada berhala.</p>
<p>Tidak lama setelah Nabi Ibrahim memperhatikan langit kemudian beliau melihat-lihat berbagai bintang yang disembah di bumi. Saat itu hati Nabi Ibrahim—sebagai pemuda yang masih belia— merasakan kesedihan yang luar biasa. Lalu beliau melihat apa yang di belakang bulan dan bintang. Hal itu sangat mengagumkannya. Mengapa manusia justru menyembah ciptaan Tuhan? Bukankah semua itu muncul dan tenggelam dengan izin-Nya. Nabi Ibrahim mengalami dialog internal dalam dirinya. Allah SWT menceritakan keadaan ini dalam surah al-An&#8217;am:</p>
<p>&#8220;Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar: &#8216;Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.&#8217; Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan Kami (memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: &#8216;Inilah Tuhanku,&#8217; tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata: &#8216;Saya tidak suka kepada yang tenggelam.&#8217;&#8221; (QS. al-An&#8217;am: 74-76)</p>
<p>Al-Qur&#8217;an tidak menceritakan kepada kita peristiwa atau suasana yang dialami Ibrahim saat menyatakan sikapnya dalam hal itu, tapi kita merasa dari konteks ayat tersebut bahwa pengumuman ini terjadi di antara kaumnya. Dan tampak bahwa kaumnya merasa puas dengan hal tersebut. Mereka mengira bahwa Ibrahim menolak penyembahan berhala dan cenderung pada penyembahan bintang. Kita ketahui bahwa di zaman Nabi Ibrahim manusia menjadi tiga bagian. Sebagian mereka menyembah berhala sebagian lagi me­nyembah bintang, dan sebagian yang lain menyembah para raja. Namun di saat pagi, Nabi Ibrahim mengingatkan kaumnya dan membikin mereka terkejut di mana bintang-bintang yang diyakininya kemarin kini telah tenggelam. Ibrahim mengatakan bahwa ia tidak menyukai yang tenggelam. Allah SWT berfirman:</p>
<p>&#8220;Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: &#8216;Inilah Tuhanku.&#8217;&#8221; (QS. al-An&#8217;am: 76)</p>
<p>Ibrahim kembali merenung dan memberitahukan kaumnya pada malam kedua bahwa bulan adalah tuhannnya. Kaum Nabi Ibrahim tidak mengetahui atau tidak memiliki kapasitas logika yang cukup atau kecerdasan yang cukup, bahwa sebenarnya Ibrahim ingin menyadarkan dengan cara sangat lembut dan dan penuh cinta. Bagaimana mereka menyembah tuhan yang terkadang tersembunyi dan terkadang muncul atau terkadang terbit dan ter­kadang tenggelam. Mula-mula kaum Nabi Ibrahim tidak mengeta­hui yang demikian itu. Pertama-tama Ibrahim menyanjung bulan tetapi ternyata bulan seperti bintang yang lain, ia pun muncul dan tenggelam: Allah SWT berfirman:</p>
<p>&#8220;Kemudian tatkala dia melihat sebuah bulan terbit dia berkata: &#8216;Ini­lah Tuhanku.&#8217; Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: &#8216;Sesung­guhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.&#8217;&#8221; (QS. al-An&#8217;am: 77)</p>
<p>Kita perhatikan di sini bahwa beliau berbicara dengan kaumnya tentang penolakan penyernbahan terhadap bulan. Ibrahim berhasil &#8220;merobek&#8221; keyakinan terhadap penyernbahan bulan dengan penuh kelembutan dan ketenangan. Bagaimana manusia menyembah tuhan yang terkadang tersembunyi dan terkadang muncul. Sungguh, kata Ibrahim, betapa aku membayangkan apa yang terjadi padaku jika Tuhan tidak membimbingku. Nabi Ibrahim mengisyaratkan kepada mereka bahwa beliau memiliki Tuhan, bukan seperti tuhan-tuhan yang mereka sembah. Namun lagi-lagi mereka belum mampu menangkap isyarat Nabi Ibrahim. Beliau pun kembali menggunakan argumentasi untuk menundukkan kelompok pertama dari kaumnya, yaitu penyembah bintang. Allah SWT berfirman:</p>
<p>&#8220;Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: &#8216;Inilah Tuhanku. Inilah yang lebih besar.&#8217; Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: &#8216;Hai kaumkku, sesungguhnya aku berlepas dirt dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.&#8217;&#8221; (QS. al-An&#8217;am: 78-79)</p>
<p>Ibrahim berdialog dengan penyembah matahari. Beliau memberitahukan bahwa matahari adalah tuhannya karena dia yang terbesar. Lagi-lagi Ibrahim memainkan peran yang penting dalam rangka menggugah pikiran mereka. Para penyembah matahari tidak mengetahui bahwa mereka menyembah makhluk. Jika mere­ka mengira bahwa ia adalah besar, maka Allah SWT Maha Besar.</p>
<p>Setelah Ibrahim memberitahukan bahwa matahari adalah tuhannya, beliau menunggu saat yang tepat sehingga matahari itu tenggelam dan ternyata benar dia bagaikan sembahan-sembahan yang lain yang suatu saat akan tenggelam. Setelah itu Ibrahim memploklamirkan bahwa beliau terbebas dari penyernbahan bintang.</p>
<p>Ibrahim mulai memandang dan memberikan pengarahan kepada kaumnya bahwa di sana ada Pencipta langit dan bumi. Argumen­tasi Ibrahim mampu memunculkan kebenaran, tetapi sebagaimana biasa kebatilan tidak tunduk begitu saja. Mereka mulai menampakkan taringnya dan mulai menggugat keberadaan dan kenekatan Ibrahim as. Mereka mulai menentang Nabi Ibrahim dan mulai mendebatnya dan bahkan mengancamnya. Allah SWT berfirman:</p>
<p>&#8220;Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: &#8220;Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali jika Tuhanku mengendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apahah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ? Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah) padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui)?&#8217;&#8221; (QS. al-An&#8217;am: 80-81)</p>
<p>Kita tidak mengetahui sampai sejauh mana ketajaman pergulatan antara Nabi Ibrahim dan kaumnya, dan bagaimana cara mereka menakut-nakuti Nabi Ibrahim. Al-Qur&#8217;an tidak menyinggung hal tersebut. Namun yang jelas, tempat mereka yang penuh kebatilan itu mampu dilumpuhkan oleh Al-Qur&#8217;an. Dari cerita tersebut, Al-Qur&#8217;an mengemukakan Nabi bahwa Ibrahim menggunakan logika seorang yang berpikir sehat. Menghadapi berbagai tantangan dan ancaman dari kaumnya, Nabi Ibrahim justru mendapatkan kedamaian dan tidak takut kepada mereka. Allah SWT berfirman:</p>
<p>&#8220;Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukan iman mereka dengan kelaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang men­dapat petunjuk. &#8221; (QS. al-An&#8217;am: 82)</p>
<p>Allah SWT selalu memberikan hujah atau argumentasi yang kuat kepada Nabi Ibrahim sehingga beliau mampu menghadapi kaumnya. Allah SWT berfirman:</p>
<p>&#8220;Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. &#8221; (QS. al-An&#8217;am: 83)</p>
<p>Ibrahim didukung oleh Allah SWT dan diperlihatkan kerajaan langit dan bumi. Demikianlah Nabi Ibrahim terus melanjutkan penentangan pada penyembahan berhala. Tentu saat ini pergulatan dan pertentangan antara beliau dan kaumnya semakin tajam dan semakin meluas. Beban yang paling berat adalah saat beliau harus berhadapan dengan ayahnya, di mana profesi si ayah dan rahasia kedudukannya merupakan biang keladi dari segala penyembahan yang diikuti mayoritas kaumnya. Nabi Ibrahim keluar untuk berdakwah kepada kaumnya dengan berkata:</p>
<p>&#8220;Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya? Mereka menjawab: &#8216;Kami mendapati bapak-bapak Kami menyembahnya.&#8221; Ibrahim berkata: &#8216;Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.&#8217; Mereka menjawab: &#8216;Apakah kamu datang kepada kami sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang yang bermain-main?&#8217; Ibrahim berkata: &#8216;Sebenarnya tuhan kamu adalah Tuhan langit dan burnt yang telah menciptakan-Nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.&#8217;&#8221; (QS. al-Anbiya&#8217;: 52-56)</p>
<p>Selesailah urusan. Mulailah terjadi pergulatan antara Nabi Ibrahim dan kaumnya. Tentu yang termasuk orang yang paling menentang beliau dan marah kepada sikap beliau itu adalah ayahnya dan pamannya yang mendidiknya laksana seorang ayah. Akhirnya, si ayah dan si anak terlibat dalam pergulatan yang sengit di mana kedua-duanya dipisahkan oleh prinsip-primsip yang berbeda. Si anak bertengger di puncak kebenaran bersama Allah SWT sedangkan si ayah berdiri bersama kebatilan. Si ayah berkata kepa­da anaknya: &#8220;Sungguh besar ujianku kepadamu wahai Ibrahim. Engkau telah berkhianat kepadaku dan bersikap tidak terpuji kepadaku.&#8221; Ibrahim menjawab:</p>
<p>&#8220;Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah setan, sesung­guhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dan Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan.&#8217;&#8221; (QS. Maryam: 42-45)</p>
<p>Sang ayah segera bangkit dan ia tak kuasa lagi untuk meledakkan amarahnya kepada Ibrahim:</p>
<p>&#8220;Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan aku rajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.&#8221; (QS. Maryam: 46)</p>
<p>Jika engkau tidak berhenti dari dakwahmu ini, sungguh aku akan merajammu. Aku akan membunuhmmu dengan pukulan batu. Demikian balasan siapa pun yang menentang tuhan. Keluarlah dari rumahku! Aku tidak ingin lagi melihatmu. Keluar!</p>
<p>Akhirnya, pertentangan itu membawa akibat pengusiran Nabi Ibrahim dari rumahnya, dan beliau pun terancam pembunuhan dan perajaman. Meskipun demikian, sikap Nabi Ibrahim tidak pernah berubah. Beliau tetap menjadi anak yang baik dan Nabi yang mulia. Beliau berdialog dengan ayahnya dengan menggunakan adab para nabi dan etika para nabi. Ketika mendengar penghinaan, pengusiran, dan ancaman pembunuhan dari ayahnya, beliau berkata dengan lembut:</p>
<p>&#8220;Semoga keselamatan dilimpahkan hepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku, sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu sent selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.&#8217;&#8221; (QS. Maryam: 47-48)</p>
<p>Nabi Ibrahim pun keluar dari rumah ayahnya. Beliau meninggalkan kaumnya dan sesembahan-sembahan selain Allah SWT. Beliau menetapkan suatu urusan dalam dirinya, beliau mengetahui bahwa di sana ada pesta besar yang diadakan di tepi sungai di mana manusia-manusia berbondong-bondong menuju kesana. Beliau menunggu sampai perayaan itu datang di mana saat itu kota men­jadi sunyi karena ditinggalkan oleh manusia yang hidup di dalamnya dan mereka menuju ke tempat itu. Jalan-jalan yang menuju tempat penyembahan menjadi sepi dan tempat penyembahan itu pun ditinggalkan oleh penjaganya. Semua orang mengikuti pesta itu.</p>
<p>Dengan penuh hati-hati, Ibrahim memasuki tempat penyembahan dengan membawa kapak yang tajam. Ibrahim melihat patung-patung tuhan yang terukir dari batu-batu dan kayu-kayu. Ibrahim pun melihat makanan yang diletakkan oleh manusia di depannya sebagai hadiah dan nazar. Ibrahim mendekat pada patung-patung itu. Kepada salah satu patung—dengan nada bercanda—ia berkata: &#8220;Makanan yang ada di depanmu hai patung telah dingin. Mengapa engkau tidak memakannya. Namun patung itu tetap membisu.&#8221; Ibrahim pun bertanya kepada patung-patung lain di sekitarnya:</p>
<p>&#8220;Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata&#8221; Mengapa kalian tidak makan?&#8221; (QS. ash-Shaffat: 91)</p>
<p>Ibrahim mengejek patung-patung itu. Ibrahim mengetahui bahwa patung itu memang tidak dapat memakannya. Ibrahim bertanya kepada patung-patung itu:</p>
<p>&#8220;Mengapa kamu tidak menjawab?&#8221; (QS. ash-Shaffat: 92)</p>
<p>Ibrahim pun langsung mengangkat kapak yang ada di tangannya dan mulai menghancurkan tuhan-tuhan yang palsu yang disembah oleh manusia. Ibrahim menghancurkan seluruh patung-patung itu dan hanya menyisakan satu patung, lalu beliau menggantungkan kapak itu dilehernya. Setelah melaksanakan tugas itu, beliau pergi menuju ke gunung. Beliau telah bersumpah untuk membawa suatu bukti yang jelas, bahkan bukti praktis tentang kebodohan kaumnya dalam menyembah selain Allah SWT.</p>
<p>Akhirnya, pesta perayaan itu selesai dan manusia kembali ke tempat mereka masing-masing. Dan ketika salah seorang masuk ke tempat sembahan itu ia pun berteriak. Manusia-manusia datang menolongnya dan ingin mengetahui apa sebab di balik teriakan itu. Dan mereka mengetahui bahwa tuhan-tuhan semuanya telah hancur yang tersisa hanya satu. Mereka mulai berpikir siapa penyebab semua ini. Akhirnya mereka pun mengetahui dan menyadari bahwa ini adalah ulah Ibrahim yang telah mengajak mereka untuk me­nyembah Allah SWT:</p>
<p>&#8220;Mereka berkata: &#8220;Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim&#8221;.&#8221; (QS. al-Anbiya&#8217;: 60)</p>
<p>Mereka segera mendatangi Ibrahim. Ketika Ibrahim datang mereka bertanya kepadanya:</p>
<p>&#8220;Mereka bertanya: &#8220;Apakah benar engkau yang melakukan semua ini terhadap tuhan kami wahai Ibrahim?&#8221; (QS. al-Anbiya&#8217;: 62)</p>
<p>Ibrahim membalas dengan senyuman lalu ia menunjuk kepada tuhan yang paling besar yang tergantung di lehernya sebuah kapak. &#8220;Tidak!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ibrahim menjawab: &#8220;Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara&#8221;. &#8221; (QS. al-Anbiya&#8217;: 63)</p>
<p>Para dukun berkata: &#8220;Siapa yang harus kita tanya?&#8221; Ibrahim menjawab: &#8220;Tanyalah kepada tuhan kalian.&#8221; Kemudian mereka berkata: &#8220;Bukankah engkau mengetahui bahwa tuhan-tuhan itu tidak berbicara.&#8221; Ibrahim membalas: &#8220;Mengapa kalian menyembah se­suatu yang tidak mampu berbicara, sesuatu yang tidak mampu memberikan manfaat dan sesuatu yang tidak mampu memberikan mudarat. Tidakkah kalian mau berpikir sebentar di mana letak akal kalian. Sungguh tuhan-tuhan kalian telah hancur sementara tuhan yang paling besar berdiri dan hanya memandanginya. Tuhan-tuhan itu tidak mampu menghindarkan gangguan dari diri mereka, dan bagaimana mereka dapat mendatangkan kebaikan buat kalian. Tidakkah kalian mau berpikir sejenak. Kapak itu tergantung di tuhan yang paling besar tetapi anehnya dia tidak dapat menceritakan apa yang terjadi. Ia tidak mampu berbicara, tidak mendengar, tidak bergerak, tidak melihat, tidak memberikan manfaat, dan tidak membahayakan. Ia hanya sekadar batu, lalu mengapa manusia menyembah batu? Di mana letak akal pikiran yang sehat?&#8221; Allah SWT menceritakan peristiwa tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p>&#8220;Dan sesungguhnya telah kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui keadaannya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: &#8216;Patung-patung itu apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya ?&#8217; Mereka menjawab: &#8220;Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.&#8217; Ibrahim menjawab: &#8216;Sesungguh­nya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.&#8217; Mereka menjawab: &#8216;Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?&#8217; Ibrahim berkata: &#8216;Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku ter­masuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas apa yang demikian itu. Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.&#8217; Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: &#8216;Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang lalim.&#8217; Mereka berkata: &#8216;Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.&#8217; Mereka berkata: &#8216;(Kalau demikian) Bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikannya.&#8217; Mereka bertanya: &#8216;Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?&#8217; Ibrahim menjawab: &#8216;Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.&#8217; Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata: &#8216;Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).&#8217; Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.&#8217; Ibrahim berkata:, maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun tidak dapat pula memberi mudarat kepada kamu?&#8217; Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahaminya? Mereka berkata: &#8216;Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kami jika kamu benar-benar hendak bertindak.&#8217;&#8221; (QS. al-Anbiya&#8217;: 51-68)</p>
<p>Nabi Ibrahim mampu menundukkan mereka dengan argumentasi dan logika berpikir yang sehat. Tetapi mereka membalasnya dengan menetapkan akan menggantungnya di dalam api. Sungguh ini sangat mengherankan. Suatu mahkamah yang mengerikan digelar di mana si tertuduh akan dihukum dengan pembakaran.</p>
<p>Demikianlah masalah pergulatan antara pemikiran, atau antara nilai-nilai, atau antara prinsip-prinsip selalu terjadi dan selalu membara di tengah-tengah masyarakat. Nabi Ibrahim sudah berusaha untuk menggugah hati dan pikiran Ketika beliau mengisyaratkan kepada tuhan yang paling besar dan menuduhnya bahwa ialah yang menghancurkan tuhan-tuhan yang lain. Nabi Ibrahim meminta kepada mereka untuk bertanya kepada para tuhan itu, tentang siapa yang membuatnya hancur. Tetapi para tuhan itu ddak mampu berbicara lalu mengapa manusia menyembah sesuatu yang tidak mampu berbicara dan tidak mengerti apa-apa.</p>
<p>Ketika Nabi Ibrahim berhasil merobohkan argumentasi mereka, maka orang-orang yang sombong bangkit untuk menenangkan suasana. Para penentang itu tidak mau manusia akan menyembah selain berhala. Mereka pun mengatakan akan menggantung dan akan membakar Ibrahim hidup-hidup. Nabi Ibrahim pun ditangkap lalu disiapkanlah tempat pembakaran. Para penentang itu berkata kepada pengikutnya: &#8220;Bakarlah Ibrahim, dan tolonglah tuhan kalian jika kalian benar-benar menyembahnya.&#8221; Mereka pun terpengaruh dengan ucapan tersebut. Mereka pun menyiapkan alat-alat untuk membakar Nabi Ibrahim.</p>
<p>Tersebarlah berita itu di kerajaan dan di seluruh negeri. Manusia-manusia berdatangan dari berbagai pelosok, dari gunung-gunung, dari berbagai desa, dan dari berbagai kota untuk menyaksikan balasan yang diterima bagi orang yang berani menentang tuhan, bahkan menghancurkannya. Mereka menggali lobang besar yang dipenuhi kayu-kayu, batu-batu, dan pohon-pohon lalu mereka menyalakan api di dalamnya. Kemudian mereka mendatangkan manjaniq, yaitu suatu alat yang dapat digunakan untuk melempar Nabi Ibrahim ke dalam api sehingga ia jatuh ke dalam lubang api. Mereka meletakkan Nabi Ibrahim setelah mereka mengikat kedua tangannya dan kakinya pada manjaniq itu. Api pun mulai menyala dan asapnya mulai membumbung ke langit. Manusia yang melihat peristiwa itu berdiri agak jauh dari galian api itu karena saking panasnya. Lalu, seorang tokoh dukun memerintahkan agar Ibrahim dilepaskan ke dalam api. Tiba-tiba malaikat Jibril berdiri di hadapan Nabi Ibrahim dan bertanya kepadanya: &#8220;Wahai Ibrahim, tidakkah engkau memiliki keperluan?&#8221; Nabi Ibrahim menjawab: &#8220;Aku tidak memerlukan sesuatu darimu.&#8221; Nabi Ibrahim pun dilepaskan lalu dimasukkan ke dalam kubangan api. Nabi Ibrahim terjatuh dalam api. Api pun mulai mengelilinginya, lalu Allah SWT menurunkan perintah kepada api, Allah SWT berkata:</p>
<p>&#8220;Kami berfirman: Wahai api jadilah engkau dingin dan membawa keselamatan kepada Ibrahim.&#8221; (QS. al-Anbiya&#8217;: 69)</p>
<p>Api pun tunduk kepada perintah Allah SWT sehingga ia menjadi dingin dan membawa keselamatan bagi Nabi Ibrahim. Api hanya membakar tali-tali yang mengikat Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim dengan tenang berada di tengah-tengah api seakan-akan beliau duduk di tengah-tengah taman. Beliau memuji Allah SWT, Tuhannya dan mengagungkan-Nya. Yang ada di dalam hatinya hanya cinta kepada sang Kekasih, yaitu Allah SWT.</p>
<p>Hati Nabi Ibrahim tidak dipenuhi rasa takut atau menyesal atau berkeluh kesah. Yang ada dalam hati beliau hanya cinta semata. Api pun menjadi damai dan menjadi dingin. Sesungguhnya orang-orang yang cinta kepada Allah SWT tidak akan merasakan ketakutan. Para pembesar dan para dukun mengamat-amati dari jauh betapa panasnya api itu. Bahkan api terus menyala dalam tempo yang lama, sehingga orang-orang kafir mengira bahwa api itu tidak pernah padam. Ketika api itu padam, mereka dibuat terkejut ketika melihat Nabi Ibrahim keluar dari kubangan api dalam keadaan selamat. Wajah mereka menjadi hitam karena terpengaruh asap api sementara wajah Nabi Ibrahim berseri-seri dan tampak diliputi dengan cahaya dan kebesaran. Bahkan pakaian yang dipakai Nabi Ibrahim pun tidak terbakar, dan beliau tidak tersentuh sedikit pun oleh api. Nabi Ibrahim pun keluar dari api itu bagaikan beliau keluar dari taman. Lalu orang-orang kafir pun berteriak keheranan. Mereka pun mendapatkan kekalahan dan kerugian. Allah SWT berfirman:</p>
<p>&#8220;Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi.&#8221; (QS. al-Anbiya&#8217;: 70)</p>
<p>Al-Qur&#8217;an tidak menceritakan kepada kita tentang usia Nabi Ibrahim saat menghancurkan berhala-berhala kaumnya. Al-Qur&#8217;an juga tidak menceritakan berapa usia beliau saat memikul tanggung jawab dakwah dan menyeru di jalan Allah SWT. Melalui pelacakan nas-nas dapat diketahui bahwa Nabi Ibrahim saat itu masih muda belia, ketika melakukan peristiwa besar itu. Bukti hal itu adalah, ketika para kaumnya mendengar penghancuran berhala, mereka berkata:</p>
<p>&#8220;Mereka berkata: &#8220;Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.&#8221; (QS. al-Anbiya&#8217;: 60)</p>
<p>Injil Barnabas menceritakan bahwa Nabi Ibrahim menghancurkan patung-patung sebelum Allah SWT mewajibkannya berdakwah. Injil Barnabas mengatakan pada pasal ke 29 bahwa Nabi Ibrahim mendengar suatu suara yang memanggil-manggilnya. Nabi Ibrahim bertanya: &#8220;Siapa yang memanggilku?&#8221; Ketika itu Nabi Ibrahim men­dengar suara yang berkata: &#8220;Aku adalah malaikat Jibril. Nabi Ibrahim menjadi takut, tetapi malaikat itu segera menenangkannya sambil berkata: &#8220;Jangan takut, hai Ibrahim karena engkau adalah kekasih Allah SWT, dan ketika engkau menghancurkan tuhan-tuhan sembahan manusia, Allah SWT memilihmu sebagai pemimpin para malaikat dan para nabi.&#8221; Kemudian—masih kata Injil Barnabas: &#8220;Nabi Ibrahim bertanya apa yang harus dilakukan untuk menyembah tuhan para malaikat dan para nabi?&#8221; Jibril menjawab: &#8220;Bahwa hendaklah beliau pergi ke sumber ini dan mandi, agar dapat mendaki gunung sehingga Allah SWT berbicara dengannya.&#8221;</p>
<p>Kemudian Nabi Ibrahim mendaki gunung, lalu Allah SWT menyerunya. Nabi Ibrahim menjawab: &#8220;Siapa yang memanggilku?&#8221; Allah SWT berkata: &#8220;Aku adalah Tuhanmu, hai Ibrahim.&#8221; Nabi Ibrahim gemetar ketakutan dan sujud di atas bumi dan beliau berkata: &#8220;Wahai Tuhanku, bagaimana hamba-Mu mendengar seruan-Mu sementara ia adalah tanah dan abu.&#8221; Di sanalah Allah SWT memerintahkannya agar beliau bangkit karena Allah SWT telah memilihnya sebagai hamba-Nya dan Dia telah memberkatinya dan orang-orang yang mengikutinya.</p>
<p>Riwayat tersebut menentukan waktu pemilihan Nabi Ibrahim dan waktu pengangkatannya sewaktu beliau menghancurkan berhala dan sesembahan-sesembahan manusia. Demikianlah yang diceritakan oleh Al-Qur&#8217;an al-Karim dalam firman-Nya:</p>
<p>&#8220;Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: Tunduh patuhlah!&#8217; Ibrahim menjawab: &#8216;Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.&#8221; (QS. al-Baqarah: 131)</p>
<p>Alhasil, masa pemilihan Allah SWT terhadap Nabi Ibrahim tidak ditentukan dalam Al-Qur&#8217;an, sehingga kita tidak dapat memberikan satu jawaban pasti tentang hal itu, tapi yang mampu kita utarakan adalah, bahwa Nabi Ibrahim mampu membuat argumen yang cukup jelas untuk menghancurkan argumen para penyembah berhala. Sebagaimana beliau mampu sebelumnya menghancurkan argumen para penyembah bintang, sehingga hanya tersisa satu argumen yang harus disampaikan kepada para penguasa dan para raja. Dengan demikian, orang-orang kafir telah mendapatkan seluruh argumen kebenaran.</p>
<p>Nabi Ibrahim pun akhirnya terlibat adu argumentasi dengan raja yang menyangka bahwa dirinya adalah tuhan kaumnya. Raja itu menyuruh mereka untuk menyembahnya. Dalam rangka menjaga kepentingannya, boleh jadi memang ia menyangka bahwa dirinya tuhan. Karena Allah SWT telah memberikannya suatu kerajaan yang besar, ia lupa bahwa ia hanya manusia biasa. Kita tidak mengetahui, apakah ia seorang raja atas kaum Nabi Ibrahim lalu ia mendengar kisah mukjizatnya kemudian ia memanggilnya untuk berdebat dengan beliau, atau mungkin ia raja dari daerah lain. Tapi yang kita ketahui bahwa pertemuan di antara keduanya menyebabkan jatuhnya argumen-argumen orang kafir. Allah SWT menceritakan hal tersebut dengan firman-Nya:</p>
<p>&#8220;Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: &#8216;Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan.&#8217; Orang itu berkata: &#8216;Saya dapat menghidupkan dan mematikan.&#8217; Ibrahim berkata: &#8216;Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,&#8217; lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim. &#8221; (QS. al-Baqarah: 258)</p>
<p>Allah SWT sengaja tidak menyebut nama raja itu karena dianggap tidak penting, sebagaimana Al-Qur&#8217;an juga tidak menyebut dia­log panjang yang terjadi antara Nabi Ibrahim dan dia. Barangkali raja itu berkata kepada Nabi Ibrahim: &#8220;Aku mendengar bahwa Anda mengajak manusia untuk menyembah Tuhan yang baru dan meninggalkan tuhan yang lama.&#8221; Nabi Ibrahim menjawab: &#8220;Tiada Tuhan lain selain Allah Yang Maha Esa.&#8221; Si Raja berkata: &#8220;Apa yang dilakukan oleh tuhanmu yang tidak dapat aku lakukan?&#8221; Raja yang terkena penyakit sombong dan bangga diri itu adalah raja yang tidak tahu diri. Penghormatan manusia dan ketertundukkan manu­sia kepadanya itu justru meningkatkan kesombongannya. Nabi Ibrahim mendengar apa yang dikatakan oleh si raja. Nabi Ibrahim mengetahui segala sesuatunya. Nabi Ibrahim berkata dengan lembut:</p>
<p>&#8220;Tuhanku adalah yang mampu menghidupkan dan mematikan.&#8221; (QS. al-Baqarah: 258)</p>
<p>Si raja membalas:</p>
<p>&#8220;Aku pun menghidupkan dan mematikan.&#8221; (QS. al-Baqarah: 258)</p>
<p>Nabi Ibrahim tidak bertanya bagaimana si raja menghidupkan dan mematikan. Nabi Ibrahim tahu bahwa sebenarnya ia berbohong. Raja berkata: &#8220;Aku mampu menghadirkan seseorang yang sedang berjalan lalu aku membunuhnya, dan pada kesempatan yang lain aku mampu memaafkan orang yang sudah dipastikan untuk dihukum gantung lalu aku menyelamatkannya dari kematian. Dengan demikian, aku mampu memberi kehidupan dan kematian.&#8221;</p>
<p>Mendengar kebodohannya itu, Nabi Ibrahim tertawa dan pada saat yang sama beliau merasakan kesedihan. Tetapi Nabi Ibrahim ingin mematahkan argumen raja itu yang mengatakan bahwa ia mampu menghidupkan dan mematikan, padahal sebenarnya ia tidak mampu. Nabi Ibrahim berkata:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Allah mampu mendatangkan matahari dari timur, maka kalau engkau mampu datangkanlah ia dari barat. &#8221; (QS. al-Baqarah: 258)</p>
<p>Mendengar tantangan Nabi Ibrahim itu, raja menjadi terpaku dan terdiam ia merasa tidak mampu. la tidak mampu berkata-kata lagi. Nabi Ibrahim berkata kepada raja bahwa Allah SWT mampu mendatangkan matahari dari timur, apakah ia mampu mendatangkan matahari dari barat. Tentu raja tidak mampu mendatangkannya. Alam mempunyai aturan dan undang-undang yang diatur dan diciptakan oleh Allah SWT di mana tiada makhluk yang lain yang mampu mengubahnya. Jika raja mengklaim bahwa ia benar-benar tuhan, maka tentu ia dapat mengubah hukum alam tersebut. Saat itu si raja merasa tidak mampu memenuhi tantangan itu. Ia justru membisu. Ia tidak mengetahui apa yang harus dikatakannya dan apa yang harus dilakukannya. Setelah orang-orang kafir diam mem­bisu, Nabi Ibrahim meninggalkan istana raja. Kemudian ketenaran Nabi Ibrahim tersebar di segala penjuru negeri. Manusia mulai ramai-ramai membicarakan mukjizatnya dan keselamatanya dari api. Manusia menyinggung bagaimana sikap raja ketika mendengar tantangan Nabi Ibrahim, dan bagaimana si raja menjadi membisu dan tidak mengetahui apa yang harus dikatakannya.</p>
<p>Nabi Ibrahim tetap melanjutkan dakwahnya di jalan Allah SWT. Nabi Ibrahim mencurahkan tenaga dan upayanya untuk membimbing kaumnya. Nabi Ibrahim berusaha menyadarkan mereka dengan berbagai cara. Meskipun beliau sangat cinta dan menyayangi mereka, mereka malah justru marah kepadanya dan malah mengusirnya. Dan tiada yang beriman bersamanya kecuali seorang perempuan dan seorang lelaki. Perempuan itu bernama Sarah yang kemudian menjadi istrinya sedangkan laki-laki itu adalah Luth yang kemudian menjadi nabi setelahnya.</p>
<p>Ketika Nabi Ibrahim mengetahui bahwa tidak seorang pun beriman selain kedua orang tersebut, ia menetapkan untuk berhijrah. Sebelum beliau berhijrah, ia mengajak ayahnya beriman. Kemudian Nabi Ibrahim mengetahui bahwa ayahnya adalah musuh Allah SWT dan dia tidak akan beriman. Nabi Ibrahim pun berlepas diri darinya dan memutuskan hubungan dengannya.</p>
<p>Untuk kedua kalinya dalam kisah para nabi kita mendapati hal yang mengagetkan. Dalam kisah Nabi Nuh kita menemukan bahwa si ayah seorang nabi dan si anak seorang kafir, sedangkan dalam kisah Nabi Ibrahim justru sebaliknya: si ayah yang menjadi kafir dan si anak yang menjadi nabi. Dalam kedua kisah tersebut kita mengetahui bahwa seorang mukmin berlepas diri dari musuh Allah SWT, meskipun dia adalah anaknya dan ayahnya.</p>
<p>Melalui kisah tersebut, Allah SWT memberitahukan kepada kita bahwa hubungan satu-satunya yang harus dipelihara dan harus diperhatikan di antara hubungan-hubungan kemanusiaan adalah hubungan keimanan, bukan hanya hubungan darah. Allah SWT berflrman dalam surah at-Taubah:</p>
<p>&#8220;Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. &#8221; (QS. at-Taubah: 114)</p>
<p>Nabi Ibrahim keluar meninggalkan negerinya dan memulai petualangannya dalam hijrah. Nabi Ibrahim pergi ke kota yang bernama Aur dan ke kota yang lain bernama Haran, kemudian beliau pergi ke Palestina bersama istrinya, satu-satunya wanita yang beriman kepadanya. Beliau juga disertai Luth, satu-satunya lelaki yang beriman kepadanya. Allah SWT berfirman:</p>
<p>&#8220;Maka Luth membenarkan (kenabian)nya. Dan berkatalah Ibrahim: &#8216;Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku); sesungguhnya Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.&#8217;&#8221; (QS. al-Ankabut: 26)</p>
<p>Setelah ke Palestina, Nabi Ibrahim pergi ke Mesir. Selama perjalanan ini Nabi Ibrahim mengajak manusia untuk menyembah Allah SWT, bahkan beliau berjuang dalam hal itu denqan gigih. Beliau mengabdi dan membantu orang-orang yang tidak mampu dan orang-orang yang lemah. Beliau menegakkan keadilan di tengah-tengah manusia dan menunjukkan kepada mereka jalan yang benar.</p>
<p>Istri Nabi Ibrahim, Sarah, tidak melahirkan, lalu raja Mesir memberikan seorang pembantu dari Mesir yang dapat membantunya. Nabi Ibrahim telah menjadi tua dan rambutnya memutih di mana beliau menggunakan usianya hanya untuk berdakwah di jalan Allah SWT. Sarah berpikir bahwa ia dan Nabi Ibrahim tidak akan mempunyai anak, lalu ia berpikir bagaimana seandainya wanita yang membatunya itu dapat menjadi istri kedua dari suaminya. Wanita Mesir itu bernama Hajar. Akhirnya, Sarah menikah-kan Nabi Ibrahim dengan Hajar, kemudian Hajar melahirkan anaknya yang pertama yang dinamakan oleh ayahnya dengan nama Ismail. Nabi Ibrahim saat itu menginjak usia yang sangat tua ketika Hajar melahirkan anak pertamanya, Ismail.</p>
<p>Nabi Ibrahim hidup di bumi Allah SWT dengan selalu menyembah-Nya, bertasbih, dan menyucikan-Nya. Kita tidak mengetahui, berapajauh jarak yang ditempuh Nabi Ibrahim dalam perjalanannya. Beliau adalah seorang musafir di jalan Allah SWT. Seorang musafir di jalan Allah SWT menyadari bahwa hari-hari di muka bumi sangat cepat berlalu, kemudian di tiupkan sangkakala lalu terjadilah hari kiamat dan kemudian hari kebangkitan.</p>
<p>Pada suatu hari, had Nabi Ibrahim dipenuhi rasa kedamian, cinta, dan keyakinan. Beliau ingin melihat kebesaran Allah SWT, Sang Pencipta. Beliau ingin melihat hari kiamat sebelum terjadinya. Allah SWT menceritakan sikapnya itu dalam firman-Nya:</p>
<p>&#8220;Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: &#8216;Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana engkau menghidupkan arang yang mati. &#8216;Allah berfirman: &#8216;Belum yakinkah kamu?&#8217; Ibrahim menjawab: &#8216;Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).&#8217;&#8221; (QS. al-Baqarah: 260)</p>
<p>Hasrat Nabi Ibrahim terhadap hal tersebut dipengaruhi oleh keimanan yang luar biasa; keimanan yang dipenuhi cinta kepada Allah SWT.</p>
<p>Allah SWT berfirman:</p>
<p>&#8220;(Kalau demikian), ambilah empat ekor burung lalu cincanglah semuanya. Allah berfirman: &#8216;Lalu letakkanlah di atas bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera,&#8221; dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.&#8221; (QS. al-Baqarah: 260)</p>
<p>Nabi Ibrahim melakukan apa saja yang diperintahkan oleh Allah SWT. Beliau menyembelih empat ekor burung lalu memisah-misahkan bagiannya di atas gunung, kemudian ia memamanggilnya dengan nama Allah SWT. Tiba-tiba bulu-bulu dan burung itu bangkit dan bergabung dengan sayap-sayapnya, kemudian dada dari burung itu mencari kepalanya. Akhirnya, bagian-bagian burung yang terpisah kembali bergabung. Burung itu pun kembali mendapatkan kehidupan lalu burung itu terbang dengan cepat dan kembali ke pangkuan Nabi Ibrahim.</p>
<p>Para ahli tafsir meyakini bahwa eksperimen ini berangkat dari kehausan ilmu yang ada pada Nabi Ibrahim, dan sebagian lagi mengatakan bahwa beliau ingin melihat kebesaran Allah SWT saat menciptakan makhluk-Nya. Beliau memang sudah mengetahui hasilnya, tapi beliau tidak melihat cara pembuatan penciptaan makhluk. Sebagian mufasir lain mengatakan bahwa beliau merasa puas atas apa yang dikatakan oleh Allah SWT dan beliau tidak jadi menyembelih burung. Kami sendiri menilai bahwa eksperimen ini menunjukkan tingkat cinta yang tinggi yang dicapai oleh seorang musafir di jalan Allah SWT, yaitu Nabi Ibrahim. Seorang pecinta akan selalu timbul dalam dirinya hasrat, rasa tunduk, dan rasa ingin menambah cintanya. Demikianlah cinta Nabi Ibrahim. Inilah petualangan Nabi Ibrahim di mana setiap kali ia melalui perjalanannya, maka kehausan cintanya pun meningkat. Pada suatu hari Nabi Ibrahim bangun lalu beliau memerintahkan istrinya, Hajar, untuk membawa anaknya bersiap-siap untuk melalui perjalanan panjang. Setelah beberapa hari, dimulailah perjalanan Nabi Ibrahim ber-sama istrinya Hajar beserta anak mereka, Ismail. Saat itu Ismail masih menyusu pada ibunya.</p>
<p>Nabi Ibrahim berjalan di tengah-tengah tanah yang penuh dengan tanaman, melewati gurun dan gunung-gunung. Kemuudian beliau memasuki tanah Arab. Nabi Ibrahim menuju ke suatu lembah yang di dalamnya tidak ada tanaman, tidak ada buah-buahan, tidak ada pepohonan, tidak ada makanan dan tidak ada air. Lembah itu kosong dari tanda-tanda kehidupan. Nabi Ibrahim sampai ke lembah, lalu beliau turun dari atas punggung hewan tunggangannya. Lalu beliau menurunkan istrinya dan anaknya dan meninggalkan mereka di sana. Mereka hanya dibekali dengan makanan dan sedikit air yang tidak cukup untuk kebutuhan dua hari.</p>
<p>Ketika beliau mulai meninggalkan mereka dan berjalan, tiba-tiba istrinya segera menyusulnya dan berkata kepadanya: &#8220;Wahai Ibrahim, ke mana engkau pergi? Mengapa engkau meninggalkan kami di lembah ini, padahal di dalamnya tidak terdapat sesuatu pun.&#8221; Nabi Ibrahim tidak segera menjawab dan ia tetap berjalan. Istrinya pun kembali mengatakan perkataan yang dikatakan sebelumnya. Namun Nabi Ibrahim tetap diam. Akhirnya, si istri memahami bahwa Nabi Ibrahim tidak bersikap demikian kecuali mendapat perintah dari Allah SWT. Kemudian si istri bertanya: &#8220;Apakah Allah SWT memerintahkannya yang demikian ini?&#8221; Nabi Ibrahim menjawab: &#8220;Benar.&#8221; Istri yang beriman itu berkata: &#8220;Kalau begitu, kita tidak akan disia-siakan.&#8221; Nabi Ibrahim menuju ke tempat di suatu gunung lalu beliau mengangkat kedua tangannya untuk berdoa kepada Allah SWT:</p>
<p>&#8220;Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempuyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. &#8221; (QS. Ibrahim: 37)</p>
<p>Saat itu Baitullah belum dibangun. Terdapat hikmah yang tinggi dalam perjalanan yang penuh dengan misteri ini. Ismail ditinggalkan bersama ibunya di tempat ini. Ismail-lah yang akan bertanggung jawab bersama ayahnya dalam pembangunan Ka&#8217;bah. Hikmah Allah SWT menuntut untuk didirikannya suatu bangunan di lem­bah itu dan dibangun di dalamnya Baitullah, di mana kita akan menuju ke sana dan menghadap kepadanya saat kita salat.</p>
<p>Nabi Ibrahim meninggalkan istrinya dan anaknya yang masih menyusu di padang sahara. Ibu Ismail menyusui anaknya dan mulai merasakan kehausan. Saat itu matahari bersinar sangat panas dan membuat manusia mudah merasa haus. Setelah dua hari, habislah air dan keringlah susu si ibu. Hajar dan Ismail merasakan kehausan, dan makanan telah tiada sehingga saat itu mereka merasakan kesulitan yang luar biasa. Ismail mulai menangis kehausan dan ibunya meninggalkannya untuk mencarikan air. Si ibu berjalan dengan cepat hingga sampai di suatu gunung yang bernama Shafa. Ia menaikinya dan meletakkan kedua tangannya di atas keningnya untuk melindungi kedua matanya dari sengatan mata­hari. Ia mulai mencari-cari sumber air atau sumur atau seseorang yang dapat membantunya atau kafilah atau musafir yang dapat menolongnya atau berita namuii semua harapannya itu gagal. Ia segera turun dari Shafa dan ia mulai berlari dan melalui suatu lembah dan sampai ke suatu gunung yang bernama Marwah. Ia pun mendakinya dan melihat apakah ada seseorang tetapi ia tidak melihat ada seseorang.</p>
<p>Si ibu kembali ke anaknya dan ia masih mendapatinya dalam keadaan menangis dan rasa hausnya pun makin bertambah. Ia segera menuju ke Shafa dan berdiri di atasnya, kemudian ia menuju ke Marwah dan melihat-lihat. Ia mondar-mandir, pulang dan pergi antara dua gunung yang kecil itu sebanyak tujuh kali. Oleh karenanya, orang-orang yang berhaji berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Ini adalah sebagai peringatan terhadap ibu mereka yang pertama dan nabi mereka yang agung, yaitu Ismail.</p>
<p>Setelah putaran ketujuh, Hajar kembali dalam keadaan letih dan ia duduk di sisi anaknya yang masih menangis. Di tengah-tengah situasi yang sulit ini, Allah SWT menurunkan rahmat-Nya. Ismail pun memukul-mukulkan kakinya di atas tanah dalam keadaan menangis, lalu memancarlah di bawah kakinya sumur zamzam sehingga kehidupan si anak dan si ibu menjadi terselamatkan. Si ibu mengambil air dengan tangannya dan ia bersyukur kepada Allah SWT. Ia pun meminum air itu beserta anaknya, dan kehidup­an tumbuh dan bersemi di kawasan itu. Sungguh benar apa yang dikatakannya bahwa Allah SWT tidak akan membiarkannya selama mereka berada di jalan-Nya.</p>
<p>Kafilah musafir mulai tinggal di kawasan itu dan mereka mulai mengambil air yang terpancar dari sumur zamzam. Tanda-tanda kehidupan mulai mengepakkan sayapnya di daerah itu. Ismail mulai tumbuh dan Nabi Ibrahim menaruh kasih sayang dan perhatian padanya, lalu Allah SWT mengujinya dengan ujian yang berat. Allah SWT menceritakan ujian tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p>&#8220;Dan Ibrahim berkata: Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugerahkan kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim. Ibrahim berkata: &#8216;Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!&#8217; Ia menjawab: &#8216;Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.&#8217; Tatkala keduanya telah berserah din dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggilah dia: &#8216;Hai Ibrahim, sesungguhnya engkau telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) &#8220;Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim&#8221;. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. &#8221; (QS. ash-Shaffat: 99-111)</p>
<p>Perhatikanlah, bagaimana Allah SWT menguji hamba-hamba-Nya. Renungkanlah bentuk ujian tersebut. Kita sekarang berada di hadapan seorang nabi yang hatinya merupakan hati yang paling lembut dan paling penyayang di muka bumi. Hatinya penuh dengan cinta kepada Allah SWT dan cinta kepada makhluk-Nya. Nabi Ibrahim mendapatkan anak saat beliau menginjak usia senja, padahal sebelumnya beliau tidak membayangkan akan memperoleh karunia seorang anak.</p>
<p>Nabi Ibrahim tidur, dan dalam tidurnya beliau melihat dirinya sedang menyembelih anaknya, anak satu-satunya yang dicintainya. Timbullah pergolakan besar dalam dirinya. Sungguh salah kalau ada orang mengira bahwa tidak ada pergolakan dalam dirinya. Nabi Ibrahim benar-benar diuji dengan ujian yang berat. Ujian yang langsung berhubungan dengan emosi kebapakan yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. Nabi Ibrahim berpikir dan merenung. Kemudian datanglah jawaban bahwa Allah SWT melihatkan kepadanya bahwa mimpi para nabi adalah mimpi kebenaran. Dalam mimpinya, Nabi Ibrahim melihat bahwa ia menyembelih anak satu-satunya. Ini adalah wahyu dari Allah SWT dan perintah dari-Nya untuk menyembelih anaknya yang dicintainya.</p>
<p>Sebagai pecinta sejati, Nabi Ibrahim tidak merasakan kegelisahan dari hal tersebut. Ia tidak &#8220;menggugat&#8221; perintah Allah SWT itu. Nabi Ibrahim adalah penghulu para pecinta. Nabi Ibrahim berpikir tentang apa yang dikatakan kepada anaknya ketika ia menidurkannya di atas tanah untuk kemudian menyembelihnya. Lebih baik baginya untuk memberitahu anaknya dan hal itu lebih menenangkan hatinya daripada memaksanya untuk menyembelih. Akhirnya, Nabi Ibrahim pergi untuk menemui anaknya.</p>
<p>&#8220;Ibrahim berkata: &#8216;Wahai anakku sesungguhnya aku melihat di dalam mimpi, aku menyembelihmu, maka bagaimana pendapatmu. &#8221; (QS. ash-Shaffat: 102)</p>
<p>Perhatikanlah bagaimana kasih sayang Nabi Ibrahim dalam menyampaikan perintah kepada anaknya. la menyerahkan urusan itu kepada anaknya; apakah anaknya akan menaati perintah tersebut. Bukankah perintah tersebut adalah perintah dari Tuhannya? Ismail menjawab sama dengan jawaban dari ayahnya itu bahwa perintah itu datangnya dari Allah SWT yang karenanya si ayah harus segera melaksanakannya:</p>
<p>&#8220;Wahai ayahku kerjakanlah yang diperintahkan Tuhanmu. Insya Allah engkau mendapatiku sebagai orang-orang yang sabar.&#8221; (QS. ash-Shaffat: 102)</p>
<p>Perhatikanlah jawaban si anak. Ia mengetahui bahwa ia akan disembelih sebagai pelaksanaan perintah Tuhan, namun ia justru menenangkan hati ayahnya bahwa dirinya akan bersabar. Itulah puncak dari kesabaran. Barangkali si anak akan merasa berat ketika harus dibunuh dengan cara disembelih sebagai pelaksanaan perintah Allah SWT. Tetapi Nabi Ibrahim merasa tenang ketika mendapati anaknya menantangnya untuk menunjukkan kecintaan kepada Allah SWT.</p>
<p>Kita tidak mengetahui perasaan sesungguhnya Nabi Ibrahim ketika mendapati anaknya menunjukkan kesabaran yang luar biasa. Allah SWT menceritakan kepada kita bahwa Ismail tertidur di atas tanah dan wajahnya tertelungkup di atas tanah sebagai bentuk hormat kepada Nabi Ibrahim agar saat ia menyembelihnya Ismail tidak melihatnya, atau sebaliknya. Kemudian Nabi Ibrahim mengangkat pisaunya sebagai pelaksanan perintah Allah SWT:</p>
<p>&#8220;Tatkala keduanya telah berserah din dan Ibrahim, membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).&#8221; (QS. ash-Shaffat: 103)</p>
<p>Al-Qur&#8217;an menggunakan ungkapan tersebut ketika keduanya menyerahkan diri terhadap pertintah Allah SWT. Ini adalah wujud Islam yang hakiki. Hendaklah engkau memberikan sesuatu untuk Islam sehingga tidak ada sesuatu pun yang tersisa darimu. Pada saat pisau siap untuk digunakan sebagai perintah dari Allah SWT, Allah SWT memanggil Ibrahim. Selesailah ujiannya, dan Allah SWT menggantikan Ismail dengan suatu kurban yang besar.</p>
<p>Peristiwa tersebut kemudian diperingati sebagai hari raya oleh kaum Muslim, yaitu hari raya yang mengingatkan kepada mereka tentang Islam yang hakiki yang dibawa dan di amalkan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail. Demikianlah kisah Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim meninggalkan anaknya dan kembali berdakwah di bumi Allah SWT. Nabi Ibrahim berhijrah dari tanah Kaldanin, tempat kelahirannya di Irak, dan melalui Yordania dan tinggal di negeri Kan&#8217;an. Saat berdakwah, beliau tidak lupa bertanya tentang kisah Nabi Luth bersama kaumnya. Nabi Luth adalah orang yang pertama kali beriman kepadanya. Allah SWT telah memberinya pahala dan telah mengutusnya sebagai Nabi kepada kaum yang menentang kebenaran.</p>
<p>Nabi Ibrahim duduk di luar kemahnya dan memikirkan tentang anaknya Ismail, dan kisah mimpinya serta tentang tebusan dari Allah SWT berupa kurban yang besar. Hatinya penuh dengan gelora cinta. Nabi Ibrahim tidak mampu menghitung pujian yang harus ditujukan kepada Tuhannya. Matanya berlinangan air mata sebagai bukti rasa terima kasih dan syukur kepada Allah SWT. Mulailah butiran-butiran air matanya bercucuran. Nabi Ibrahim mengingat Ismail dan mulai rindu kepadanya.</p>
<p>Dalam situasi seperti itu, turunlah malaikat (Jibril, Israfil, dan Mikail) ke bumi Jibril. Mereka berubah wujud menjadi manusia yang indah dan tampan. Mereka memegang misi dan tugas khusus. Mereka berjalan di depan Nabi Ibrahim dan menyampaikan berita gembira padanya, kemudian mereka akan mengunjungi kaum Nabi Luth dan memberikan hukum atas kejahatan kaumnya. Melihat wajah-wajah yang bersinar itu, Nabi Ibrahim tercengang dan mengangkat kepalanya. Nabi Ibrahim tidak mengenal mereka. Mereka mengawali ucapan salam. Dan Nabi Ibrahim membalas salam mere­ka. Nabi Ibrahim bangkit dari tempatnya dan menyambut mereka. Nabi Ibrahim mempersilakan mereka masuk ke dalam rumahnya. Nabi Ibrahim mengira bahwa mereka adalah tamu-tamu asing. Nabi Ibrahim mempersilahkan mereka duduk, dan kemudian ia meminta izin kepada mereka untuk keluar dan menemui keluarganya. Sarah, istrinya, bangun ketika Nabi Ibrahim masuk menemuinya. Saat itu Sarah sudah mulai tua dan rambutnya mulai memutih.</p>
<p>Nabi Ibrahim berkata kepada istrinya: &#8220;Aku dikunjungi oleh tiga orang asing.&#8221; Istrinya bertanya: &#8220;Siapakah mereka?&#8221; Nabi Ibrahim menjawab: &#8220;Aku tidak mengenal mereka. Sungguh wajah mereka sangat aneh. Tak ragu lagi, mereka pasti datang dari tempat yang jauh, tetapi pakaian mereka tidak menunjukkan mereka berasal dari daerah yang jauh. Oh iya, apakah ada makanan yang dapat kita berikan kepada mereka?&#8221; Sarah berkata: &#8220;Separo daging kambing.&#8221; Nabi Ibrahim berkata: &#8220;Hanya separo daging kambing. Kalau begitu, sembelihlah satu kambing yang gemuk. Mereka adalah tamu-tamu yang istimewa. Mereka tidak memiliki hewan tunggangan atau makanan. Barangkali mereka lapar, atau barangkali mereka orang-orang yang tidak mampu.&#8221;</p>
<p>Nabi Ibrahim memilih satu kambing besar dan memerintahkan untuk disembelih serta menyebut nama Allah SWT saat menyembelihnya. Kemudian disiapkanlah makanan. Setelah siap, Nabi Ibrahim memanggil tamu-tamunya untuk makan. Istrinya membantu untuk melayani mereka dengan penuh kehormatan. Nabi Ibrahim mengisyaratkan untuk menyebut nama Allah SWT, kemu­dian Nabi Ibrahim mulai mengawali untuk memakan agar mereka juga mulai makan.</p>
<p>Nabi Ibrahim adalah orang yang sangat dermawan dan beliau mengetahui bahwa Allah SWT pasti membalas orang-orang yang dermawan. Barangkali di rumahnya tidak ada hewan lain selain kambing itu, tetapi karena kedermawanannya, beliau pun menghidangkan kambing itu untuk tamunya. Nabi Ibrahim memperhatikan sikap tamu-tamunya, namun tak seorang pun di antara tamunya yang mengulurkan tangan. Nabi Ibrahim mendekatkan makanan itu kepada mereka sambil berkata: &#8220;Mengapa kalian tidak makan?&#8221; Nabi Ibrahim kembali ke tempatnya sambil mencuri pandangan, tapi lagi-lagi mereka masih tidak memakannya. Saat itu Nabi Ibrahim merasakan ketakutan.</p>
<p>Dalam tradisi kaum Badui diyakini bahwa tamu yang tidak mau makan hidangan yang disajikan oleh tuan rumah, maka ini berarti bahwa ia hendak berniat jelek pada tuan rumah. Nabi Ibrahim kembali berpikir dengan penuh keheranan melihat sikap tamu-tamunya. Nabi Ibrahim kembali berpikir, bagaimana tamu-tamu itu secara mendadak menemuinya di mana ia tidak melihat mereka sebelumnya kecuali setelah mereka ada di hadapannya. Mereka tidak memiliki binatang tunggangan yang mengantarkan mereka. Mereka juga tidak membawa bekal perjalanan. Wajah-wajah mereka sangat aneh baginya. Mereka adalah para musafir, tetapi anehnya tidak ada bekas debu perjalanan. Kemudian Nabi Ibrahim mengajak mereka makan, lalu mereka duduk di atas meja makan tetapi mereka tidak makan sedikit pun. Bertambahlah ketakutan Nabi Ibrahim.</p>
<p>Beliau mengangkat pandangannya, lalu beliau mendapati istrinya Sarah berdiri di ujung kamar. Melalui pandangannya yang membisu, Nabi Ibrahim hendak mengatakan bahwa ia merasa takut terhadap tamu-tamunya, namun wanita itu tidak memahaminya. Nabi Ibrahim berpikir bahwa tamu-tamunya itu berjumlah tiga orang dan mereka tampak masih muda-muda sedangkan ia sudah tua. Para malaikat dapat membaca pikiran yang bergolak dalam diri Nabi Ibrahim. Salah seorang malaikat berkata padanya: &#8220;Janganlah engkau takut.&#8221; Nabi Ibrahim mengangkat kepalanya dan dengan penuh kejujuran ia berkata: &#8220;Aku mengakui bahwa aku merasa takut. Aku telah mengajak kalian untuk makan dan telah menyambut kalian, tapi kalian tidak mau memakannya. Apakah kalian mempunyai niat buruk kepadaku?&#8221; Salah seorang malaikat tersenyum dan berkata: &#8220;Kita tidak makan wahai Ibrahim, karena kita adalah malaikat-malaikat Allah SWT dan kami telah diutus kepada kaum Luth.&#8221;</p>
<p>Mendengar semua itu, istri Nabi Ibrahim tertawa. Ia berdiri mengikuti dialog yang terjadi antara suaminya dan rnereka. Salah seorang malaikat menoleh kepadanya dan memberinya kabar gembira tentang kelahiran Ishak. Allah SWT memberimu kabar gembira dengan kelahiran Ishak. Wanita tua itu dengan penuh keheranan berkata:</p>
<p>&#8220;Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sangat tua pula?&#8221; (QS. Hud: 72)</p>
<p>Dan salah seorang malaikat kembali berkata kepadanya:</p>
<p>&#8220;Dan sesudah Ishak (lahir pula) Ya&#8217;qub.&#8221; (QS. Hud: 71)</p>
<p>Engkau akan menyaksikan kelahiran cucumu. Bergolaklah berbagai perasaan dalam had Nabi Ibrahim dan istrinya. Suasana di kamar pun berubah dan hilanglah rasa takut dari Nabi Ibrahim. Kemudian hatinya dipenuhi dengan kegembiraan. Istrinya yang mandul berdiri dalam keadaan gemetar, karena berita gembira yang dibawa oleh para malaikat itu cukup menggoncangkan jiwanya. Ia adalah wanita yang tua dan mandul dan suaminya juga laki-laki tua, maka bagaimana mungkin, padahal dia adalah wanita tua. Di tengah-tengah berita yang cukup menggoncangkan tersebut, Nabi Ibrahim bertanya:</p>
<p>&#8220;Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku ielah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini?&#8221; (QS. al-Hijr: 54)</p>
<p>Apakah beliau ingin mendengarkan kabar gembira untuk kedua kalinya, ataukah ia ingin agar hatinya menjadi tenang dan mendengar kedua kalinya karunia dari Allah SWT padanya? Atau­kah Nabi Ibrahim ingin menampakkan kegembiraannya kedua kali­nya? Para malaikat menegaskan padanya bahwa mereka membawa berita gembira yang penuh dengan kebenaran.</p>
<p>&#8220;Mereka menjawab: &#8216;Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa.&#8217;&#8221; (QS. al-Hijr: 55)</p>
<p>&#8220;Ibrahim berkata: &#8216;Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat.&#8217;&#8221; (QS. al-Hijr: 56)</p>
<p>Para malaikat tidak memahami perasaan kemanusiaannya, maka mereka melarangnya agar jangan sampai berputus asa. Nabi Ibrahim memahamkan mereka bahwa ia tidak berputus asa tetapi yang ditampakkannya hanya sekadar kegembiraan. Kemudian istri Nabi Ibrahim turut bergabung dalam pembicaraan bersama me­reka. la bertanya dengan penuh keheranan: &#8220;Apakah aku akan melahirkan sementara aku adalah wanita yang sudah tua. Sungguh hal ini sangat mengherankan.&#8221; Para malaikat menjawab:</p>
<p>&#8220;Para malaikat itu berkata: &#8216;Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahhan atas kamu, hai Ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.&#8217;&#8221; (QS. Hud: 73)</p>
<p>Berita gembira itu bukan sesuatu yang sederhana dalam kehidupan Nabi Ibrahim dan istrinya. Nabi Ibrahim tidak mempuyai anak kecuali Ismail di mana ia meninggalkannya di tempat yang jauh, di Jazirah Arab. Istrinya Sarah selama puluhan tahun bersamanya dan tidak memberinya anak. Ia sendiri yang menikahkan Nabi Ibrahim dengan pembantunya, Hajar. Maka dari Hajar lahirlah Ismail, sedangkan Sarah tidak memiliki anak. Oleh karena itu, Sarah memiliki kerinduan besar terhadap anak.</p>
<p>Para malaikat berkata padanya: &#8220;Sesungguhnya itu terjadi dengan kehendak Allah SWT. Demikianlah yang diinginkan-Nya kepadanya dan pada suaminya.&#8221; Kemudian saat ia berusia senja, ia mendapatkan kabar gembira di mana ia akan melahirkan seorang anak, bukan anak biasa tetapi seorang anak yang cerdas. Bukan ini saja, para malaikat juga menyampaikan kepadanya bahwa anaknya akan mempunyai anak (cucunya) dan ia pun akan menyaksikannya. Wanita itu telah bersabar cukup lama kemudian ia memasuki usia senja dan lupa. Lalu datanglah balasan Allah SWT dengan tiba-tiba yang menghapus semua ini. Air matanya berlinang saat ia berdiri karena saking gembiranya. Sementara itu Nabi Ibrahim as merasakan suatu perasaan yang mengherankan. Hatinya dipenuhi dengan kasih sayang dan kedekatan. Nabi Ibrahim mengetahui bahwa ia sekarang berada di hadapan suatu nikmat yang ia tidak mengetahui bagaimana harus mensyukurinya.</p>
<p>Nabi Ibrahim segera bersujud. Saat itu anaknya Ismail ada di sana namun ia jauh darinya sehingga tidak melihatnya. Ismail ada di sana atas perintah Allah SWT di mana Dia memerintahkannya untuk membawa anaknya bersama ibunya dan meninggalkan mereka di suatu lembah yang tidak memiliki tanaman dan air. Demikian­lah perintah tersebut tanpa ada keterangan yang lain. Nabi Ibrahim melaksanakan perintah tersebut dengan tulus, dan beliau hanya berdakwah dan menyembah Allah SWT. Allah SWT memberinya kabar gembira saat beliau menginjak usia tua dengan kelahiran Ishak dari istrinya Sarah, dan setelah kelahirannya disusul dengan kelahiran Yakub. Nabi Ibrahim bangun dari sujudnya lalu pandangannya tertuju pada makanan. Ia merasa tidak rnarnpu lagi melanjutkan makan karena saking gembiranya. Ia memerintahkan pembantunya untuk mengangkat makanan, lalu beliau menoleh kepada para malaikat. Hilanglah rasa takut Nabi Ibrahim dan keresahannya menjadi tenang. Nabi Ibrahim mengetahui bahwa mereka diutus pada kaum Luth sedangkan Luth adalah anak saudaranya yang tinggal bersamanya di tempat kelahirannya.</p>
<p>Nabi Ibrahim mengetahui maksud pengutusan para malaikat pada Luth dan kaumnya. Ini berarti akan terjadi suatu hukuman yang mengerikan. Karakter Nabi Ibrahim yang penyayang dan lembut menjadikannya tidak mampu menahan kehancuran suatu kaum. Barangkali kaum Luth akan bertaubat dan masuk Islam serta menaati perintah rasul mereka. Nabi Ibrahim mulai mendebat para malaikat tentang kaum Luth. Nabi Ibrahim berbicara kepada me­reka, bahwa boleh jadi mereka akan beriman dan keluar dari jalan penyimpangan. Namun para malaikat memahamkannya bahwa kaum Luth adalah orang-orang yang jahat, dan bahwa tugas mereka adalah mengirim batu-batuan yang panas dari sisi Tuhan bagi orang-orang yang melampaui batas.</p>
<p>Setelah para malaikat menutup pintu dialog itu, Nabi Ibrahim kembali berbicara kepada mereka tentang orang-orang mukmin dari kaum Luth. Ia bertanya kepada mereka: &#8220;Apakah kalian akan menghancurkan suatu desa yang di dalamnya terdapat tiga ratus orang mukmin?&#8221; Para malaikat menjawab: &#8220;Tidak.&#8221; Nabi Ibrahim mulai mengurangi jumlah orang-orang mukmin dan ia bertanya lagi kepada mereka: &#8220;Apakah desa itu akan dihancurkan sementara masih ada sejumlah orang-orang mukmin ini.&#8221; Para malaikat menjawab: &#8220;Kami lebih mengetahui orang-orang yang ada di dalamnya.&#8221; Kemudian mereka memahamkannya bahwa perkara tersebut telah ditetapkan dan bahwa kehendak Allah SWT telah diputuskan untuk menghancurkan kaum Luth. Para malaikat memberi pengertian kepada Nabi Ibrahim agar beliau tidak terlibat lebih jauh dalam dialog itu karena Allah SWT telah memutuskan perintah-Nya untuk mendatangkan azab yang tidak dapat ditolak, suatu azab yang tidak dapat dihindari dengan pertanyaan Nabi Ibrahim. Namun pertanyaan Nabi Ibrahim itu berangkat dari seorang Nabi yang sangat penyayang dan penyantun. Allah SWT berfirman:</p>
<p>&#8220;Dan sesungguhnya utusan-utusan kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: &#8216;Salamun&#8217; (Selamatlah), maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: &#8216;Janganlah kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth. Dan istrinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum. Maka kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir putranya) Yakub. Istrinya berkata: &#8216;Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.&#8217; Para malaikat itu berkata: &#8216;Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Terpuji.&#8217; Maka tatkala rasa takut itu hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bersoal jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah. Hai Ibrahim, tinggalkanlah soaljawab ini sesungguhnya telah datang ketetapan Tuhanmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak.&#8221; (QS. Hud: 69-76)</p>
<p>Pernyataan malaikat itu sebagai syarat untuk mengakhiri perdebatan itu. Ibrahim pun terdiam. Marilah kita tinggalkan Nabi Ibrahim dan kita beralih pada Nabi Luth dan kaumnya.</p>
<p>Catatan :<br />
Terdapat perbedaan pendapat dalam menafsirkan kata &#8220;ab&#8221; dalam kisah Nabi Ibrahim as dalam al-Quran. Sebagian mengartikannya dengan arti lahiriahnya, yaitu ayah. Tapi, kelompok yang lain berasumsi bahwa yang dimaksud dengan kata tersebut adalah paman.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakradyant.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakradyant.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakradyant.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakradyant.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cakradyant.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cakradyant.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cakradyant.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cakradyant.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakradyant.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakradyant.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakradyant.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakradyant.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakradyant.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakradyant.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakradyant.wordpress.com&amp;blog=11845722&amp;post=48&amp;subd=cakradyant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakradyant.wordpress.com/2010/03/06/kisah-nabi-ibrahim-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fd55fedb4577ed5e006373db13073443?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cakradyant</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Nabi Sholeh AS</title>
		<link>http://cakradyant.wordpress.com/2010/03/06/kisah-nabi-sholeh-as/</link>
		<comments>http://cakradyant.wordpress.com/2010/03/06/kisah-nabi-sholeh-as/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 12:46:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakradyant</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Nabi dan Rasul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakradyant.wordpress.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Berlalulah hari demi hari. Lahirlah sebagian pria dan matilah sebagian yang lain. Setelah kaum &#8216;Ad, datanglah kaum Tsamud. Lagi-lagi azab berulang kepada kaum Tsamud dalam bentuk yang lain. Kaum Tsamud juga menyembah berhala kemudian Allah SWT mengutus Nabi Saleh kepada mereka. Nabi Saleh berkata kepada kaumnya: &#8220;Wahai kaumku, sembahlah Allah yang tiada Tuhan lain bagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakradyant.wordpress.com&amp;blog=11845722&amp;post=46&amp;subd=cakradyant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berlalulah hari demi hari. Lahirlah sebagian pria dan matilah sebagian yang lain. Setelah kaum &#8216;Ad, datanglah kaum Tsamud. Lagi-lagi azab berulang kepada kaum Tsamud dalam bentuk yang lain. Kaum Tsamud juga menyembah berhala kemudian Allah SWT mengutus Nabi Saleh kepada mereka. Nabi Saleh berkata kepada kaumnya:</p>
<p>&#8220;Wahai kaumku, sembahlah Allah yang tiada Tuhan lain bagi kalian selain-Nya. &#8221; (QS. Hud: 61)</p>
<p>Kalimat yang sama yang disampaikan oleh setiap nabi, dan kalimat tersebut tidak pernah berubah sebagaimana kebenaran tidak pernah berubah. Para pembesar kaum Nabi Saleh terkejut dengan apa yang dikatakannya. Beliau menyatakan bahwa tuhan mereka tidak memiliki nilai yang berarti. Beliau melarang mereka untuk menyembahnya dan memerintahkan mereka hanya menyembah Allah SWT.</p>
<p>Dakwah Nabi Saleh cukup menggoncangkan masyarakat. Nabi Saleh terkenal dengan kejujuran dan kebaikan. Kaumnya sangat menghormatinya sebelum Allah SWT mengutusnya dan memberikan wahyu padanya untuk berdakwah kepada mereka. Kaum Nabi Saleh berkata:</p>
<p>&#8220;Hai Saleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? Dan sesung­guhnya kami betul-betul dalam keraguan yang mengelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami. &#8221; (QS. Hud: 62)</p>
<p>Renungkanlah bagaimana pandangan orang-orang kafir dari kaum Nabi Saleh: &#8220;Sesungguhnya engkau sangat kami harapkan karena kaluasan ilmumu, kematangan akalmu, kejujuranmu dan kebaikanmu. Kemudian hilanglah harapan kami terhadapmu. Apakah engkau akan melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh kakek-kakek kami. Alangkah celakanya! Kami tidak berharap engkau mencela tuhan-tuhan kami yang kami mendapati orang tua-orang tua kami menyembahnya.&#8221;</p>
<p>Demikianlah kaum Nabi Saleh merasa bingung di hadapan kebenaran dan mereka heran terhadap saudara mereka Saleh yang mengajak mereka untuk menyembah Allah SWT. Mengapa? Karena mereka tidak memiliki alasan dan pemikiran yang benar. Mereka hanya beralasan bahwa kakek-kakek mereka menyembah tuhan-tuhan ini. Demikianlah taklid yang menyebabkan manusia ter-jerumus dalam kesesatan. Dan Nabi datang untuk menghilangkan taklid buta ini. Akidah tauhid disebarkan sebagai dakwah untuk membebaskan pikiran dari segala belenggu, yaitu suatu dakwah yang membebaskan akal manusia dari belenggu taklid, khurafat orang-orang dulu, dan khayalan tradisi yang mapan. Inilah dakwah tauhid yang menyuarakan kebebasan akal dan segala bentuk kebebasan lainnya.</p>
<p>Dakwah tersebut tidak akan ditentang kecuali oleh orang-orang yang akalnya terpasung oleh pemikiran orang-orang dulu dan khayalan orang-orang tua. Meskipun dakwah Nabi Saleh disampaikan dengan penuh ketulusan, namun kaumnya tidak mempercayainya. Mereka justru meragukan dakwahnya. Mereka mengira bahwa Nabi Saleh tersihir. Mereka meminta kepadanya agar ia mendatangkan mukjizat ynag membuktikan bahwa ia memang utusan Allah SWT. Allah SWT berkehendak untuk mengabulkan permintaan mereka. Kaum Tsamud mengukir rumah-rumah besar dari gunung. Mereka menggunakan batu-batu besar untuk membangun. Mereka adalah orang-orang yang kuat yang Allah SWT membuka pintu rezeki bagi mereka dari segala hal. Mereka datang setelah kaum &#8216;Ad lalu mereka tinggal di bumi dan memakmurkannya. Nabi Saleh berkata kepada kaumnya ketika mereka meminta mukjizat kepadanya:</p>
<p>&#8220;Hai kaumku, inilah unta betina dari Allah sebagai mukjizat (yang menunjukkan kebenaran) untukmu, sebab itu biarkanlah dia, makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun yang akan menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat.&#8221; (QS. Hud: 64)</p>
<p>Yang dimaksud ayat dalam surah tersebut adalah mukjizat. Diriwayatkan bahwa unta itu merupakan mukjizat karena batu gunung pada suatu hari terpecah dan keluar darinya unta, dan keluar di belakangnya anaknya yang kecil. la lahir melalui cara yang tidak umum dalam proses kelahiran. Diriwayatkan juga bahwa ia merupakan mukjizat karena ia minum air yang terdapat di sumur-sumur pada suatu hari lalu binatang-binatang yang lain tidak berani mendekati air itu pada hari tersebut. Ada riwayat lain mengatakan bahwa ia merupakan mukjizat karena ia mengeluarkan susu yang mencukupi untuk dipakai minum oleh seluruh manusia di hari di mana ia minum seluruh air sehingga tidak ada sedikit pun yang tersisa darinya. Unta ini merupakan mukjizat di mana Allah SWT menyifatinya dengan sebutan: &#8220;naqatullah&#8221; (unta Allah). Itu berarti bahwa unta tersebut bukan unta biasa, namun ia merupakkan mukjizat dari Allah SWT. Allah SWT menurunkan perintah kepada Nabi Saleh agar beliau melarang kaumnya untuk mengganggunya atau membunuhnya. Beliau memerintahkan mereka untuk membiarkannya, makan di bumi Allah SWT dan tidak menyakitinya. Beliau mengingatkan mereka bahwa ketika mereka mencoba untuk mengganggunya, maka mereka akan mendapatkan siksaan dalam waktu dekat.</p>
<p>Mula-mula kaum Tsamud sangat terheran-heran ketika melihat unta lahir dari batu-batuan gunung. Ia adalah unta yang diberkati di mana susunya cukup untuk ribuan laki-laki, wanita, dan anak-anak kecil. Jika unta itu tidur di suatu tempat, maka binatang-binatang lain akan menyingkir darinya. Jelas sekali ia bukan unta biasa, namun ia merupakan tanda-tanda kebesaran dari Allah SWT. Unta itu hidup di tengah-tengah kaum Nabi Saleh. Berimanlah orang-orang yang beriman di antara mereka dan sebagian besar mereka tetap berada dalam penentangan dan kekafiran. Kebencian terhadap Nabi Saleh berubah menjadi kebencian kepada unta yang diberkati itu. Mulailah mereka membikin persekongkolan untuk melawan unta itu. Orang-orang kafir sangat membenci mukjizat yang agung ini dan mereka membuat rencana jahat untuk melenyapkannya. Sebagaimana biasanya, para tokoh-tokoh kaumnya berkumpul untuk membuat, makar. Allah SWT berfirman:</p>
<p>&#8220;Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Saleh. Ia berkata: &#8216;Hat kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia, makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya, dengan gangguan apa pun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih. Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum &#8216;Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah;, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan. Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka: &#8216;Tahukah kamu bahwa Saleh diutus (menjadi rasul) oleh Tuhannya ?&#8217; Mereka menjawab: &#8216;Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu yang Saleh diutus untuk menyampaikannya.&#8217; Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: &#8216;Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu.&#8221; (QS. al-AVaf: 73-76)</p>
<p>Nabi Saleh menyeru kaumnya dengan penuh kasih sayang dan cinta. Beliau mengajak mereka untuk hanya menyembah Allah SWT dan mengingatkan mereka bahwa Allah SWT telah mengeluarkan mukjizat bagi mereka, yaitu unta. Mukjizat itu sebagai bukti akan kebenaran dakwahnya. Beliau memohon kepada mereka agar mereka membiarkan unta itu memakan dari hasil bumi, dan setiap bumi adalah bumi Allah SWT. Beliau juga mengingatkan mereka agar jangan sampai mengganggunya karena yang demikian itu dikhawatirkan akan mendatangkan azab bagi mereka. Bahkan beliau mengingatkan mereka dengan nikmat-nikmat Allah SWT yang turun kepada mereka: &#8220;Bagaimana Dia menjadikan mereka penguasa-penguasa yang datang setelah kaum &#8216;Ad, bagaimana Dia memberi mereka istana dan gunung-gunung yang terukir serta berbagai kenikmatan dan kekuatan.&#8221;</p>
<p>Demikianlah yang dilakukan oleh Nabi Saleh namun kaumnya justru menjawabnya dengan jawaban yang aneh. Mereka tidak menghiraukan nasihat Nabi mereka. Mereka menemui orang-orang yang beriman kepada Nabi Saleh. Mereka bertanya dengan pertanyaan yang tujuan untuk merendahkan dan mengejek: &#8220;Apakah kalian mengetahui bahwa Saleh seseorang yang diutus dari Tuhan­nya?&#8221; Pertanyaan ini tidak pantas dikemukakan setelah mereka melihat mukjizat unta. Alhasil, mereka merendahkan pengikut Nabi Saleh dan mengejeknya.</p>
<p>Sekelompok kecil yang beriman kepada Nabi Saleh berkata: &#8220;Sesungguhnya kami percaya dengan apa yang dibawa oleh Nabi Saleh.&#8221; Perhatikanlah jawaban orang-orang mukmin. Jawaban terse­but sangat bertentangan dengan jawaban para pembesar dari kaum Nabi Saleh. Para pembesar itu justru meragukan kenabian Saleh sedangkan orang-orang mukmin itu menegaskan kepercayaan mereka terhadap kebenaran yang dibawa oleh Nabi Saleh.</p>
<p>Kebenaran yang dibawa oleh Nabi Saleh tidak berhubungan dengan unta itu, namun berhubungan dengan dakwahnya dan ajarannya. Mereka mengatakan: &#8220;Kami mengimani apa yang dibawa oleh Nabi Saleh,&#8221; dan mereka tidak mengatakan: &#8220;Kami beriman kepada untanya.&#8221; Mereka tidak mengatakan bahwa unta itu yang menetapkan kenabian Saleh. Orang-orang mukmin lebih memper­hatikan kebenaran ajaran yang dibawa oleh Nabi Saleh, bukan memperhatikan mukjizat yang luar biasa itu. Melalui dialog tersebut kita dapat melihat sikap orang-orang kafir di mana mereka justru merasa mulia dengan penentangan terhadap kebenaran: &#8220;Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: &#8216;Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu. &#8220;</p>
<p>Demikianlah penghinaan mereka, kesombongan mereka, dan kemarahan mereka. Rasa-rasanya sia-sia untuk mencari dalil yang dapat memuaskan orang-orang kafir saat berdialog dengan mereka. Mereka selalu menolak kebenaran, padahal mereka orang-orang yang merdeka dalam memilih kebenaran itu.</p>
<p>Malam mulai menyelimuti kota Tsamud. Gunung-gunung yang kokoh menjulang dan melindungi rumah-rumah yang terukir di dalamnya. Dinyalakanlah lampu-lampu dalam istana yang terukir di gunung itu. Gelas-gelas minuman diputarkan di antara mereka. Tidak ada seorang pun dari tokoh-tokoh kaum yang tidak hadir dipertemuan penting itu. Dimulailah pertemuan dan terjadilah dia­log. Salah seorang kaflr berkata:</p>
<p>&#8220;Bagaimana kita akan mengikuti saja seorang manusia (biasa) di antara kita? Sesungguhnya kalau kita begitu benar-benar dalam keadaan sesat dan gila. &#8221; (QS. al-Qamar: 24)</p>
<p>Sementara yang lain menjawab:</p>
<p>&#8220;Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong. &#8221; (OS. al-Oamar: 25)</p>
<p>(QS. al-Qamar: 25)</p>
<p>Gelas-gelas minuman kembali diputar di antara mereka, dan pembicaraan beralih dari Saleh ke unta Allah SWT. Salah seorang kafir berkata: &#8220;Jika datang musim panas, maka unta itu mendatangi lembah yang dingin sehingga binatang-binatang ternak yang lain lari darinya dan kepanasan.&#8221; Seorang kafir lagi berkata: &#8220;Jika datang musim dingin unta itu mencari tempat penghangat, lalu ia istirahat di situ sehingga binatang-binatang ternak kita lari darinya dan menuju tempat yang dingin sehingga terancam kematian.&#8221;</p>
<p>Gelas-gelas minuman kembali diputar dan bergoyang di tangan orang-orang yang meminum. Salah seorang yang duduk memerintahkan agar perempuan yang menyanyi berhenti dari nyanyiannya karena ia sedang berpikir. Kemudian kesunyian menghantui segala penjuru. Orang itu mulai berpikir sambil meminum dua gelas minuman keras, dan dengan suara pelan ia berkata: &#8220;Hanya ada satu cara.&#8221; Orang-orang yang duduk di sekitarnya bertanya: &#8220;Bagaimana jalan keluarnya?&#8221; Tokoh mereka berkata: &#8220;Kita harus melenyapkan Saleh dari jalan kita. Yang saya maksud adalah untanya. Kita harus membunuh untanya dan setelah itu kita akan membunuh Saleh.&#8221; Demikanlah cara yang dilakukan orang-orang yang kafir sepanjang sejarah. Demikianlah senjata yang digunakan oleh mereka dalam menghadapi kebenaran. Mereka tidak menggunakan akal sehat atau adu argumentasi, tapi mereka justru menggunakan kekuatan fisik. Bagi mereka, ini adalah cara yang paling aman. Pembunuhan akan menyelesaikan masalah. Namun salah seorang di antara mereka berkata: &#8220;Bukankah Saleh mengingatkan kita akan azab yang keras jika kita sampai menyakiti unta itu.&#8221; Namun, orang-orang yang duduk di majelis itu segera memadamkan suara orang itu dengan dua gelas arak.</p>
<p>Kemudian percakapan dimulai tentang Saleh: &#8220;Berapakali kita putus asa dan dibuat kecewa olehnya. Sebaik-baik jalan adalah membunuhnya. Mula-mula kita membunuh untanya setelah itu kita akan menghabisi Saleh.&#8221; &#8220;Namun siapa gerangan yang berani membunuhnya?&#8221; Pertanyaan itu menciptakan keheningan di antara mereka. Setelah beberapa saat, salah seorang mereka mengangkat suara: &#8220;Saya mengenal seseorang yang dapat membunuh­nya.&#8221; Lalu nama demi nama berputar di antara mereka sehingga mereka menyebut seorang penjahat yang selalu membikin kerusakan di muka bumi dan ia suka mabuk-mabukan. Ia mempunyai kelompok penjahat di kota.</p>
<p>&#8220;Dan di kota itu ada sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakhan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.&#8221; (QS. an-Naml: 48)</p>
<p>Mereka adalah alat-alat kejahatan. Mereka adalah penjahat-penjahat kota yang terkenal. Mereka sepakat untuk melaksanakan kejahatan. Kegelapan semakin menyelimuti gunung. Kemudian datanglah malam tragedi. Unta yang diberkati itu sedang tidur dan mendekap anaknya yang kecil di dadanya. Anaknya yang kecil itu merasakan kedinginan dan mendapatkan kehangatan di sisi ibunya. Sembilan orang penjahat tersebut telah menyiapkan senjata mereka, pedang mereka dan tombak mereka. Mereka keluar di kegelapan malam, dan pemimpin mereka banyak minum khamer sehingga ia hampir tidak melihat apa yang di depannya.</p>
<p>&#8220;Maka mereka memanggil kawannya, lalu kawannya menangkap (unta itu) dan membunuhnya.&#8221; (QS. al-Qamar: 29)</p>
<p>Sembilan laki-laki itu menyerang unta itu, lalu ia bangkit dan bangunlah anaknya dalam keadaan takut. Akhiranya, darah unta itu terkucur dan anaknya pun terbunuh. Nabi Saleh mengetahui apa yang terjadi, lalu beliau keluar dalam keadaan marah untuk menemui kaumnya. Beliau berkata kepada mereka: &#8220;Bukankah aku telah mengingatkan agar kalian jangan mengganggu unta itu.&#8221; Mereka menjawab: &#8220;Kami memang telah membunuhnya, maka datangkanlah siksaan kepada kami jika engkau mampu. Bukankah engkau berkata bahwa engkau termasuk utusan Tuhan.&#8221; Nabi Saleh berkata kepada kaumnya:</p>
<p>&#8220;Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari. Itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.&#8221; (QS. Hud: 65)</p>
<p>Setelah itu, Nabi Saleh meninggalkan kaumnya. Kemudian datanglah janji Allah SWT untuk menghancurkan mereka setelah tiga hari. Berlalulah tiga hari siksaan atas orang-orang kafir dan mereka menunggu-nunggu azab yang datang. Maka pada hari keempat langit terpecah melalui teriakan yang keras di mana teriakan itu menghancurkan gunung dan membinasakan apa saja yang ada di dalamnya. Kemudian bumi berguncang dan menghancurkan apa saja yang di atasnya. Itu adalah satu teriakan saja yang membuat kaum Nabi Saleh hancur berantakan. Allah SWT berfirman:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina sebagai cobaan bagi mereka, maka tunggulah (tindahan) mereka dan bersabarlah. Dan beritakanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu terbagi antara mereka (dengan unta bertina itu); tiap-tiap giliran minum dihadiri (oleh yang punya giliran). Maka, mereka memanggil kawannya, lalu kawannya menangkap (unta itu) dan membunuhnya. Alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang. &#8221; (QS. al-Qamar: 27-31)</p>
<p>Mereka hancur semua sebelum mengetahui apa yang terjadi. Sedangkan orang-orang yang beriman bersama Nabi Saleh, mereka telah meninggalkan tempat tersebut sehingga mereka selamat.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakradyant.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakradyant.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakradyant.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakradyant.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cakradyant.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cakradyant.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cakradyant.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cakradyant.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakradyant.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakradyant.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakradyant.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakradyant.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakradyant.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakradyant.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakradyant.wordpress.com&amp;blog=11845722&amp;post=46&amp;subd=cakradyant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakradyant.wordpress.com/2010/03/06/kisah-nabi-sholeh-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fd55fedb4577ed5e006373db13073443?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cakradyant</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Nabi Hud AS</title>
		<link>http://cakradyant.wordpress.com/2010/02/28/kisah-nabi-hud-as/</link>
		<comments>http://cakradyant.wordpress.com/2010/02/28/kisah-nabi-hud-as/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 14:53:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakradyant</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Nabi dan Rasul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakradyant.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Selesailah kisah kaum Nabi Nuh dalam sejarah. Mayoritas di antara mereka yang mendustakan ajarannya telah dihancurkan oleh topan. Sedangkan minoritas di antara mereka dapat kembali memakmurkan bumi sebagai wujud dari sunatullah dan janji-Nya: Sedangkan janji Allah SWT kepada Nabi Nuh adalah: &#8220;Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang takwa.&#8221; (QS. al-Qashash: 83) Dan janji [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakradyant.wordpress.com&amp;blog=11845722&amp;post=44&amp;subd=cakradyant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selesailah kisah kaum Nabi Nuh dalam sejarah. Mayoritas di antara mereka yang mendustakan ajarannya telah dihancurkan oleh topan. Sedangkan minoritas di antara mereka dapat kembali memakmurkan bumi sebagai wujud dari sunatullah dan janji-Nya: Sedangkan janji Allah SWT kepada Nabi Nuh adalah:</p>
<p>&#8220;Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang takwa.&#8221; (QS. al-Qashash: 83)</p>
<p>Dan janji Allah SWT juga kepada Nabi Nuh adalah:</p>
<p>&#8220;Difirmankan: &#8216;Hai Nuh, turunlah dengan selamat dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang beriman) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada pula umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam hehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami. &#8221; (QS. Hud: 48)</p>
<p>Berputarlah roda kehidupan dan datanglah janji Allah SWT. Setelah datangnya topan, tiada yang tersisa dari manusia di muka bumi kecuali orang-orang yang beriman. Tiada satu hati yang kafir pun berada di muka bumi dan setan mulai mengeluhkan pengangguran.</p>
<p>Berlalulah tahun demi tahun, lalu matilah para orang tua dan anak-anak, dan datanglah anak dari anak-anak. Manusia lupa akan wasiat Nabi Nuh dan mereka kembali menyembah berhala. Manusia menyimpang dari penyembahan yang semata-mata untuk Allah SWT. Akhirnya, tipuan kuno berulang kembali. Para cucu kaum Nabi Nuh berkata: &#8220;Kita tidak ingin melupakan kakek kita yang Allah SWT selamatkan mereka dari topan.&#8221;</p>
<p>Oleh karena itu, mereka membuat patung-patung orang-orang yang selamat itu yang dapat mengingatkan mereka dengannya. Dan pengagungan ini semakin berkembang generasi demi generasi, namun akhimya penghormatan itu berubah menjadi penghambaan. Patung-patung itu berubah—dengan bisikan setan—menjadi tuhan selain Allah SWT. Dan bumi kembali mengeluhkan kegelapan. Lalu Allah SWT rnengutus junjungan kita Nabi Hud di tengah-tengah kaumnya.</p>
<p>Al-Qur&#8217;an menyingkap ceritanya setelah diutusnya Nabi Hud untuk membawa agama kepada manusia. Nabi Hud berasal dari kabilah yang bernama &#8216;Ad. Kabilah ini tinggal di suatu tempat yang bernama al-Ahqaf. la adalah padang pasir yang dipenuhi dengan gunung-gunung pasir dan tampak dari puncaknya lautan. Adapun tempat tinggal mereka berupa tenda-tenda besar dan mempuyai tiang-tiang yang kuat dan tinggi. Kaum &#8216;Ad terkenal dengan kekuatan fisik di saat itu, dan mereka juga memiliki tubuh yang amat tinggi dan tegak sampai-sampai mereka mengatakan seperti yang dikutip oleh Al-Qur&#8217;an:</p>
<p>&#8220;Mereka berkata: &#8216;Siapakah yang lebih kuat daripada kami.&#8217;&#8221; (QS. Fushilat: 15)</p>
<p>Tiada seorang pun di masa itu yang dapat menandingi kekuatan mereka. Meskipun mereka memiliki kebesaran tubuh, namun mereka memiliki akal yang gelap. Mereka menyembah berhala dan membelanya bahkan mereka siap berperang atas namanya. Mereka malah menuduh nabi mereka dan mengejeknya. Selama mereka menganggap bahwa kekuatan adalah hal yang patut dibanggakan, maka seharusnya mereka melihat bahwa Allah SWT yang menciptakan mereka lebih kuat dari mereka. Sayangnya, mereka tidak melihat selain kecongkakan mereka. Nabi Hud berkata kepada mereka:</p>
<p>&#8220;Wahai kaumku, sembahlah Allah yang tiada tuhan lain bagi kalian selain-Nya. &#8221; (QS. Hud: 50)</p>
<p>Itu adalah perkataan yang sama yang diucapkan oleh seluruh nabi dan rasul. Perkataan tersebut tidak pernah berubah, tidak pernah berkurang, dan tidak pernah dicabut kembali. Kaumnya bertanya kepadanya: &#8220;Apakah engkau ingin menjadi pemimpin bagi kami melalui dakwahmu ini? Imbalan apa yang engkau inginkan?&#8221; Nabi Hud memberitahu mereka bahwa ia hanya mengharapkan imbalan dari Allah SWT. Ia tidak menginginkan sesuatu pun dari mereka selain agar mereka menerangi akal mereka dengan cahaya kebenaran. Ia mengingatkan mereka tentang nikmat Allah SWT terhadap mereka. Bagaimana Dia menjadikan mereka sebagai khalifah setelah Nabi Nuh, bagaimana Dia memberi mereka kekuatan fisik, bagaimana Dia menempatkan mereka di bumi yang penuh dengan kebaikan, bagaimana Dia mengirim hujan lalu menghidupkan bumi dengannya.</p>
<p>Kaum Hud membuat kerusakan dan mengira bahwa mereka orang-orang yang terkuat di muka bumi, sehingga mereka menampakkan kesombongan dan semakin menentang kebenaran. Mereka berkata kepada Nabi Hud: &#8220;Bagaimana engkau menuduh tuhan-tuhan kami yang kami mendapati ayah-ayah kami menyembahnya?&#8221; Nabi Hud menjawab: &#8220;Sungguh orang tua kalian telah berbuat kesalahan.&#8221; Kaum Nabi Hud berkata: &#8220;Apakah engkau akan mengatakan wahai Hud bahwa setelah kami mad dan menjadi tanah yang beterbangan di udara, kita akan kembali hidup?&#8221; Nabi Hud menjawab: &#8220;Kalian akan kembali pada hari kiamat dan Allah SWT akan bertanya kepada masing-masing dari kalian tentang apa yang kalian lakukan.&#8221;</p>
<p>Setelah mendengar jawaban itu, meledaklah tertawa dari mereka. Alangkah anehnya pengakuan Hud, demikianlah orang-orang kafir berbisik di antara mereka. Manusia akan mati dan ketika mati jasadnya akan rusak dan ketika jasadnya rusak ia akan menjadi tanah kemudian akan dibawa oleh udara dan tanah itu akan beter­bangan, lalu bagaimana semua ini akan kembali ke asalnya. &#8220;Kemu­dian apa pengertian adanya hari kiamat? Mengapa orang-orang yang mati akan bangkit dari kematiannya?&#8221; Hud menerima pertanyaan-pertanyaan ini dengan kesabaran yang mulia. Kemudian ia mulai menerangkan pada kaumnya keadaan hari kiamat. Ia menjelaskan kepada mereka bahwa kepercayaan manusia kepada hari akhir adalah satu hal yang penting yang berhubungan dengan keadilan Allah SWT, sebagaimana ia juga sesuatu yang penting yang juga berhubungan dengan kehidupan manusia.</p>
<p>Nabi Hud menerangkan kepada mereka sebagaimana apa yang diterangkan oleh semua nabi berkenaan dengan hari kiamat. Sesungguhnya hikmah sang Pencipta tidak menjadi sempurna dengan sekadar memulai penciptaan kemudian berakhirnya kehidupan para makhluk di muka bumi ini, lalu setelah itu tidak ada hal yang lain. Ini adalah masa tenggang yang pertama dari ujian. Dan ujian tidak selesai dengan hanya menyerahkan lembar jawaban. Harus juga disertai dengan koreksi terhadap lembar jawaban itu, memberi nilai, dan menjelaskan siapa yang berhasil dan siapa yang gagal.</p>
<p>Manusia selama hidup di dunia tidak hanya mempunyai satu tindakan; ada yang berbuat kelaliman, ada yang membunuh, dan ada yang melampaui batas. Seringkali kita melihat orang-orang lalim pergi dengan bebas tanpa menjalani hukuman. Cukup banyak orang-orang yang jahat namun mereka mendapatkan fasilitas yang mewah dan mendapatkan penghormatan serta kekuasaan. Ke mana orang-orang yang teraniaya akan mengadu dan kepada siapa orang-orang yang menderita akan mengeluh?</p>
<p>Logika keadilan menuntut adanya hari kiamat. Sesungguhnya kebaikan tidak selalu menang dalam kehidupan, bahkan terkadang pasukan kejahatan berhasil membunuh dan memperdaya para pejuang kebenaran. Lalu, apakah kejahatan ini berlalu begitu saja tanpa mendapatkan balasan? Sungguh suatu kelaliman besar terhampar seandainya kita menganggap bahwa hari kiamat tidak pernah terjadi. Allah SWT telah mengharamkan kelaliman atas diri-Nya sendiri, dan Dia pun mengharamkannya terjadi di antara hamba-hamba-Nya., maka adanya hari kiamat, hari perhitungan, hari pembalasan adalah sebagai bukti kesempurnaan dari keadilan Allah SWT. Sebab hari kiamat adalah hari di mana semua persoalan akan disingkap kembali di depan sang Pencipta dan akan di tinjau kembali, dan Allah SWT akan memutuskan hukum-Nya di dalam-nya. Inilah kepentingan pertama tentang hari kiamat yang berhubungan langsung dengan keadilan Allah SWT.</p>
<p>Ada kepentingan lain berkenaan dengan hari kiamat, yang berhubungan dengan perilaku manusia sendiri. Bahwa keyakinan dengan adanya hari akhir, mempercayai hari kebangkitan, perhitungan amal, penerimaan pahala dan siksa, dan kemudian masuk surga atau neraka adalah perkara-perkara yang langsung berkenaan dengan perilaku manusia, di mana konsentrasi manusia dan had mereka akan tertuju dengan alam lain setelah alam ini. Oleh karena itu, mereka tidak akan terbelenggu oleh kenikmatan dunia, kerakusan kepadanya, dan egoisme untuk menguasinya. Mereka tidak perlu gelisah saat mereka tidak berhasil melihat balasan usaha mereka dalam umur mereka yang pendek dan terbatas. Dengan demikian, manusia semakin meninggi dari tanah yang menjadi asal penciptaannya ke roh yang ditiupkan oleh Tuhannya.</p>
<p>Barangkali persimpangan jalan antara tunduk terhadap imajinasi dunia, nilai-nilainya, dan pertimbangan-pertimbangannya dan ketergantungan dengan nilai-nilai Allah SWT yang tinggi dapat terwujud dengan adanya keimanan terhadap hari kiamat. Nabi Hud telah membicarakan semua ini dan mereka telah mendengarkannya namun mereka mendustakannya. Allah SWT menceritakan sikap kaum itu terhadap hari kiamat:</p>
<p>&#8220;Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan pertemuan dengan hari kiamat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan dunia: &#8216;Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia, makan dari apa yang kamu, makan, dan meminum dari apa yang kamu minum. Dan sesungguhnya jika kamu sekalian menaati manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian itu, kamu benar-benar menjadi orang-orang yang merugi. Apakah ia menjanjikan kepada kamu sekalian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kamu sesungguhnya akan dikeluarkan (dari kuburmu)?, jauh, jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepadamu itu, kehidupan tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi. &#8221; (QS. al-Mu`minun: 33-37)</p>
<p>Demikianlah kaum Nabi Hud mendustakan nabinya. Mereka berkata kepadanya: &#8220;Tidak mungkin, tidak mungkin.&#8221; Mereka keheranan ketika mendengar bahwa Allah SWT akan membangkitkan orang-orang yang ada dalam kuburan. Mereka bingung ketika dibe-ritahu bahwa Allah SWT akan mengembalikan penciptaan manusia setelah ia berubah menjadi tanah, meskipun Dia telah menciptakannya sebelumnya juga dari tanah. Seharusnya para pendusta hari kebangkitan itu merasa bahwa mengembalikan penciptaan manusia dari tanah dan tulang lebih mudah dari penciptaannya pertama kali. Bukankah Allah SWT telah menciptakan semua makhluk, maka kesulitan apa yang ditemui-Nya dalam mengembalikannya. Kesulit­an itu disesuaikan dengan tolok ukur manusia yang tersembunyi dalam ciptaan., maka tolok ukur manusia tersebut tidak dapat diterapkan kepada Allah SWT. Karena Dia tidak mengenal kesulitan atau kemudahan. Ketika Dia ingin membuat sesuatu, maka Dia hanya sekadar mengeluarkan perintah:</p>
<p>&#8220;Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepa­danya: &#8220;Jadilah.&#8221;Lalu jadilah ia.&#8221; (QS. al-Baqarah: 117)</p>
<p>Kita juga memperhatikan firman-Nya:</p>
<p>&#8220;Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya.&#8221; (QS. al-Mu^minun: 33)</p>
<p>Al-Mala&#8217; ialah para pembesar (ar-Ruasa&#8217;). Mereka dinamakan al-Mala&#8217; karena mereka suka berbicara dan mereka mempunyai kepentingan dalam kesinambungan situasi yang tidak sehat. Kita akan menyaksikan mereka dalam setiap kisah para nabi. Kita akan melihat para pembesar kaum, orang-orang kaya di antara mereka, dan orang-orang elit di antara mereka yang menentang para nabi. Allah SWT menggambarkan mereka dalam firman-Nya:</p>
<p>&#8220;Dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan dunia. &#8221; (QS. al-Mukminun: 33)</p>
<p>Karena pengaruh kekayaan dan kemewahan hidup, lahirlah keinginan untuk meneruskan kepentingan-kepentingan khusus, dan dari pengaruh kekayaan dan kekuasaan, muncullah sikap sombong. Para pembesar itu menoleh kepada kaumnya sambil bertanya-tanya: &#8220;Tidakkah nabi ini manusia biasa seperti kita, ia memakan dari apa yang kita, makan, dan meminum dari apa yang kita minum? Bahkan barangkali karena kemiskinannya, ia sedikit, makan dari apa yang kita, makan dan ia minum, menggunakan gelas-gelas yang kotor sementara kita minum dari gelas-gelas yang terbuat dari emas dan perak., maka bagaimana ia mengaku berada dalam kebenaran dan kita dalam kebatilan? Ini adalah manusia biasa, maka bagaimana kita menaati manusia biasa seperti kita? Kemudian, mengapa Allah SWT memilih manusia di antara kita untuk mendapatkan wahyu-Nya?&#8221;</p>
<p>Para pembesar kaum Nabi Hud berkata: &#8220;Bukankah hal yang aneh ketika Allah SWT memilih manusia biasa di antara kita untuk menerima wahyu dari-Nya?&#8221; Nabi Hud balik bertanya: &#8220;Apa keanehan dalam hal itu? Sesungguhnya Allah SWT mencintai kalian dan oleh karenanya Dia mengutus aku kepada kalian untuk mengingatkan kalian. Sesungguhnya perahu Nuh dan kisah Nuh tidak jauh dari ingatan kalian. Janganlah kalian melupakan apa yang telah terjadi. Orang-orang yang menentang Allah SWT telah dihancurkan dan begitu juga orang-orang yang akan mengingkari-Nya pun akan dihancurkan, sekuat apa pun mereka.&#8221; Para pembesar kaum berkata: &#8220;Siapakah yang dapat menghancurkan kami wahai Hud?&#8221; Nabi Hud menjawab: &#8220;Allah SWT.&#8221;</p>
<p>Orang-orang kafir dari kaum Nabi Hud berkata: &#8220;Tuhan-tuhan kami akan menyelamatkan kami.&#8221; Nabi Hud memberitahu mereka, bahwa tuhan-tuhan yang mereka sembah ini dengan maksud untuk mendekatkan mereka kepada Allah SWT pada hakikatnya justru menjauhkan mereka dari-Nya. Ia menjelaskan kepada mere­ka bahwa hanya Allah SWT yang dapat menyelamatkan manusia, sedangkan kekuatan lain di bumi tidak dapat mendatangkan mudarat dan manfaat.</p>
<p>Pertarungan antara Nabi Hud dan kaumnya semakin seru. Dan setiap kali pertarungan berlanjut dan hari berlalu, kaum Nabi Hud meningkatkan kesombongan, pembangkangan, dan pendustaan kepada nabi mereka. Mereka mulai menuduh Nabi Hud sebagai seorang idiot dan gila. Pada suatu hari mereka berkata kepadanya: &#8220;Sekarang kami memahami rahasia kegilaanmu. Sesungguhnya engkau menghina tuhan kami dan tuhan kami telah marah kepadamu, dan karena kemarahannya engkau menjadi gila.&#8221; Allah SWT menceritakan apa yang mereka katakan dalam firman-Nya:</p>
<p>&#8220;Kaum &#8216;Ad berkata: &#8216;Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu. &#8221; (QS. Hud: 53-54)</p>
<p>Sampai pada batas inilah penyimpangan itu telah terjadi pada diri mereka, sampai pada batas bahwa mereka menganggap, bahwa Nabi Hud telah mengigau karena salah satu tuhan mereka telah murka kepadanya sehingga ia terkena sesuatu penyakit gila. Nabi Hud tidak membiarkan anggapan mereka bahwa ia gila dan mengigau, naniun ia tidak bersikap emosi tetapi ia menunjukkan sikap tegas ketika mereka mengatakan: &#8220;Dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. &#8220;</p>
<p>Setelah tantangan ini tiada lain bagi Nabi Hud kecuali memberikan tantangan yang sama. Nabi Hud hanya pasrah kepada Allah SWT. Nabi Hud hanya memberikan peringatan dan ancaman terhadap orang-orang yang mendustakan dakwahnya. Nabi Hud berkata:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksiku dan saksikanlah olehmu bahwa Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dari selain-Nya. Sebab itu, jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah karnu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudarat kepada-Nya sedikit pun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu. &#8221; (QS. Hud: 54-57)</p>
<p>Manusia akan merasa keheranan terhadap perlawanan kepada kebenaran ini. Seorang lelaki menghadapi kaum yang kasar dan keras kepala serta bodoh. Mereka menganggap bahwa berhala-berhala dari batu dapat memberikan gangguan. Manusia sendiri rnampu menentang para tiran dan melumpuhkan keyakinan mereka, serta berlepas diri dari mereka dan dari tuhan mereka. Bahkan ia siap menentang mereka dan menghadapi segala bentuk, makar mereka. Ia pun siap berperang dengan mereka dan bertawakal kepada Allah SWT. Allah-lah yang Maha Kuat dan Maha Benar. Dia-lah yang menguasai setiap makhluk di muka bumi, baik berupa binatang, manusia, maupun makhluk lain. Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah SWT.</p>
<p>Dengan keimanan kepada Allah SWT dan dengan kepercayaan pada janji-Nya serta merasa tenang dengan pertolongan-Nya, Nabi Hud menyeru orang-orang kaflr dari kaumnya. Nabi Hud melakukan yang demikian itu meskipun ia sendirian dan merasakan kelemahan karena ia mendapatkan keamanan yang hakiki dari Allah SWT. Dalam pembicaraannya, Nabi Hud menjelaskan kepada kaumnya bahwa ia melaksanakan amanat dan menyampaikan agama. Jika mereka mengingkari dakwahnya, niscaya Allah SWT akan mengganti mereka dengan kaum selain mereka. Yang demi­kian ini berarti bahwa mereka sedang menunggu azab. Demikianlah Nabi Hud menjelaskan kepada mereka, bahwa ia berlepas diri dari mereka dan dari tuhan mereka. la bertawakal kepada Allah SWT yang menciptakannya.</p>
<p>Ia mengetahui bahwa siksa akan turun di antara para pengikutnya yang menentang. Beginilah hukum kehidupan di mana Allah SWT menyiksa orang-orang kafir meskipun mereka sangat kuat atau sangat kaya. Nabi Hud dan kaumnya menunggu janji Allah SWT. Kemudian terjadilah masa kering di muka bumi di mana langit tidak lagi menurunkan hujan. Matahari menyengat sangat kuat hingga laksana percikan-percikan api yang menimpa kepala manusia.</p>
<p>Kaum Nabi Hud segera menuju kepadanya dan bertanya: &#8220;Mengapa terjadi kekeringan ini wahai Hud?&#8221; Nabi Hud berkata: &#8220;Sesungguhnya Allah SWT murka kepada kalian. Jika kalian beriman, maka Allah SWT akan rela terhadap kalian dan menurunkan hujan serta menambah kekuatan kalian.&#8221; Namun kaum Nabi Hud justru mengejeknya dan malah semakin menentangnya., maka masa kekeringan semakin meningkat dan menguningkan pohon-pohon yang hijau dan matilah tanaman-tanaman.</p>
<p>Lalu datanglah suatu hari di mana terdapat awan besar yang menyelimuti langit. Kaum Nabi Hud begitu gembira dan mereka keluar dari rumah mereka sambil berkata: &#8220;Hari ini kita akan dituruni hujan.&#8221; Tiba-tiba udara berubah yang tadinya sangat kering dan panas kini menjadi sangat dingin. Angin mulai bertiup dengan kencang. Semua benda menjadi bergoyang. Angin terus-menerus bertiup malam demi malam, dan hari demi hari. Setiap saat rasa dingin bertambah.</p>
<p>Kaum Nabi Hud mulai berlari. Mereka segera menuju ke tenda dan bersembunyi di dalamnya. Angin semakin bertiup dengan kencang dan menghancurkan tenda. Angin menghancurkan pakaian dan menghancurkan kulit. Setiap kali angin bertiup, ia menghan­curkan dan membunuh apa saja yang di depannya. Angin bertiup selama tujuh malam dan delapan hari dengan mengancam kehidupan dunia. Kemudian angin berhenti dengan izin Tuhannya.</p>
<p>Allah SWT berfirman:</p>
<p>&#8220;Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: &#8216;Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.&#8217; (Bukan)! Bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya.&#8221; (QS. al-Ahqaf: 24-25) &#8220;Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus;, maka kamu lihat kaum &#8216;Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). &#8221; (QS. al-Haqqah: 7)</p>
<p>Tiada yang tersisa dari kaum Nabi Hud kecuali pohon-pohon kurma yang lapuk. Nabi Hud dan orang-orang yang beriman kepadanya selamat sedangkan orang-orang yang menentangnya binasa.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakradyant.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakradyant.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakradyant.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakradyant.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cakradyant.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cakradyant.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cakradyant.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cakradyant.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakradyant.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakradyant.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakradyant.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakradyant.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakradyant.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakradyant.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakradyant.wordpress.com&amp;blog=11845722&amp;post=44&amp;subd=cakradyant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakradyant.wordpress.com/2010/02/28/kisah-nabi-hud-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fd55fedb4577ed5e006373db13073443?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cakradyant</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Nabi Nuh AS</title>
		<link>http://cakradyant.wordpress.com/2010/02/26/kisah-nabi-nuh-as/</link>
		<comments>http://cakradyant.wordpress.com/2010/02/26/kisah-nabi-nuh-as/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Feb 2010 09:14:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cakradyant</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Nabi dan Rasul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakradyant.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Berlalulah beberapa tahun dari kematian Nabi Adam. Bunga-bunga berguguran di sekitar kuburannya dan pohon-pohon dan batu-batuan tampak tidak bergairah. Banyak hal berubah di muka bumi. Dan sesuai dengan hukum umum, terjadilah kealpaan terhadap wasiat Nabi Adam. Kesalahan yang dahulu kembali terulang. Kesalahan dalam bentuk kelupaan, meskipun kali ini terulang secara berbeda. Sebelum lahirnya kaum Nabi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakradyant.wordpress.com&amp;blog=11845722&amp;post=38&amp;subd=cakradyant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berlalulah beberapa tahun dari kematian Nabi Adam. Bunga-bunga berguguran di sekitar kuburannya dan pohon-pohon dan batu-batuan tampak tidak bergairah. Banyak hal berubah di muka bumi. Dan sesuai dengan hukum umum, terjadilah kealpaan terhadap wasiat Nabi Adam. Kesalahan yang dahulu kembali terulang. Kesalahan dalam bentuk kelupaan, meskipun kali ini terulang secara berbeda.</p>
<p><span id="more-38"></span></p>
<p>Sebelum lahirnya kaum Nabi Nuh, telah hidup lima orang saleh dari kakek-kakek kaum Nabi Nuh. Mereka hidup selama beberapa zaman kemudian mereka mati. Nama-nama mereka adalah Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr. Setelah kematian mereka, orang-orang membuat patung-patung dari mereka, dalam rangka menghormati mereka dan sebagai peringatan terhadap mereka. Kemu­dian berlalulah waktu, lalu orang-orang yang memahat patung itu mati. Lalu datanglah anak-anak mereka, kemudian anak-anak itu mati, dan datanglah cucu-cucu mereka. Kemudian timbullah berbagai dongeng dan khurafat yang membelenggu akal manusia di mana disebutkan bahwa patung-patung itu memiliki kekuatan khusus.</p>
<p>Di sinilah iblis memanfaatkan kesempatan, dan ia membisikkan kepada manusia bahwa berhala-berhala tersebut adalah Tuhan yang dapat mendatangkan manfaat dan menolak bahaya sehingga akhirnya manusia menyembah berhala-berhala itu. Kami tidak mengetahui sumber yang terpecaya berkenaan dengan bagaimana bentuk kehidupan ketika penyembahan terhadap berhala dimulai di bumi, namun kami mengetahui hukum umum yang tidak pernah berubah ketika manusia mulai cenderung kepada syirik. Dalam situasi seperti itu, kejahatan akan memenuhi bumi dan akal manusia akan kalah, serta akan meningkatnya kelaliman dan banyaknya orang-orang yang teraniaya. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Alhasil, kehidupan manusia semuanya akan berubah menjadi neraka Jahim. Situasi demikian ini pasti terjadi ketika manusia menyembah selain Allah SWT, baik yang disembah itu berhala dari batu, anak sapi dari emas, penguasa dari manusia, sistem dari berbagai sistem, mazhab dari berbagai mazhab, atau kuburan seorang wali. Sebab satu-satunya yang menjamin persamaan di antara manusia adalah, saat mereka hanya menyembah Allah SWT dan saat Dia diakui sebagai Pencipta mereka dan yang membuat undang-undang bagi mereka. Tetapi saat jaminan ini hilang lalu ada seorang yang mengklaim, atau ada sistem yang mengklaim memiliki wewenang ketuhanan maka manusia akan binasa dan akan hilanglah kebebasan mereka sepenuhnya.</p>
<p>Penyembahan kepada selain Allah SWT bukan hanya sebagai sebuah tragedi yang dapat menghilangkan kebebasan, namun pengaruh buruknya dapat merembet ke akal manusia dan dapat mengotorinya. Sebab, Allah SWT menciptakan manusia agar dapat mengenal-Nya dan menjadikan akalnya sebagai permata yang bertujuan untuk memperoleh ilmu. Dan ilmu yang paling penting adalah kesadaran bahwa Allah SWT semata sebagai Pencipta, dan selain-Nya adalah makhluk. Ini adalah poin penting dan dasar pertama yang harus ada sehingga manusia sukses sebagai khalifah di muka bumi.</p>
<p>Ketika akal manusia kehilangan potensinya dan berpaling ke selain Allah SWT maka manusia akan tertimpa kesalahan. Terkadang seseorang mengalami kemajuan secara materi karena ia berhasil melalui jalan-jalan kemajuan, meskipun ia tidak beriman kepada Allah SWT, namun kemajuan materi ini yang tidak disertai dengan pengenalan kepada Allah SWT akan menjadi siksa yang lebih keras daripada siksaan apa pun, karena ia pada akhirnya akan menghancurkan manusia itu sendiri. Ketika manusia menyembah selain Allah SWT maka akan meningkatlah penderitaan kehidupan dan kefakiran manusia. Terdapat hubungan kuat antara kehinaan manusia dan kefakiran mereka, serta tidak berimannya mereka kepada Allah. Allah SWT berfirman:</p>
<p>“Seandainya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. ” (QS. al-A’raf: 96)</p>
<p>Demikianlah, bahwa kufur kepada Allah SWT atau syirik kepada-Nya akan menyebabkan hilangnya kebebasan dan hancurnya akal serta meningkatnya kefakiran, serta kosongnya kehidupan dari tujuan yang mulia. Dalam situasi seperti ini, Allah SWT mengutus Nuh untuk membawa ajaran-Nya kepada kaumnya. Nabi Nuh adalah seorang hamba yang akalnya tidak terpengaruh oleh polusi kolektif, yang menyembah selain Allah SWT. Allah SWT memilih hamba-Nya Nuh dan mengutusnya di tengah-tengah kaumnya.</p>
<p>Nuh membuat revolusi pemikiran. Ia berada di puncak kemuliaan dan kecerdasan. Ia merupakan manusia terbesar di zamannya. Ia bukan seorang raja di tengah-tengah kaumnya, bukan penguasa mereka, dan bukan juga orang yang paling kaya di antara mereka. Kita mengetahui bahwa kebesaran tidak selalu berhubungan dengan kerajaan, kekayaan, dan kekuasaan. Tiga hal tersebut biasanya dimiliki oleh jiwa-jiwa yang hina. Namun kebesaran terletak pada kebersihan hati, kesucian nurani, dan kemampuan akal untuk mengubah kehidupan di sekitarnya. Nabi Nuh memiliki semua itu, bahkan lebih dari itu. Nabi Nuh adalah manusia yang mengingat dengan baik perjanjian Allah SWT dengan Nabi Adam dan anak-anaknya, ketika Dia menciptakan mereka di alam atom. Berdasarkan fitrah, ia beriman kepada Allah SWT sebelum pengutusannya pada manusia. Dan semua nabi beriman kepada Allah SWT sebe­lum mereka diutus. Di antara mereka ada yang “mencari” Allah SWT seperti Nabi Ibrahim, ada juga di antara mereka yang beriman kepada-Nya dari lubuk hati yang paling dalam, seperti Nabi Musa, dan di antara mereka juga ada yang beribadah kepada-Nya dan menyendiri di gua Hira, seperti Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Terdapat sebab lain berkenaan dengan kebesaran Nabi Nuh. Ketika ia bangun, tidur, makan, minum, atau mengenakan pakaian, masuk atau keluar, ia selalu bersyukur kepada Allah SWT dan memuji-Nya, serta mengingat nikmat-Nya dan selalu bersyukur kepada-Nya. Oleh karena itu, Allah SWT berkata tentang Nuh:</p>
<p>“Sesungguhnya  dia adalah hamba  (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS. al-Isra’: 3)</p>
<p>Allah SWT memilih hamba-Nya yang bersyukur dan mengutusnya sebagai nabi pada kaumnya. Nabi Nuh keluar menuju kaumnya dan memulai dakwahnya:</p>
<p>“Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar. ” (QS. al-A’raf: 59)</p>
<p>Dengan kalimat yang singkat tersebut, Nabi Nuh meletakkan hakikat ketuhanan kepada kaumnya dan hakikat hari kebangkitan. Di sana hanya ada satu Pencipta yang berhak disembah. Di sana terdapat kematian, kemudian kebangkitan kemudian hari kiamat. Hari yang besar yang di dalamnya terdapat siksaan yang besar.</p>
<p>Nabi Nuh menjelaskan kepada kaumnya bahwa mustahil terdapat selain Allah Yang Maha Esa sebagai Pencipta. Ia memberikan pengertian kepada mereka, bahwa setan telah lama menipu mereka dan telah tiba waktunya untuk menghentikan tipuan ini. Nuh menyampaikan kepada mereka, bahwa Allah SWT telah memuliakan manusia: Dia telah menciptakan mereka, memberi mereka rezeki, dan menganugerahi akal kepada mereka. Manusia mendengarkan dakwahnya dengan penuh kekhusukan. Dakwah Nabi Nuh cukup mengguncangkan jiwa mereka. Laksana tembok yang akan roboh yang saat itu di situ ada seorang yang tertidur dan engkau meng-goyang tubuhnya agar ia bangun. Barangkali ia akan takut dan ia marah meskipun engkau bertujuan untuk menyelamatkannya.</p>
<p>Akar-akar kejahatan yang ada di bumi mendengar dan merasakan ketakutan. Pilar-pilar kebencian terancam dengan cinta ini yang dibawa oleh Nabi Nuh. Setelah mendengar dakwah Nabi Nuh, kaumnya terpecah menjadi dua kelompok: Kelompok orang-orang lemah, orang-orang fakir, dan orang-orang yang menderita, di mana mereka merasa dilindungi dengan dakwah Nabi Nuh, sedangkan kelompok yang kedua adalah kelompok orang-orang kaya, orang-orang kuat, dan para penguasa di mana mereka menghadapi dakwah Nabi Nuh dengan penuh keraguan. Bahkan ketika mereka mempunyai kesempatan, mereka mulai melancarkan serangan untuk melawan Nabi Nuh. Mula-mula mereka menuduh bahwa Nabi Nuh adalah manusia biasa seperti mereka:</p>
<p>“Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: ‘Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami.’” (QS. Hud: 27)</p>
<p>Dalam tafsir al-Quturbi disebutkan: “Masyarakat yang menentang dakwahnya adalah para pembesar dari kaumnya. Mereka dikatakan al-Mala’ karena mereka seringkali berkata. Misalnya mereka berkata kepada Nabi Nuh: “Wahai Nuh, engkau adalah manusia biasa.” Padahal Nabi Nuh juga mengatakan bahwa ia memang manusia biasa. Allah SWT mengutus seorang rasul dari manusia ke bumi karena bumi dihuni oleh manusia. Seandainya bumi dihuni oleh para malaikat niscaya Allah SWT mengutus seorang rasul dari malaikat.</p>
<p>Berlanjutlah peperangan antara orang-orang kafir dan Nabi Nuh. Mula-mula, rezim penguasa menganggap bahwa dakwah Nabi Nuh akan mati dengan sendirinya, namun ketika mereka melihat bahwa dakwahnya menarik perhatian orang-orang fakir, orang-orang lemah, dan pekerja-pekerja sederhana, mereka mulai menyerang Nabi Nuh dari sisi ini. Mereka menyerangnya melalui pengikutnya dan mereka berkata kepadanya: “Tiada yang mengikutimu selain orang-orang fakir dan orang-orang lemah serta orang-orang hina.”</p>
<p>Allah  SWT berfirman:</p>
<p>“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): ‘Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesung­guhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan. Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: ‘Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikutimu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang berdusta. ” (QS. Hud: 25-27)</p>
<p>Demikianlah telah berkecamuk pertarungan antara Nabi Nuh dan para bangsawan dari kaumnya. Orang-orang yang kafir itu menggunakan dalih persamaan dan mereka berkata kepada Nabi Nuh: “Dengarkan wahai Nuh, jika engkau ingin kami beriman kepadamu maka usirlah orang-orang yang beriman kepadamu. Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang lemah dan orang-orang yang fakir, sementara kami adalah kaum bangsawan dan orang-orang kaya di antara mereka. Dan mustahil engkau menggabungkan kami bersama mereka dalam satu dakwah (majelis).” Nabi Nuh mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang-orang kafir dari kaumnya. la mengetahui bahwa mereka menentang. Meskipun demikian, ia menjawabnya dengan baik. Ia memberitahukan kepada kaumnya bahwa ia tidak dapat mengusir orang-orang mukmin, karena mereka bukanlah tamu-tamunya namun mereka adalah tamu-tamu Allah SWT. Rahmat bukan terletak dalam rumahnya di mana masuk di dalamnya orang-orang yang dikehendakinya dan terusir darinya orang-orang yang dikehendakinya, tetapi rahmat terletak dalam rumah Allah SWT di mana Dia menerima siapa saja yang dikehendaki-Nya di dalamnya. Allah SWT berfirman:</p>
<p>“Berkata Nuh: ‘Hai kaumku, bagaimana pikiranmu, jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan diberinya aku rahmat dari sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan bagimu. Apa akan kami paksakankah kamu menerimanya, padahal kamu tidak menyukainya? Dan (dia berkata): ‘Hai kaumku, aku tidak meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui.’ Dan (dia berkata): ‘Hai kaumku, siapakah yang dapat menolongku dari (azab) Allah jika aku mengusir mereka. Maka tidakkan kamu mengambil pelajaran?’ Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa): ‘Aku mempunyai gudang-gudang rezeki dan kekayaan dari Allah, dan aku tidak mengetahui hal yang gaib, dan tidak pula aku mengatakan: ‘Sesungguhnya aku adalah malaikat,’ dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu: ‘Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka. Allah lebih mengetahui apa yang ada pada mereka. Sesungguhnya aku kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang lalim.’” (QS. Hud: 28-31)</p>
<p>Nuh mematahkan semua argumentasi orang-orang kafir dengan logika para nabi yang mulia. Yaitu, logika pemikiran yang sunyi dari kesombongan pribadi dan kepentingan-kepentingan khusus. Nabi Nuh berkata kepada mereka bahwa Allah SWT telah memberinya agama, kenabian, dan rahmat. Sedangkan mereka tidak melihat apa yang diberikan Allah SWT kepadanya. Selanjutnya, ia tidak memaksakan mereka untuk mempercayai apa yang disampaikannya saat mereka membenci. Kalimat tauhid (tiada Tuhan selain Allah) tidak dapat dipaksakan atas seseorang. Ia memberitahukan kepada mereka bahwa ia tidak meminta imbalan dari mereka atas dakwahnya. Ia tidak meminta harta dari mereka sehingga memberatkan mereka. Sesungguhnya ia hanya mengharapkan pahala (imbalan) dari Allah SWT. Allahlah yang memberi pahala kepadanya. Nabi Nuh menerangkan kepada mereka bahwa ia tidak dapat mengusir orang-orang yang beriman kepada Allah SWT. Meskipun sebagai Nabi, ia memiliki keterbatasan dan keterbatasan itu adalah tidak diberikannya hak baginya untuk mengusir orang-orang yang beriman karena dua alasan. Bahwa mereka akan bertemu dengan Alllah SWT dalam keadaan beriman kepada-Nya, maka bagaimana ia akan mengusir orang yang beriman kepada Allah SWT, kemudian seandainya ia mengusir mereka, maka mereka akan menentangnya di hadapan Allah SWT. Ini berakibat pada pemberian pahala dari Allah SWT atas keimanan mereka dan balasan-Nya atas siapa pun yang mengusir mereka. Maka siapakah yang dapat menolong Nabi Nuh dari siksa Allah SWT seandainya ia mengusir me­reka?</p>
<p>Demikianlah Nabi Nuh menunjukkan bahwa permintaan kaumnya agar ia mengusir orang-orang mukmin adalah tindakan bodoh dari mereka. Nabi Nuh kembali menyatakan bahwa ia tidak dapat melakukan sesuatu yang di luar wewenangnya, dan ia memberitahu mereka akan kerendahannya dan kepatuhannya kepada Allah SWT. Ia tidak dapat melakukan sesuatu yang merupakan bagian dari kekuasaan Allah SWT, yaitu pemberian nikmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Ia tidak mengetahui ilmu gaib, karena ilmu gaib hanya khusus dimiliki oleh Allah SWT. Ia juga memberitahukan kepada mereka bahwa ia bukan seorang raja, yakni kedudukannya bukan seperti kedudukan para malaikat. Sebagian ulama berargumentasi dari ayat ini bahwa para malaikat lebih utama dari pada para nabi (silakan melihat tafsir Qurthubi).</p>
<p>Nabi Nuh berkata kepada mereka: “Sesungguhnya orang-orang yang kalian pandang sebelah mata, dan kalian hina dari orang-orang mukmin yang kalian remehkan itu, sesungguhnya pahala mereka itu tidak sirna dan tidak berkurang dengan adanya penghinaan kalian terhadap mereka. Sungguh Allah SWT lebih tahu terhadap apa yang ada dalam diri mereka. Dialah yang membalas amal mereka. Sungguh aku telah menganiaya diriku sendiri seandainya aku mengatakan bahwa Allah tidak memberikan kebaikan kepada mereka.”</p>
<p>Kemudian rezim penguasa mulai bosan dengan debat ini yang disampaikan oleh Nabi Nuh. Allah SWT menceritakan sikap mereka terhadap Nabi Nuh dalam flrman-Nya:</p>
<p>“Mereka berkata: ‘Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.’ Nuh menjawab: ‘Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri. Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasihatku jika aku hendak memberi nasihat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu. Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan. ” (QS. Hud: 32-34)</p>
<p>Nabi Nuh menambahkan bahwa mereka tersesat dari jalan Allah SWT. Allahlah yang menjadi sebab terjadinya segala sesuatu, namun mereka memperoleh kesesatan disebabkan oleh ikhtiar mereka dan kebebasan mereka serta keinginan mereka. Dahulu iblis berkata:</p>
<p>“Karena  Engkau telah menghukum  saya tersesat…” (QS. al-A’raf: 16)</p>
<p>Secara zahir tampak bahwa makna ungkapan itu berarti Allahlah yang menyesatkannya, padahal hakikatnya adalah bahwa Allah SWT telah memberinya kebebasan dan kemudian Dia akan meminta pertanggungjawabannya. Kita tidak sependapat dengan pandangan al-Qadhariyah, al-Mu’tazilah, dan Imamiyah. Mereka berpendapat bahwa keinginan manusia cukup sebagai kekuatan untuk melakukan perbuatannya, baik berupa ketaatan maupun kemaksiatan. Karena bagi mereka, manusia adalah pencipta per­buatannya. Dalam hal itu, ia tidak membutuhkan Tuhannya. Kami tidak mengambil pendapat mereka secara mutlak. Kami berpen­dapat bahwa manusia memang menciptakan perbuatannya namun ia membutuhkan bantuan Tuhannya dalam melakukanya</p>
<p>Alhasil, Allah SWT mengerahkan setiap makhluk sesuai dengan arah penciptaannya, baik pengarahann itu menuju kebaikan atau keburukan. Ini termasuk kebebasan sepenuhnya. Manusia memilih dengan kebebasannya kemudian Allah SWT mengerahkan jalan menuju pilihannya itu. Iblis memilih jalan kesesatan maka Allah SWT mengerahkan jalan kesesatan itu padanya, sedangkan orang-orang kafir dari kaum Nabi Nuh memilih jalan yang sama maka Allah pun mengerahkan jalan itu pada mereka.</p>
<p>Peperangan pun berlanjut, dan perdebatan antara orang-orang kafir dan Nabi Nuh semakin melebar, sehingga ketika argumentasi-argumentasi mereka terpatahkan dan mereka tidak dapat mengatakan sesuatu yang pantas, mereka mulai keluar dari batas-batas adab dan berani mengejek Nabi Allah.</p>
<p>“Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: ‘Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. al-A’raf: 60)</p>
<p>Nabi Nuh menjawab dengan  menggunakan sopan-santun para  nabi yang agung.</p>
<p>“Nuh menjawab: ‘Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikit pun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasihat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. al-A’raf: 61-62)</p>
<p>Nabi Nuh tetap melanjutkan dakwah di tengah-tengah kaumnya, waktu demi waktu, hari demi hari, dan tahun demi tahun. Berlalulah masa yang panjang itu, namun Nabi Nuh tetap menga­jak kaumnya. Nabi Nuh berdakwah kepada mereka siang malam, dengan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, bahkan ia pun memberikan contoh-contoh pada mereka. Ia menjelaskan kepada mereka tanda-tanda kebesaran Allah SWT dan kekuasaan-Nya di dunia. Namun setiap kali ia mengajak mereka untuk menyembah Allah SWT, mereka lari darinya, dan setiap kali ia mengajak mereka agar Allah SWT mengampuni mereka, mereka meletakkan jari-jari mereka di telinga-telinga mereka dan mereka menampakkan kesombongan di depan kebenaran. Allah SWT menceritakan apa yang dialami oleh Nabi Nuh dalam firman-Nya:</p>
<p>“Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan keterlaluan. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mere­ka dengan cara yang terang-terangan, kemudian aku menyeru mereka lagi dengan terang-terangan dan dengan diam-diam, maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesung­guhnya Dia adalah Maha Pengampun. Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.’” (QS. Nuh: 5-12)</p>
<p>Namun apa jawaban kaumnya?</p>
<p>“Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku, dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka. Mereka telah melakukan tipu-daya yang amat besar. Dan mereka berkata: ‘Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali meninggalkan (pen­yembahan) wadd, suwa, yaghuts, yauq, dan nasr. Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang lalim itu selain kesesatan,’” (QS. Nuh: 21-24)</p>
<p>Nuh tetap melanjutkan dakwah di  tengah-tengah kaumnya  selama 950 tahun. Allah SWT berfirman:</p>
<p>“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. ” (QS. aPAnkabut: 14)</p>
<p>Sayangnya, jumlah kaum mukmin tidak bertambah sedangkan jumlah kaum kafir justru bertambah. Nabi Nuh sangat sedih namun ia tidak sampai kehilangan harapan. la senantiasa mengajak kaumnya dan berdebat dengan mereka. Namun kaumnya selalu menghadapinya dengan kesombongan, kekufuran, dan penentangan. Nabi Nuh sangat bersedih terhadap kaumnya namun ia tidak sampai berputus asa. la tetap menjaga harapan selama 950 tahun. Tampak bahwa usia manusia sebelum datangnya topan cukup panjang. Dan barangkali usia panjang bagi Nabi Nuh merupakan mukjizat khusus baginya.</p>
<p>Datanglah hari di mana Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Nuh bahwa orang-orang yang beriman dari kaumnya tidak akan bertambah lagi. Allah SWT mewahyukan kepadanya agar ia tidak bersedih atas tindakan mereka. Maka pada saat itu, Nabi Nuh berdoa agar orang-orang kafir dihancurkan. la berkata:</p>
<p>“Ya Tuhanku, janganlah Engkau   biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas  bumi.” (QS.  Nuh: 26)</p>
<p>Nabi  Nuh membenarkan doanya  dengan alasan:</p>
<p>“Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat dan kafir. ” (QS. Nuh: 27)</p>
<p>Allah SWT berfirman dalam  surah  Hud:</p>
<p>“Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasannya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang-orang yang telah beriman saja, karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang lalim itu. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (QS. Hud: 36-37)</p>
<p>Kemudian Allah SWT menetapkan hukum-Nya atas orang-orang kafir, yaitu datangnya angin topan. Allah SWT memberitahu Nuh, bahwa ia akan membuat perahu ini dengan “pengawasan Kami dan wahyu kami,” yakni dengan ilmu Allah SWT dan pengajaran-Nya, serta sesuai dengan pengarahan-Nya dan bantuan para malaikat.</p>
<p>Allah SWT menetapkan  perintah-Nya  kepada Nuh:</p>
<p>“Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang lalim itu. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (QS. Hud: 37)</p>
<p>Allah SWT menenggelamkan orang-orang yang lalim, apa pun kedudukan mereka dan apa pun kedekatan mereka dengan Nabi. Allah SWT melarang Nabi-Nya untuk berdialog dengan mereka atau menengahi urusan mereka. Nabi Nuh mulai menanam pohon untuk membuat perahu darinya. Ia menunggu beberapa tahun, kemudian ia memotong apa yang ditanamnya dan mulai merakitnya. Akhirnya, jadilah perahu yang besar, yang tinggi, dan kuat.</p>
<p>Para mufasir berbeda pendapat tentang besarnya perahu itu, bentuknya, masa pembuatannya, tempat pembuatannya dan lain-lain. Berkenaan dengan hal tersebut Fakhrur Razi berkata: “Ketahuilah bahwa pembahasan ini tidak menarik bagiku karena ia merupakan hal-hal yang tidak perlu diketahuinya. Saya kira mengetahui hal tersebut hanya mendatangkan manfaat yang sedikit.” Mudah-mudahan Allah SWT merahmati Fakhrur Razi yang menyatakan kebenaran dengan kalimatnya itu. Kita tidak mengetahui hakikat perahu ini, kecuali apa yang telah Allah SWT ceritakan kepada kita tentang hal itu. Misalnya, kita tidak mengetahui dimana ia dibuat, berapa panjangnya atau lebarnya, dan kita secara pasti tidak mengetahui selain tempat yang ditujunya setelah ia berlabuh.</p>
<p>Allah SWT tidak memberikan keterangan secara detail berkenaan dengan hal tersebut yang tidak memberikan kepentingan pada kandungan cerita dan tujuannya yang penting. Nabi Nuh mulai membangun perahu, lalu orang-orang kafir lewat di depannya saat ia dalam keadaan serius membuat perahu. Saat itu, cuaca atau udara sangat kering, dan di sana tidak terdapat sungai atau laut yang dekat. Bagaimana perahu ini akan berlayar wahai Nuh? Apakah ia akan berlayar di atas tanah? Di manakah air yang memungkinkan bagi perahumu untuk belayar? Sungguh Nuh telah gila! Orang-orang kafir semakin tertawa terbahak-bahak dan semakin mengejek Nabi Nuh.</p>
<p>Puncak pertentangan dalam kisah Nabi Nuh tampak dalam masa ini. Kebatilan mengejek kebenaran dan cukup lama menertawakan kebenaran. Mereka menganggap bahwa dunia adalah milik mereka dan bahwa mereka akan selalu mendapatkan keamanan dan bahwa siksa tidak akan terjadi. Namun anggapan mereka itu tidak terbukti. Datangnya angin topan menjungkirbalikkan semua perkiraan mereka. Saat itu, orang-orang mukmin mengejek balik orang-orang kafir dan ejekan mereka adalah kebenaran. Allah SWT berfirman:</p>
<p>“Dan mulailah Nuh membuat bahtera itu. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan metewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: ‘Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) akan mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek kami. Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakan dan yang akan ditimpa azab yang kekal.” (QS. Hud: 38-39)</p>
<p>Selesailah pembuatan perahu dan duduk menunggu perintah Allah SWT. Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Nuh bahwa jika ada yang mempunyai dapur, maka ini sebagai tanda dimulainya angin topan. Di sebutkan bahwa tafsiran dari at-Tannur ialah oven (alat untuk memanggang roti) yang ada di dalam rumah Nabi Nuh. Jika keluar darinya air dan ia lari maka itu merupakan perintah bagi Nabi Nuh untuk bergerak. Maka pada suatu hari tannur itu mulai menunjukkan tanda-tandanya dari dalam rumah Nabi Nuh, lalu Nabi Nuh segera membuka perahunya dan mengajak orang-orang mukmin untuk menaikinya. Jibril turun ke bumi. Nabi Nuh membawa burung, binatang buas, binatang yang berpasang-pasangan, sapi, gajah, semut, dan lain-lain. Dalam perahu itu, Nabi Nuh telah membuat kandang binatang buas.</p>
<p>Jibril menggiring setiap dua binatang yang berpasangan agar setiap spesies binatang tidak punah dari muka bumi. Ini berarti bahwa angin topan telah menenggelamkan bumi semuanya, kalau tidak demikian maka buat apa ia harus mengangkut jenis binatang-binatang itu. Binatang-binatang mulai menaiki perahu itu beserta orang-orang yang beriman dari kaumnya. Jumlah orang-orang mukmin sangat sedikit. Allah SWT berfirman:</p>
<p>“Hingga apabila perintah Kami datang dan tannur telah memancarkan air, Kami berfirman: ‘Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkanlah pula) orang-orang yang beriman.’ Dan tidak beriman bersama Nuh itu kecuali sedikit. ” (QS. Hud: 40)</p>
<p>Istri Nabi Nuh tidak beriman kepadanya sehingga ia tidak ikut menaiki perahu, dan salah satu anaknya menyembunyikan kekafirannya dengan menampakkan keimanan di depan Nabi Nuh, dan ia pun tidak ikut menaikinya. Mayoritas manusia saat itu tidak ber­iman sehingga mereka tidak turut berlayar. Hanya orang-orang mukmin yang mengarungi lautan bersamanya. Ibnu Abbas berkata: “Terdapat delapan puluh orang dari kaum Nabi Nuh yang beriman kepadanya.”</p>
<p>Air mulai meninggi yang keluar dari celah-celah bumi. Tiada satu celah pun di bumi kecuali keluar air darinya. Sementara dari langit turunlah hujan yang sangat deras yang belum pernah turun hujan dengan curah seperti itu di bumi, dan tidak akan ada hujan seperti itu sesudahnya. Lautan semakin bergolak dan ombaknya menerpa apa saja dan menyapu bumi. Perut bumi bergerak dengan gerakan yang tidak wajar sehingga bola bumi untuk pertama kalinya tenggelam dalam air sehingga ia menjadi bola air. Allah SWT berfirman:</p>
<p>“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku. (QS. al-Qamar: 11-13)</p>
<p>Air meninggi di atas kepala manusia, dan ia melampaui ketinggian pohon, bahkan puncak gunung. Akhirnya, permukaan bumi diselimuti dengan air. Ketika mula-mula datang topan, Nabi Nuh memanggil-manggil putranya. Putranya itu berdiri agak jauh dari­nya. Nabi Nuh memanggilnya dan berkata:</p>
<p>“Hai anakku, naiklah (ke  kapal)  bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang  kafir.” (QS.  Hud: 42)</p>
<p>Anak  itu menjawab ajakan ayahnya:</p>
<p>“Aku akan mencari perlindungan ke  gunung yang dapat  memeliharaku dari air bah.” (QS. Hud: 43)</p>
<p>Nabi Nuh kembali menyerunya:</p>
<p>“Tidak add yang melindungi hari  ini dari azab Allah  selain orang yang dirahmati-Nya. ” (QS. Hud: 43)</p>
<p>Selesailah dialog antara Nabi Nuh  dan  anaknya.</p>
<p>“Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. ” (QS. Hud: 43)</p>
<p>Perhatikanlah ungkapan AI-Qur’an al-Karim: Dan gelombang men­jadi penghalang antara keduanya. Ombak tiba-tiba mengakhiri dia­log mereka. Nabi Nuh mencari, namun ia tidak mendapati anak­nya. Ia tidak menemukan selain gunung ombak yang semakin meninggi dan meninggi bersama perahu itu. Nabi Nuh ddak dapat melihat segala sesuatu selain air. Allah SWT berkehendak—sebagai rahmat dari-Nya—untuk menenggelamkan si anak jauh dari penglihatan si ayah. Inilah kasih sayang Allah SWT terhadap si ayah. Anak Nabi Nuh mengira bahwa gunung akan mencegahnya dari kejaran air namun ia pun terkejar dan tenggelam. Angin topan terus berlanjut dan terus membawa perahu Nabi Nuh. Setelah berlalu beberapa saat, pemandangan tertuju kepada bumi yang telah musnah sehingga tiada kehidupan kecuali sebagian kayu yang darinya Nabi Nuh membuat perahu di mana ia menyelamatkan orang-orang mukmin, begitu juga berbagai binatang yang ikut bersama mereka. Adalah hal yang sulit bagi kita untuk membayangkan kedahsyatan topan itu. Yang jelas, ia menunjukkan kekuasaan Pencipta. Perahu itu berlayar dengan mereka dalam ombak yang laksana gunung. Sebagian ilmuwan meyakini bahwa terpisahnya beberapa benua dan terbentuknya bumi dalam rupa seperti sekarang adalah sebagai akibat dari topan yang dahulu.</p>
<p>Topan yang dialami oleh Nabi Nuh terus berlanjut dalam beber­apa zaman di mana kita tidak dapat mengetahui batasnya. Kemudian datanglah perintah Ilahi agar langit menghentikan hujannya dan agar bumi tetap tenang dan menelan air itu, dan agar kayu-kayu perahu berlabuh di al-Judi, yaitu nama suatu tempat di zaman dahulu. Ada yang mengatakan bahwa ia adalah gunung yang terletak di Irak. Dengan datangnya perintah Ilahi, bumi kembali menjadi tenang dan air menjadi surut. Topan telah menyucikan bumi dan membasuhnya. Allah SWT berfirman:</p>
<p>“Dan difirmankan: ‘Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,’ dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan dan bahtera itu pun berlabuh di atas bukitjudi. Dan dikatakan: ‘Binasalah orang-orang yang lalim. ” (QS. Hud: 44)</p>
<p>Dan air pun disurutkan, yakni air berkurang dan kembali ke celah-celah bumi. Segala urusan telah diputuskan dan orang-orang kafir telah hancur sepenuhnya. Dikatakan bahwa Allah SWT me-mandulkan rahim-rahim wanita selama empat puluh tahun sebelum datangnya topan, karena itu tidak ada yang terbunuh seorang anak bayi atau anak kecil.</p>
<p>Firman-Nya: Dan bahtera itu pun berlabuh di atas bukit judi, yakni ia berlabuh di atasnya. Di sebutkan bahwa hari itu bertepatan dengan hari Asyura’ (hari kesepuluh dari bulan Muharam). Lalu Nabi Nuh berpuasa dan memerintahkan orang-orang yang bersamanya untuk berpuasa juga.</p>
<p>Dikatakan: ‘Binasalah orang-orang yang lalim, ‘yakni kehancuran bagi mereka. Topan menyucikan bumi dari mereka dan membersihkannya. Lenyaplah peristiwa yang mengerikan dengan lenyapnya topan. Dan berpindahlah pergulatan dari ombak ke jiwa Nabi Nuh. Ia mengingat anaknya yang tenggelam. Nabi Nuh tidak mengetahui saat itu bahwa anaknya menjadi kafir. Ia menganggap bahwa anak­nya sebagai seorang mukmin yang memilih untuk menyelamatkan diri dengan cara berlindung kepada gunung. Namun ombak telah mengakhiri percakapan keduanya sebelum mereka menyelesaikannya. Nabi Nuh tidak mengetahui seberapa jauh bagian keimanan yang ada pada anaknya. Lalu bergeraklah naluri kasih sayang dalam hati sang ayah. Allah SWT berfirman:</p>
<p>“Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya. ” (QS. Hud: 45)</p>
<p>Nuh ingin berkata kepada Allah SWT bahwa anaknya termasuk dari keluarganya yang beriman dan Dia menjanjikan untuk menye­lamatkan keluarganya yang beriman. Allah SWT berkata dan menjelaskan kepada Nuh keadaan sebenarnya yang ada pada anaknya:</p>
<p>“Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan). Sesungguhnya perbuatannya tidak baik. Sebab itu, janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikatnya). Aku memperingatkan kepa-damu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.’” (QS. Hud: 46)</p>
<p>Al-Qurthubi berkata—menukil dari guru-gurunya dari kalangan ulama—ini adalah pendapat yang kami dukung: “Anaknya berada di sisinya (yakni bersama Nabi Nuh dan dalam dugaannya ia seorang mukmin). Nabi Nuh tidak berkata kepada Tuhannya: “Sesungguhnya anakku termasuk keluargaku,” kecuali karena ia memang menampakkan hal yang demikian kepadanya. Sebab, mustahil ia meminta kehancuran orang-orang kafir kemudian ia meminta agar sebagian mereka diselamatkan.”</p>
<p>Anaknya menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keimanan. Lalu Allah SWT memberitahukan kepada Nuh ilmu gaib yang khusus dimiliki-Nya. Yakni Allah SWT memberitahunya keadaan sebenarnya dari anaknya. Allah SWT ketika menasihatinya agar jangan sampai ia menjadi orang-orang yang tidak mengerti. Dia ingin menghilangkan darinya anggapan bahwa anaknya beriman kemudian mati bersama orang-orang kafir.</p>
<p>Di sana terdapat pelajaran penting yang terkandung dalam ayat-ayat yang mulia itu, yang menceritakan kisah Nabi Nuh bersama anaknya. Allah SWT ingin berkata kepada Nabi-Nya yang mulia bahwa anaknya bukan termasuk keluarganya karena ia tidak beriman kepada Allah SWT. Hubungan darah bukanlah hubungan hakiki di antara manusia. Anak seorang nabi adalah anaknya yang meyakini akidah, yaitu mengikuti Allah SWT dan nabi, dan bukan anaknya yang menentangnya, meskipun berasal dari sulbinya. Jika demikian seorang mukmin harus menghindar dari kekufuran. Dan di sini juga harus di teguhkan hubungan sesama akidah di antara orang-orang mukmin. Adalah tidak benar jika hubungan sesama mereka dibangun berdasarkan darah, ras, warna kulit, atau tempat tinggal.</p>
<p>Nabi Nuh memohon ampun kepada Tuhannya dan bertaubat kepada-Nya. Kemudian Allah SWT merahmatinya dan memerintahkannya untuk turun dari perahu dalam keadaan dipenuhi dengan keberkahan dari Allah SWT dan penjagaan-Nya:</p>
<p>“Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikatnya). Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh mbelas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi. ” (QS. Hud: 47) “Difirmankan: ‘Hai Nuh, turunlah dengan selamat dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang beriman) dari orang-orang yang bersamamu.’” (QS. Hud: 48)</p>
<p>Nabi Nuh turun dari perahunya dan ia melepaskan burung-burung dan binatang-binatang buas sehingga mereka menyebar ke bumi. Setelah itu, orangorang mukmin juga tumn. Nabi Nuh meletakkan dahinya ke atas tanah dan bersujud. Saat itu bumi masih basah karena pengaruh topan. Nabi Nuh bangkit setelah salatnya dan menggali pondasi untuk membangun tempat ibadah yang agung bagi Allah SWT. Orang-orang yang selamat menyalakan api dan duduk-duduk di sekelilinginya. Menyalakan api sebelumnya di larang di dalam perahu karena dikhawatirkan api akan menyentuh kayu-kayunya dan membakarnya. Tak seorang pun di antara mereka yang memakan makanan yang hangat selama masa topan.</p>
<p>Berlalulah hari puasa sebagai tanda syukur kepada Allah SWT. Al-Qur’an tidak lagi menceritakan kisah Nabi Nuh setelah topan sehingga kita tidak mengetahui bagaimana peristiwa yang dialami Nabi Nuh bersama kaumnya. Yang kita ketahui atau yang perlu kita tegaskan bahwa Nabi Nuh mewasiatkan kepada putra-putranya saat ia meninggal agar mereka hanya menyembah Allah SWT.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakradyant.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakradyant.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakradyant.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakradyant.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cakradyant.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cakradyant.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cakradyant.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cakradyant.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakradyant.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakradyant.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakradyant.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakradyant.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakradyant.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakradyant.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakradyant.wordpress.com&amp;blog=11845722&amp;post=38&amp;subd=cakradyant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakradyant.wordpress.com/2010/02/26/kisah-nabi-nuh-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fd55fedb4577ed5e006373db13073443?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cakradyant</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
